Ilustrasi

Oleh : NS Rahayu

Mediaoposisi.com-Indonesia saat ini adalah pasar dan ladang menggiurkan bagi sindikat narkoba internasional. Dari tahun ke tahun bukan berkurang justru makin marak dan bertambah dengan jumlah yang fantastis. Maka lebih tepat sebagai banjir narkoba di tahun 2018. Media banyak mengurai tentang hasil tangkapan narkoba ilegal (selundupan) dengan jumlah yang di luar batas kewajaran.

Dalam hitungan dua pekan narkoba dalam jumlah sangat besar masuk (diselundupkan) ke Indonesia. Di awal Februari, penyelundupan sabu seberat 1 ton berhasil digagalkan, pekan berikutnya sabu seberat 1,6 ton juga berhasil digagalkan masuk Indonesia. Terbaru sabu diduga seberat 3 ton juga digagalkan masuk ke tanah air.

Dan masih ada dugaan  Bamsoet (Bambang Susetya) yang mengaku mendapat informasi dari Kepala BNN Budi Waseso. Diduga masih ada sekitar 600 ton bahan baku sabu berkualitas tinggi senilai Rp 1.200 triliun atau hampir setengah dari total ABPN Indonesia, siap memasuki wilayah Indonesia.

Masuknya narkoba dalam jumlah yang fantastis ini tentunya sangat meresahkan masyarakat. Banjir narkoba yang masuk ke wilayah Indonesia ini untuk apa?

Dan bagaimana bisa negara kecolongan? Hal ini makin  menunjukkan lemahnya keamanan negara, karena kapal-kapal WNA yang membawa narkoba berton-ton bisa masuk dengan mudahnya ke Indonesia.



Sehingga sangatlah wajar ketika banyak komentar dan opini negatif terkait peran para pejabat dan presiden RI dalam menindak lanjuti permasalahan yang ada. Negara terlihat abai, bukti negara lemah dan gagal sebagai pelindung (junnah) dan pengurus rakyatnya (rain).

 Wakil Ketua DPR Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra), Fahri Hamzah mengaku sangat prihatin dengan temuan ini menunjukkan negara tanpa pemimpin. "Kita kehilangan panglima, kita tidak punya pemimpin, presiden kita tidak tahu bahwa ini ada perang.

 Invansi kepada Indonesia melalui semua jalur telah terjadi baik ekonomi, ideologi dan politik," kata Fahri Hamzah lewat pesan singkatnya yang diterima wartawan, Minggu (25/2).

Fahri menyebut narkoba ini termasuk invasi produk-produk berbahaya, karena efek dari open sky. Sehingga negara-negara yang memiliki kebijakan untuk melancarkan perang candu, mengirim produk-produk berbahaya kepada Indonesia supaya bangsa ini nantinya lumpuh."Nah, dalam suasana perang seperti ini, mana presidennya, dan apa komandonya?” (Jurnalindonesia.co.id, Minggu 25/2/2018).

Dengan tertangkapnya peredaran berton-ton narkoba seharusnya bisa membuat Negara memberikan ketegasan dalam proses hukum dan memberikan hukuman berat bagi semua orang yang terlibat (jika perlu hukuman mati) sebagai bukti bahwa Negara peduli terhadap keamanan dan perlindungan pada rakyat dan generasi.

Indonesia darurat Narkoba! Seruan ini sudah ada sejak periode Suharto tahun 1971. Artinya sudah sejak lama gelontoran naorkoba dari luar yang masuk namun hingga sekarang belum ada jerat hukum yang bisa memutus mata rantai peredaran Narkoba.

Pemakai dan korban narkoba terus meningkat tanpa memilih segmen, pria wanita, dari anak-anak sampai orang tua, warga kelas bawah hingga artis dan pejabat sudah banyak berjatuhan silih berganti.

Bertahun-tahun tanpa penyelesaian tuntas bahkan sekarang justru “banjir narkoba” siapa sebenarnya yang disasar? Tentu umat dan generasi muslim. Narkoba menjadi amunisi ampuh untuk melemahkan fisik dan melumpuhkan cara berfikir umat agar tidak mampu untuk bangkit.

Ketergantungan pada zat psikotropika ini akan menyibukkan mereka untuk memenuhinya, sehingga akal dan cara berfikir mereka tak lagi bisa melihat permasalahan sesungguhnya yang menyerang kehidupan ini.



Banjir nakoba bukan tanpa sebab, kapitalisme sekuler yang berazaskan manfaat hanya melihat nilai materinya (keuntungan). Selama ada permintaan (demand) maka akan pemasukan (supply) tanpa memperhatikan berakibat pada rusak dan lemahnya generasi. Padahal dalam Islam generasi merupakan ujung tombak peradaban. Narkoba menjadi serangan mematikan keberlangsungan peradaban.

Islam memandang zat yang memabukkan dalam al-Quran disebut khamr, artinya sesuatu yang dapat menutup akal. Abdullah bin Umar ra. menuturkan Rasulullah saw  bersabda: Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw juga bersabda mengutuk sepuluh orang yang karena khamr: pembuatnya, pengedarnya, peminumnya, pembawanya, pengirimnya, penuangnya, penjualnya, pemakan hasil penjualannya, pembelinya dan pemesannya. (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Sistem sanksi Hukum Islam bahwa setiap orang yang menggunakan Narkoba dikelompokkan sebagai perbuatan kriminal, dan sanksi yang diberikan negara bisa berupa jilid (cambuk) atau penjara hingga lima belas tahun, dan denda yang ukurannya diserahkan kepada qadli. Demikian pula bagi orang turut serta menjualbelikannya. (Abdurrahaman Al Maliki dalam buku  Nidzomul ‘Uquubat, 2004:189).

Pemberantasan yang dapat mematikan mata rantai narkoba harus dilakukan oleh negara. Penegakan atau supremasi hukum dari penguasa yang tegas dan adil bagi pengedar narkoba, adalah dengan memberlakukan hukum ta’zir berupa tahanan selama 15 tahun hingga hukuman mati.

Penerapan sanksi tersebut selain sebagai penebus dosa bagi sang pelaku, juga bertujuan untuk mencegah atau memberikan efek jera bagi anggota masyarakat lainnya.

Islam telah memberikan panduan dalam penerapan hukum semua pelaku narkoba, sehingga kehidupan manusia dapat menjadi lebih baik. Hanya dengan menegakkan syariat Islamlah kemaslahatan umat terwujud.[MO]




Posting Komentar