Oleh: Afi
(Anggota Komunitas Masyarakat Tanpa Riba)


Mediaoposisi.com- "PT Pertamina (Persero) melakukan menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya jenis Pertalite sebesar Rp 200 per liter di SPBU seluruh Indonesia." Kata External Communication Manager Pertamina Arya Paramita kepada JawaPos.com, sabtu (24/3). Kabar ini menjadi animo suram bagi mayoritas masyarakat Indonesia.

Seperti godam yang diluncurkan ke dada rakyat yang mayoritas taraf hidupnya menengah ke bawah. Kenaikan BBM jenis Pertalite ini terjadi menyusul kenaikan Pertamax pada februari lalu.

Seolah iri, dengan Pertamax, maka dengan masygul Pertalite naik. Sungguh, kenaikan harga BBM tersembunyi, halus dan nyaris tanpa suara. Dengan dalih penyesuaian harga dengan harga minyak dunia.

Ditambah, tak ada lagi wakil rakyat yang berurai air mata karena kenaikan ini, tak ada juga wakil rakyat yang walk out  saat kenaikan BBM terjadi. Dan juga tidak ada geliat masyarakat yang protes atas kebijakan ini, kalaupun ada protes akan terjadi pembungkaman suara saat masyarakat protes.

Sebenarnya, apa yang disebut penyesuaian harga itu benar adanya, karena saat ini sedang ada yang merayakan kesuksesannya atas pencabutan subsidi BBM.

Otomatis, saat subsidi BBM telah tercabut, maka harga sangat bergantung patokan harga pasar Internasional.

Yah, BBM murni menjadi komoditi penting yang harus ditanggung oleh rakyat. Saat terjadi kenaikan, meski penderitaan bertambah, rakyat masih bisa terpaksa legowo jika stok yang beredar memadai.

Tidak menghilang dari pasar. Jadi, penerimaan rakyat atas kenaikan BBM adalah penerimaan yang 100% karena terpaksa.

Sementara untuk meraih penghasilan yang di level mencukupi kebutuhan pokok, mayoritas masyarakat masih Senin Kamis, alias kembang kempis.

Dan menjadi sebuah keniscayaan, saat BBM naik, harga sembako ikut melambung. Meski hanya Rp 200 per liter, saat masuk tangki transportasi, itu akan diakumulasikan sebagai beban penumpang.

Apakah itu transportasi pribadi ataukah umum. Terlebih umum, tentu tarif akan naik bagi penumpang. Jika mengangkut barang, akan ditambahkan pada barang tersebut.

Ya bagitulah kiranya siklus efek domino itu.

Kalau ada yang menyatakan "uang 200 perak saja ribut.
Dikembalikan permen oleh supermarket diam, BBM naik 200 ngomel." Tentu pernyataan ini semakin menambah penderitaan.

Efek domino kenaikan BBM sangat besar. Sementara dikembalikan permen, tak akan menaikkan harga sembako. Tentu kenaikan BBM yang berulang ini semakin menambah penderitaan rakyat.

BBM Adalah Harta Milik Umum

Kepemilikan dalam Negara yang menganut Sistem Ekonomi Kapitalisme adalah bagi siapa saja yang memiliki modal.

Orang yang memiliki kekayaan finansial bisa memiliki apa saja termasuk harta yang seharusnya menjadi kepemilikan umum. Gunung, hutan, pulau, tambang boleh saja dimiliki individu asal ada uang.

Bahkan memiliki tiga pulau sekaligus sangat memungkinkan jika finansialnya kuat.
Pengurangan bahkan pencabutan subsidi oleh pemerintah adalah bukti  privatisasi terhadap harta milik umum, termasuk pada BBM ini.

Pengurangan atau pencabutan subsidi adalah simbol berkuasanya finansial, pengukuhan atas pemilik modal untuk memiliki aset penting di  negeri ini, yang seharusnya menjadi milik masyarakat umum.

Premium di berbagai wilayab sungguh langka, tentu ini semakin membuktikan kepada siapa penguasa memihak. Pengurangan dan pencabutan subsidi itu juga sebuah aktivitas berlepas tangannya Negara atas urusan rakyat. Maka penderitaan ini semakin menguat.

Hal ini sangat berbeda dengan Sistem Ekonomi Islam. Dalam Sistem Ekonomi Islam yang agung, harta kepemilikan menjadi tiga. Yaitu:

1. Harta Kepemilikan Individu

Harta kepemilikan individu ini bisa diperoleh dari bekerja, berniaga, hadiah, waris,hibah, zakat jika dia mustahiq.

2. Harta Kepemilikan Umun

Yang termasuk harta kepemilikan umum mengacu pada hadits baginda Nabi Muhammad SAW bahwa: "Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang gembala, dan api." Maka, BBM ini masuk dalan katagori api.

Dimana Negara harus sepenuhnya mengelola dan mendistribusikannya kepa
umber dari fa'i, jizyah, khoroj, ghonimah, dan zakat. Namun zakat ini akan langsung disebarkan kepada delapan ashnaf sesuai dengan nash Al Qur'an.

Sungguh BBM adalah harta kepemilikan umum yang seharusnya bisa dinikmati oleh masyarakat secara cuma-cuma atau gratis. Kalaupun berbayar, maka akan ditarif dengan harga yang sangat rendah sebagai ganti ongkos produksi.

Lebih dari itu, Negara tidak akan membiarkan sedikitpun rakyatnya terlantar apalagi menderita. Sistem Ekonomi Indonesia akan lebih baik jika menerapkan aturan Dzat Yang Maha Baik, aturan yang berasal dari Allah SWT.

Bahkan saat Negara dengan sukarela menerapkan aturan yang bersumber dari Allah semata, keberkahan dari langit dan bumi akan menaungi ummat manusia.[MO/br]

Posting Komentar