Banjir
Oleh : Sahna Salfini Husyairoh
(Mahasiswi Universitas Jember)

Mediaoposisi.com- Kota yang indah dan bersih suatu hal yang di idam-idamkan oleh setiap orang, namun hal itu tak seindah yang kita kira, bencana lama terutama banjir banyak terjadi di ibu kota tercinta. Salah satunya banjir dan longsor di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, masih status siaga darurat hingga 31 Maret.

Kondisi tersebut tidak terlepas dengan kondisi cuaca yang hingga saat ini intensitas curah hujan relatif masih tinggi (mediaindonesia.com).


Banjir memang membuat sengsara, air kotor menggenang dan masuk ke rumah, perabotan rumah pun menjadi basah serta tidak dapat dipakai kembali.  Aktivitas manusia pun jadi terganggu, listrik mati, telepon mati, jalanan macet, PAM mati, dan aktivitas perekonomian juga  terhambat. Akibat banjir juga membuat harga sembako naik.

Apakah kita hanya diam saja dan menganggap hal ini sepele sehingga tidak menghiraukan?

Memang bencana itu datang karena kehendak Allah SWT. Tetapi kita perlu berupaya untuk mengatasi banjir agar tidak terus terjadi. Sebenarnya banjir itu bukan fenomena alam yang tiba-tiba terjadi tetapi dampak dari debit air yang berasal dari air hujan, dan limpahan daerah hulu lebih besar daripada air yang meresap, menguap, atau dibuang.

Sehingga perlu penanganan yang tepat misal teknologi yang berguna mengendalikan peresapan dan pembuangan air. Teknologi penanganan banjir sangat banyak, contohnya peresapan dan pembuangan. Teknologi peresapan yang terbaik yaitu Penghutanan dengan cara memperbanyak penanaman pohon-pohon di lahan kosong terutama di daerah hulu.

Kemudian pembuangan yaitu membuang kelebihan air yang terdapat di permukaan ke laut, jika debit air terlalu besar sehingga sungai tidak mampu menahan air, perlu teknologi yang mengatasi seperti pembuatan situ, kanalisasi, pompanisasi, dan tanggul.

Penanganan terbaik juga harus diatur dengan baik. Perlu sistem yang mengatur penanganan tersebut, karena apabila tidak diatur dengan baik tidak akan berjalan dengan optimal.

Banjir juga harus dicegah dengan sistem pengelolaan sampah,  sistem tata ruang kota, dan sistem edukasi bencana. Sehingga manusia tidak seenaknya membuang sampah sembarangan, membangun rumah atau pertokoan di daerah resapan, dan memiliki kepedulian terhadap dampak bencana alam.

Namun, sistem tersebut tidak akan berjalan apabila kebijakan pemerintah tidak tegas bahkan membiarkan para korporasi bertindak semena-mena tanpa berfikir AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) atas usaha yang didirikan di daerah resapan.

Kebijakan penguasa yang pro terhadap kapitalis tidak akan mungkin meninggalkan benefit yang akan diterima. Sehingga dapat disimpulkan meskipun para ahli dengan teknologi yang tepat sasaran tak mungkin dipakai jika materi yang menjadi tolok ukur.

Oleh karena itu, sistem akan berjalan jika diatur dengan Aturan yang Maha Kuasa. Aturan yang tidak akan mendzalimi umat manusia. Menyejahterakan umat dan semesta alam. Sistem dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah.

Pernah diterapkan selama 14 abad, bukti yang menakjubkan. Islam pun memiliki aturan dalam menangani irigasi dan teknologinya, semua terbukti selama abad kejayaan tersebut. Semoga Allah memberi kesempatan kemenangan Islam terwujud kembali.

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…”(QS Al Maidah ayat 49) [MO]

Posting Komentar