Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com- Ekonomi berbasis ribawi mulai dikampanyekan lebih masif dalam era Jokowi. Jokowi memnuculkan ide untuk memberikan pinjaman kepada mahasiswa dari perbankan. Ide kontroversial tersebut diungkapkan Presiden Joko Widodo saat bertemu petinggi perbankan Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/3).

Jokowi pun meminta perbankan mengeluarkan produk finansial baru berupa kredit pendidikan atau student loan. "Saya ingin memberi PR kepada bapak ibu sekalian. Dengan yang namanya student loan atau kredit pendidikan," kata Jokowi.

Kebijakan ini sendiri memiliki jejak hitam, di Amerika Serikat dikutip dari Forbes.com bahwa di Amerika Serikat yang telah menerapkan student loan, terjadi penumpukan hutang senilai 1,3 T US$.
Tidak hanya itu, berikut penelusuran Mediaoposisi.com.

Kampanye Riba

Bukan rahasia lagi, bila riba sudah menjadi makanan sehari hari ekonomi Indonesia. Dikutip dari CNBC Indonesia, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menilai, bunga pinjaman pendidikan tetap diadakan dalam kebijakan kontroversial tersebut.

"Paling make sense [bunga pinjaman pendidikan] itu 2%. Kalau dikenakan tinggi, bisa menjadi masalah," kata Piter saat berbincang dengan CNBC Indonesia, Jumat (16/3).

Hal ini menuai kecaman dari berbagai kalangan, salah satunya Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, Mustolih Siradj . Ia menentang kebijakan tersebut karena berbau riba.

Namun, ia mengapresiasi gagasan tersebut bila diniatkan untuk membantu akses pendidikan.
“Dengan catatan pada praktiknya gagasan ini nantinya menjangkau semua kalangan. Selain itu harus dibuka keran menggunakan skema syariah yang bebas riba,” katanya saat dihubungi Kiblat.net, Senin, (19/03).

Tak heran, muncul anggapan bahwa riba adalah keharusan dalam melakukan kegiatan ekonomi di Indponesia.

Mengekang Lulusan
Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jimmy Ph Paat mempertanyakan tujuan dari gagasan student loan.

Dikutip dari tirto.id. Jimmy menilai mahasiswa yang sudah lulus belum tentu mendapat pekerjaan dengan penghasilan yang tinggi. Ia memaparkan bahwa rata rata lulusan S-1 penghasilannya sekitar Rp3-5 juta per bulan.

“Di Indonesia itu tamatan S1 itu berapa gajinya? Dan [gaji] orang rata-orang yang saya ketemu hanya Rp4 atau 5 juta atau di bawahnya. Jarang sekali mereka mendapat penghasilan langsung Rp10 juta. “ tegasnya.

Ia juga mengamini bahwa kebijakan kontroversial tersebut akan membebani hidup lulusan S-1 karena dituntut mengembalikan pinjaman tersebut dan bunganya.

“Saya enggak tahu nanti konsep pinjamannya berapa lama, dia kembalikan berapa. Bahkan Gaji sarjana pendidikan yang jadi guru honor di Tangerang bisa Rp350 ribu hingga 900rb/bulan, pasti sulit,” imbuhnya.

Muncul pertanyaan, dimanakah peran negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bila pelajar “dipaksa” belajar untuk membayar hutang semata ?[MO].

referensi
https://www.kiblat.net/2018/03/19/kredit-pendidikan-ribawisasi-dunia-pelajar/

Posting Komentar