Ilustrasi


Oleh: Heni Ummu Ghooziyah
(Praktisi HS Anak Tangguh dan anggota Akademi Menulis Kreatif)


Mediaoposisi.com- Fenomena nge-hitsnya film "Dilan 1990" nampaknya membuat Jokowi terlupa akan pembantaian yang terjadi di Ghouta. Jika dahulu film percintaan remaja paling banyak digemari oleh para remaja, kini agaknya para orangtua juga mulai terjangkit virusnya.

Seperti diketahui Jokowi bersama putrinya Kahiyang Ayu dan menantunya Bobby Nasution rela menyempatkan waktunya untuk nonton bioskop bareng, "Dilan 1990" pada, Minggu (25/2/2018) di Senayan City, Jakarta Selatan.

Jokowi tampak sumringah setelah menonton film tersebut. Ia mengungkapkan kerinduan kepada istrinya, Iriana karena sudah dua hari mereka tak bertemu. Film itu juga membuatnya teringat-ingat kembali pada kenangan masa remajanya. "Memang keren, saya jadi teringat masa remaja" tulis Jokowi di akun Instagramnya.

Jokowi juga mengungkapkan bahwa film "Dilan 1990" mencerminkan gaya pacaran anak muda yang sederhana sebab diambil dari sudut pandang yang pas. Lalu bagaimana tanggapan Jokowi tentang "Ghouta"?

Bagai anak ayam kehilangan induknya, peribahasa yg tepat untuk penduduk Ghouta Timur, Suriah saat ini. Bagaimana tidak, tidak ada yang melindungi mereka dari berbagai serangan bom udara yang memborbardir tempat tinggal mereka tanpa henti.

Mereka tidak bisa sembunyi atau bahkan lari dari kepungan bom yang tiada henti. Mereka terisolasi ,terblokade, tidak ada lagi tempat tinggal yang nyaman dan aman atau bahkan sekedar makanan bagi mereka. Mereka bagaikan menunggu giliran untuk dieksekusi. Tidak ada satupun negara yang tergerak secara nyata untuk membantu mereka dalam konflik peperangan yang mematikan jiwa ini.

Tidak hanya itu rezim Assad dan sekutunya Israel juga menghujani bom kimia pada penduduk Ghouta. Hal ini semakin menambah daftar panjang penderitaan mereka. Seperti diketahui bom ini membunuh secara perlahan.

Menyerang saraf, membuat dada sesak hingga sekarat karena kehabisan udara. Tak hanya para pria yang menjadi korban keganasan bom ini namun juga para wanita dan kebanyakan adalah bayi dan balita.

Hal ini tentu saja sangat memilukan sebab target penyerangan dan pembantaian ini adalah warga sipil. Dimana seharusnya penyerangan terhadap warga sipil merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional, namun sepertinya hal ini tak berlaku bagi penduduk Ghouta.

Sangat disayangkan, hingga saat ini Jokowi sama sekali belum memberikan tanggapan apapun terkait pembantaian keji ini. Sepertinya film "Dilan 1990" lebih menarik untuk disoroti daripada jeritan penduduk "Ghouta" yang menyayat hati. Mengapa hal ini terjadi?

Mari belajar kembali tentang sosok seorang pemimpin di zamannya. Yang tercatat dalam sejarah Islam dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir.

Beliau adalah al-Mu’tasim Billah seorang pemimpin yang menyahut seruan seorang budak muslimah yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu'tashim Billah dengan lafadz yang legendaris: "waa Mu'tashimaah!" yang juga berarti "di mana kau Mutashim...tolonglah aku!"

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki).

Diriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), karena besarnya pasukan. Sebanyak 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan. Pembelaan kepada muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi.

Setelah menduduki kota tersebut, khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan dimana rumah wanita tersebut, saat berjumpa dengannya ia mengucapkan "Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku ?". Dan sang budak wanita inipun dibebaskan oleh khalifah.

MasyaAllah begitu rindunya kita akan sosok pemimpin seperti itu. Namun kenyataan pahit harus kita telan, begitu pula dengan penduduk Ghouta hingga saat ini belum ada pengganti dari sosok pemimpin seperti al-Mu’tasim. Dahulu kehormatan seorang wanita sangat dijaga. Sedangkan saat ini kehormatan kaum wanita di Ghouta terinjak-injak.

Mereka dilecehkan, dianiaya, dan dibunuh, begitu pula dengan  anak-anak.  Tak ada satupun negara yg mau melindungi mereka sebab terkungkung dalam jeruji besi yang dinamakan nasionalisme. Sekat-sekat ini membuat pemimpin-pemimpin muslim hilang keberanian. Diam di tempat, hanya puas menjadi penikmat. Sekedar jadi penonton di gelanggang pembantaian kaum muslimin di Ghouta.

Salah seorang bocah Ghouta berkata "Wahai pemimpin-pemimpin muslim, engkau cukup duduk ditempatmu. Cukup kirimkan senjata pada kami, biarkan kami yang menghadapi mereka sendiri itu sudah cukup bagi kami."

Namun miris, tak satupun pemimpin Muslim tergerak untuk memberikan  bantuan secara nyata tak terkecuali Jokowi. Nasionalisme membuat para pemimpin Muslim merasa aman hingga terlupa pada hakikat sebenarnya sebagai seorang pemimpin.

Seorang pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang segala tindakannya terikat dalam ketaatan kepada Allah, Sang Pemilik Kehidupan. Jokowi sebagai pemimpin negeri muslim telah lalai akan kewajiban yang harus ditunaikan terhadap hak-hak saudara muslim seiman. Jokowi dianggap tidak memberikan contoh sikap “Peduli” dan persaudaraan atas  pembantaian di Ghouta.

Rasulullah Shallallahu ' alaihi wa sallam bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Penduduk Ghouta jelas membutuhkan bantuan, dan Rasulullah Shallallahu ' alaihi wa sallam telah memerintahkan umat Islam untuk membantu saudaranya. Tolong menolong dan memberi bantuan adalah salah satu implementasi ketaatan pada Allah Ta'ala.

Rasulullah Shallallahu ' alaihi wa sallam bersabda:

اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِـيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ ، كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ ، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًـا ، سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh membiarkannya diganggu orang lain (bahkan ia wajib menolong dan membelanya). Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allâh Azza wa Jalla senantiasa akan menolongnya. Barangsiapa melapangkan kesulitan orang Muslim, maka Allâh akan melapangkan baginya dari salah satu kesempitan di hari Kiamat dan barangsiapa menutupi (aib) orang Muslim, maka Allâh menutupi (aib)nya pada hari Kiamat.”

Dan dalam surat Al-Anfal ayat 72, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ ...

“Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian (dalam urusan agama), maka wajib bagi kalian menolong…”

Wajib bagi muslim yang lain, untuk membebaskan mereka dari kebiadaban pemerintahnya sendiri. Terutama yang paling dekat wilayahnya dengan muslimin Ghouta

Maka masihkah berharap kepada pemimpin yang kurang peduli terhadap nasib Umat Islam di Ghouta dan di bumi Islam lainnya?

Siapakah pemimpin yang berani mengirimkan pasukannya untuk membela muslimin yang teraniaya? Pemimpin yang tak gentar melawan para musuh Islam yang semakin membabi buta menghabisi nyawa saudara kita, kaum muslimin.

Apa Yang Bisa Dilakukan Pemimpin Negeri Muslim

Duka lara saudara kita di Suriah tak jua berhenti, ketiadaan pelindung atas ketidakberdayaan mereka membuat mereka semakin terperosok dalam lubang derita yang amat dalam. Mereka tak hanya memerlukan bantuan sandang, pangan, dan juga medis.

Lebih dari itu mereka membutuhkan dan mengidamkan sebenar-benarnya bantuan hakiki. Yakni pengiriman pasukan militer beserta alat tempurnya yang dimiliki oleh negeri-negeri muslim di seluruh dunia.

Hal ini akan menjadi solusi untuk mengakhiri mimpi kelam mereka. Pasukan ini diharapkan akan membebaskan para penduduk muslim Ghouta dari serangan rezim Assad dan sekutunya, sebab pokok permasalahannya adalah tidak adanya pelindung dan pemimpin bagi mereka.

Seorang pemimpin yang mampu menjaga kehormatan mereka sebagai hamba Allah, pemimpin yang melindungi jiwa dan menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar mereka sebagai manusia.

Jika saja ada pemimpin umat Islam yang menjadi perisai umat dari kedzaliman sekaligus sebagai pemelihara urusan umat yang menggerakkan gabungan pasukan militer dari berbagai negeri muslim maka mudah untuk menegakkan keadilan dan keamanan di Ghouta.

Namun nyatanya tak ada satupun pemimpin negeri muslim yang berani menunjukkan taringnya untuk membebaskan penduduk Ghouta dengan memerintahkan pasukan-pasukan militernya yang terlatih dengan sangat baik dengan berbagai fasilitas alat tempur yang canggih.

Bagai mimpi mengharap ada pemimpin yang mengirimkan pasukannya, sedang untuk sekedar mengutuk atau bersimpati secara resmi atas pembantaian keji ini pun mereka tak peduli.

Sejatinya solusi sejati bagi penduduk Ghouta tak jauh dari para pemimpin negeri muslim. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah akan menanyakan kepada setiap pemimpin tentang kepemimpinan yang dibebankan kepadanya; apakah dia menjaganya atau melalaikannya; hingga seorang laki-laki akan ditanya tentang anggota keluarganya.” (HR. Ibnu Hibban).

Pemimpin yang mewujudkan kekuasaannya bersandarkan syariah. Penderitaan Ghouta adalah penderitaan seluruh kaum Muslim di seluruh belahan dunia. Penyelesaian tuntas kedzaliman terhadap penduduk Ghouta harus segera dilakukan.

Hal tersebut tidak akan bisa terwujud dengan sistem sekuler kapitalis seperti saat ini. Maka tidak ada cara lain kecuali dengan mewujudkan kembali kekuasaan Islam yang berlandaskan akidah dan syariah Islam.[MO]




Posting Komentar