Oleh: Emma Elhira

Mediaoposisi.com-Orang Tua mana yang tak ingin anaknya bisa sukses.? Tak sedikit juga orang tua yang berharap putra putri nya bisa mengenyam pendidikan yang tinggi, sekolah di tempat yang bagus, bahkan bisa kuliah di kampus yang bagus pula.

Sudah bukan rahasia lagi, bagi siapa yang ingin putra-putri nya sekolah di perguruan tinggi memang harus mengeluarkan kocek yang cukup dalam.

Terlebih bagi anak bangsa yang terlahir dari keluarga pas-pasan apalagi yang penghasilan ekonomi nya ada di bawah standar.

Bagaimana seorang putra daerah yang berprestasi harus berhenti menggantungkan impiannya kuliah di kota hanya karena biaya tersebut. 

Semilir Angin Surga

Bagai angin surga, tiba-tiba Pak Presiden Joko Widodo mengeluarkan ide untuk memfasilitasi masyarakatnya yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dengan mengeluarkan kebijakan memberi dana kredit pendidikan atau yang akrab disebut Student Loan.

Ide dimunculkannya kembali program tersebut pada saat Presiden bertemu dengan petinggi-petinggi perbankan Indonesia di Istana negara, Kamis (15/3/2018).

Seperti yang dikutip dari KOMPAS.com, beliau awalnya menyindir bos perbankan tentang target pertumbuhan kredit tahun 2017 yang tidak tercapai. Jokowi pun meminta Perbankan mengeluarkan produk finansial baru berupa pendidikan atau Student Loan

"Saya ingin memberi PR kepada bapak dan ibu sekalian dengan yang nama nya Student Loan atau Kredit Pendidikan," demikian kata Jokowi.

Untuk sebagian orang tertentu istilah dana talangan pendidikan ini cukup menggiurkan, betapa tidak setiap pelajar yang ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi tidak lagi harus ber patah semangat hanya karena biaya yang tak sedikit, tinggal mau melanjutkan kuliah, biaya kuliah dibayar mencicil selepas mendapat pekerjaan.

Bercermin Pada Amerika

Presiden bercermin pada negara Amerika Serikat. Disana, total pinjaman kratu kredit mencapai 800 miliar dollar AS.

Sementara total khusus kredit pendidikan lebij besar nilainya, yakni 1,3 triluyun dollar AS.

Jokowi ingin Imdonesia juga demikian. Masyarakat diharapkan mengibah pola konsumtifnya dari barang ke jasa pendidikan. 

“Kalau di negeri kita bisa seperti ini, yang konsumtif akan pindah ke hal-hal yang prodiktif. Nantinya juga akan memberikan nilai lebih pada intelektualitas visi kedepan yang sangat basic yaiti dibidang pendidikan.” Ujar Jokowi.

Sinyal positif dari Perbankan.

Seperti yang dilansir CNBC Indonesia New  beberapa bank sudah melaksakan program yang digulirkan pak Presiden kita saat ini yakni Ir. Joko Widodo.

Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan menjelaskan, untuk sektor pendidikan CIMB Niaga sudah menaruh perhatian serius.

Lani menyebutkan, pihaknya memfasilitasi pinjaman untuk pendidikan melalui berbagai produk seperti kredit tanpa agunan, kartu kredit dan juga multi guna.

"Ini digunakan nasabah untuk pendidikan sampai dengan S2 atau S3, kami juga bekerjasama dengan sekolah dan kampus untuk fasilitas ini," ucap dia.


Sementara Direktur PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Handayani menambahkan pihaknya juga menyalurkan kredit ke sektor pendidikan. "Kredit pendidikan melalui produk Briguna yaitu pinjaman tanpa agunan," ungkap dia.

Di AS sendiri mekanisme student loan adalah lembaga keuangan seperti bank meminjamkan biaya untuk kuliah namun proses pembayarannya setelah mahasiswa tersebut lulus dari bangku kuliah dan bekerja.

Mekanisme tersebut berbeda dengan di Indonesia yang memang hanya melalui KTA atau kartu kredit.

Resiko Kredit Macet 

Program ini juga bukan tanpa resiko, bagaimana para mahasiswa harus berlomba menyelesaikan pendidikan lalu bagaimana agaar secepatnya mencari pekerjaan agar bisa segera melunasi hutang berikut bunganya pada pemerintah.

Permasalahan nya  adalah, sulitnya tenaga Sarjana yang mendapat pekerjaan, dan sedikitnya peluang bagi para lulusan perguruan tinggi tersebut.

Lantas bagaimana jika kemudian tidak juga kunjung mendapat pekerjaan? Bukan lagi menjadi rahasia, bahwa banyak putra putri Indonesia saat ini yang bertitel sarjana namun berstatus pengangguran.

Sekiranya program ini bukan program yang layak dipertimbangkan.Ini justru beresiko bagi perkembangan ekonomi perbankan itu sendiri, sebab bukan tidak mungkin banyak nya mahasiswa yang kemudian sulit mencari pekerjaan bahkan tak mendapat pekerjaan lalu hutang pendidikan yang harus mereka tanggung macet ditengah perjalanan.

Mengalihkan Idealisme Mahasiswa 

Mahasiswa yang sejatinya adalah titik tolak kebangkitannya umat, yang dari pundaknya lah peradaban Islam kembali bisa berjaya, harus tumbang jika para mahasiswa disodori kewajiban membayar hutang riba diakhir masa study nya.

Maka mereka hanya akan memikirkan urusan individunya tanpa lagi mau berpikir tentang umat. 

Mereka hanya akan berlomba-lomba  bagaimana agar bisa segera menyelesaikan pendidikannya, mencari pekerjaan, dapat pekerjaan bagus lalu melunasi hutangnya pada negara.

Selesai. Seolah kehidupan hanya berakhir didunia, tanpa memikirkan kewajibannya sebagai generasi terbaik untuk mengembalikan peradaban Islam menjadi sebuah peradaban yang akan sangat diperhitungkan oleh kau kafir.

Aroma Ribawi Dalam Program Student Loan

Namun jika dilihat dari perspektif yang lain, program student loan ini berpotensi untuk mendidik putra putri bangsa terutama para mahasiswa menjadi insan yang terbiasa berhutang menggunakan hutang riba.

Seandainya mereka segeraSelain menebar dosa riba, mahasiswa dipakai menjadi alat pemerintah untuk berlepas diri dari tanggung jawabnya sebagai pengurus rakyatnya.

Selain daripada itu, ini menjadi salah satu bukti bahwa kepemimoinan dalam sistem kapitalistik neolib menjadikan hubungan rakyat dengan penguasa tidak lebih dari hubungan pembeli dan pedagang.

Yang berlaku adalah hitung dagang, untung rugi. Bukan lagi periayahan penguasa terhadap rakyatnya.

Islam menjamin pendidikan.

Di dalam islam sendiri, pendidikan adalah hak kolektif setiap rakyat yang wajib di fasilitasi oleh negara. Negara akan berupaya memberikan pendidikan dengan biaya yang sangat murah bahkan gratis demi meningkatkan kwalitas generasi bangsa bukan dengan menjerumuskan rakyatnya pada aktifitas dosa.[MO]

Posting Komentar