Gus Solah
Oleh : Winda Sari 
(Mahasiswi Universitas Jember) 

Mediaoposisi.com- Waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa, 2019 nanti sudah mulai memasuki pemilihan umum lagi, tepatnya pemilihan presiden dan wakil presiden. Banyak partai yang saling dorong-mendorong mengusung calonnya. Salah satu partai yang tetap teguh pendirian pada pilpres mendatang adalah partai kepala banteng yang tetap mengusung Jokowi sebagai calon presiden di pemilu 2019.

Dari pihak ini masih mengusulkan Jokowi sebagai calon presiden, untuk yang menjadi wakil Jokowi masih belum ditetapkan.

Suara-suara pemberi saran banyak bermunculan. Salah satunya KH Salahuddin Wahid yang merupakan adik dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia menyarankan kepada Jokowi, agar Jokowi dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 mendatang menggandeng tokoh Islam.

KH Salahudin Wahid menuturkan bahwa jika Jokowi tidak menggandeng tokoh Islam, maka pemilih Jokowipun akan berkurang. Tokoh Islam yang bisa digandeng Jokowi dalam pemilihan presiden dan wakil presiden bisa dari kalangan partai politik maupun non partai politik.

Sebut saja Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Mochammad Romahurmuziy (Gus Rommy) yang disebut oleh KH Salahudin Wahid, merupakan tokoh dari kalangan partai politik. Selain itu, KH Salahudin Wahid juga menyebut bahwa Jokowi bisa menggandeng mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dari kalangan non partai politik.

Selain ada yang memberikan saran agar Jokowi dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 menggandeng tokoh Islam supaya pemilih Jokowi tidak berkurang, ada yang memberikan saran lagi agar Jokowi  dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 didampingi oleh tokoh Islam yang paham ekonomi.

Meskipun sekarang ini Jokowi didampingi oleh Jusuf Kalla yang merupakan pakar ekonom, tetapi tokoh Islam yang paham ekonomi jauh lebih baik. Sebab, dalam Pilpres 2019 menjadi tantangan tersendiri bagi Jokowi sebagai petahanan. Ditambah lagi dengan kondisi saat ini gempuran dari kelompok pemilih muslim yang sudah semakin sadar akan kinerja Jokowi selama menjabat sebagai Presiden. 

Maka dari itu, pendukung Jokowi pun menyarankan agar Jokowi nanti di Pilpres 2019 didampingi oleh tokoh Islam yang paham ekonomi. Selain paham akan ekonomi yang nantinya digadang-gadang bisa memperbaiki stabilitas ekonomi atau menstabilkan ekonomi Indonesia, tokoh Islam yang nantinya akan mendampingi Jokowi dalam Pilpres 2019 juga harus mempunyai kekuatan politik.

Peneliti Forum Kajian Islam dan Politik UIN Sunan Kalijaga M.Affan Hasyim mengatakan kenapa pendamping Jokowi pada pilpres mendatang dari kalangan tokoh Islam atau santri, ia menjelaskan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, jadi salah satu untuk menghindari gempuran dari kalangan pemilih Islam adalah dengan menggandeng tokoh Islam atau santri, teruatam santri yang paham ekonomi.

Affan menyebut  ada tiga tokoh yang menurutnya berlatar belakang Islam dan juga paham akan ekonomi, seperti Choirul Tanjung yang suskes dengan CT Corp, Yusuf Mansyur yang sukses mengembangkan Pay-Tren, Romahurmuziy (Rommy) yang membidangi ekonomi keuangan dan memiliki usaha dengan ribuan karyawan.

Akan tetapi dari tiga nama yang disebutnya, yang memiliki peluang besar dalam mendampingi Jokowi pada pilpres 2019 adalah Romahurmuziy (Rommy), karena dia lebih mumpuni di bidang ekonomi.

Dipilihnya Tokoh Islam

Semenjak aksi yang dilakukan oleh umat Islam, terhitung sejak aksi 411 dan disusul aksi 212, membuat umat Islam bersatu dari segala penjuru Nusantara. Hal ini yang menyebabkan beberapa tokoh yang mengusulkan agar Jokowi dalam pilpres 2019 berdampingan dengan tokoh Islam atau dari kalangan santri. Citra Jokowi yang semakin pudar membuat para pendukung Jokowi resah jika nanti Jokowi gagal pada periode 2.

Kekuasaan saat ini menjadi yang utama dan diutamakan. Bukan kepentingan rakyat. Mereka berlomba-lomba menang dan berharap bisa mendapatkan kedudukan dalam pemerintahan.

Saat menang mereka bahagia dan melupakan amanah yang diembannya sebagai pemangku pemerintahan. Hidup di jaman sekarang dengan sistem yang rusak, menjadikan para pemangku jabatan di pemerintahan lupa akan amanah mereka, yang mereka pikirkan hanyalah cara mereka agar citra mereka di mata rakyat tetap bersahaja.

Berkaca dari kisah Umar bin Abdul Aziz yang menangis saat dilantik menjadi khalifah disebabkan karena tanggung jawab sebagai khalifah berat, memimpin umat Rasulullah SAW dan pertanggungjawaban nanti di hapadan Allah SWT.

Namun, apakah para penguasa, para pemangku jabatan dalam pemerintahan punya semangat dan punya ruh seperti Umar bin Abdul Aziz? Pada kenyataannya jauh dari itu. Penguasa hari ini justru berpesta pora, bersenang-senang jika ia terpilih.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan Amat bodoh. (QS. Al Ahzab : 72)

Dan seharusnya tokoh islam adalah membela kepentingan umat dan berani bersuara melawan penguasa yang dzalim bukan malah ikut-ikutan latah dalam demokrasi yang serat dengan kepentingan para pemilik modal. [MO]



Posting Komentar