Ilustrasi


Oleh: Rahmadinda Siregar 

Mediaoposisi.com- Tepat pada tanggal 3 Maret 1924, Institusi politik Islam (khilafah) dihapuskan oleh seorang agen Inggris Mustafa Kemal Attaturk. Praktis, pasca runtuhnya khilafah umat hidup tanpa naungan syariat Islam.

Hilangnya keberkahan dan keamanan dalam kehidupan umat Islam menjadi sebuah keniscayaan. Wilayah-wilayah kaum Muslimin yang dahulunya membentang dari ujung Timur hingga Barat, dari Maroko hingga Merauke kini dikerat satu persatu oleh Kafir penjajah. Negeri-negeri Islam dimerdekakan atas belas kasihan. Inilah realitas yang terjadi kepada umat Muhammad saw.

 Ironisnya, keruntuhan khilafah sebagai institusi pelaksana syariah tidak banyak diketahui oleh kaum Muslimin. Lamanya mereka hidup di alam sekuler tidak jarang menjadikan mereka enggan untuk kembali diatur dengan syariat Islam.

Padahal tanpa khilafah bagaimana mungkin keberkahan dan kerahmatan hidup dari Allah SWT bisa diraih? Penderitaan demi penderitaan  yang menimpa umat Islam  di berbagai negeri terus terjadi. Di  Suriah, hingga kini darah kaum Muslimin terus tertumpah.

Sejak tanggal 18 Februari, rezim al-Assad, dengan dukungan Rusia, mulai memukul wilayah Ghouta Timur, sebuah wilayah di pinggiran Damaskus, dengan artileri, serangan udara dan bom barel. Ratusan orang telah terbunuh.

Sejak tanggal 21 Agustus 2013, pasukan pemerintah membombardir Ghouta Timur dengan gas Sarin, yang menewaskan lebih dari 1.500 pria, wanita dan anak-anak. Wilayah Ghouta Timur kini ibarat 'neraka dunia' bagi rakyat Suriah.   Di Palestina, umat Islam masih terus berjuang mati-matian untuk mempertahankan Al Aqsha dari tangan kotor Israel La'natullah, negara agresor yang terus dijaga oleh Amerika. Di Rakhine, Myanmar, nasib umat Islam tak kalah memilukan. 

Sedikitnya 6.700 umat Muslim Rohingya tewas dalam waktu satu bulan setelah maraknya kekerasan di Myanmar pada Agustus 2017  lalu, seperti diungkapkan badan sosial Medecins Sans Frontieres, MSF. Di Afrika juga tak kalah menyedihkan, lebih dari 16 juta orang yang menghadapi kelaparan di Afrika Timur, termasuk Somalia, Sudan Selatan, Kenya, dan Ethiopia.(republika.co.id, 28 Februari 2018)
Harus dipahami, bahwa ketiadaan penerapan syariat Islam di dalam kehidupan umat adalah dampak nyata dari tergusurnya Negara Islam (Dawlah Khilāfah) dari kehidupan umat. Dampak global yang dihadapi umat dengan lenyapnya Khilafah adalah kian tak berdayanya mereka menghadapi berbagai penghinaan dan penganiayaan yang dilakukan Barat.

Hilangnya Khilafah sebagai institusi pelindung dan penjaga kehormatan Islam dan  kaum Muslimin menjadikan mereka lemah dan tidak berdaya. Belum lagi membebeknya para penguasa Muslim pada kampanye ‘terorisme', 'radikalisme' dalam rangka menjaga eksistensi negara penjajah di negeri-negeri kaum Muslimin. Semua itu adalah pengkhianatan yang dipertontonkan oleh penguasa-penguasa Muslim.

Lenyapnya institusi Khilafah juga telah melebarkan jalan para imperialis Barat untuk menghisap berbagai kekayaan alam milik umat. Sejak era penjajahan militer, Barat telah melakukan eksploitasi atas sumber daya alam yang dimiliki umat Muslim.

Di Indonesia, pengurasan kekayaan alam terjadi secara besar-besaran setiap hari. Sebutlah PT Freeport Indonesia Coy (FIC), pemilik miliaran ton batu galian yang mengandung emas, perak, dan tembaga di Irian Jaya. FIC melakukan pengerukan emas secara massal setelah mereka menemukan cadangan emas yang spektakuler di Gunung Grasberg.

Minyak bumi pun tidak lepas dari ‘penjarahan’ para kapitalis Barat melalui tangan gurita pengusaha swasta mereka. Setidaknya ada empat perusahaan besar swasta-asing yang menikmati kekayaan alam negeri ini.

Yang terbesar adalah Caltex yang rata-rata produksinya mencapai 40 persen dari sekitar 1,2 juta barel perhari produksi minyak Indonesia, disusul YPF Maxus Ses B.V. (124.000 barel perhari), Conoco Indonesia (63.000 barel), dan Unocal Indonesia dengan produksi sekitar 60.000 barel.

Dengan sedikit fakta di atas, telah nyata sekali betapa makar musuh-musuh Islam dan kaum Muslim ada di depan mata. Mereka tidak saja menghinakan kaum Muslim, tetapi juga berkehendak membangkrutkan negeri-negeri kau Muslimin.

Walhasil, satu-satunya solusi yang harus ditempuh untuk mengembalikan kejayaan umat ini adalah dengan kembali pada syariat-Nya, menerapkannya, dan menegakkan Daulah Khilafah yang akan melindungi dan menyelamatkan kita dari berbagai makar musuh-musuh kita.

Ingatlah, bahwa Allah Ta’ala telah menjamin kemenangan dan kejayaan bagi kita jika kita kembali pada agama-Nya.

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang salih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka.

Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik. (TQS. an-Nūr [24]: 55). [MO]


Posting Komentar