Oleh : Shafayasmin Salsabila 


Mediaoposisi.com- "Ketahuilah bahwa kalian tidak diciptakan dalam kesia-siaan. Kalian juga tidak dibiarkan terlantar. Namun, kalian memiliki tempat kembali yang telah disiapkan oleh Allah untuk memberi keputusan. Merugilah orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah dan dilarang baginya surga yang luasnya antara langit dan bumi. Ketahuilah bahwa tidak seorangpun merasa aman kecuali orang yang ketika di dunia takut dari ancaman Allah.

Kalian pun sadar bahwa kalian sering mengantar orang meninggal silih berganti, kalian tinggalkan dia di dasar bumi, dia pun berpisah dengan kekasihnya, berada di dalam tanah, dan menunggu hari perhitungan.
Bertakwalah kalian kepada Allah, sebab kematian menunggu kalian..."

Umar Bin Abdul Aziz berkhotbah untuk yang terakhir kali di hadapan rakyatnya. Sangat menyentuh, banyak mata membasah, trenyuh. 

Isi khotbah diatas adalah bukti. Saat seorang pemimpin menasihati rakyatnya dengan mengingatkan akan ketakwaan juga kematian. Betapa takutnya sang Khalifah akan pertanggung jawabannya kelak di hadapan Allah. Membuatnya bersikap hati-hati dalam mengurusi rakyatnya. 

Sosok khalifah yang fenomenal. Memerintah hanya dalam 2 tahun namun capaiannya luar biasa. Kesejahteraan meliputi seluruh penjuru negeri. 

Seorang pemimpin yang senantiasa menghadirkan ruh (kesadaran akan hubungannya dengan Allah) di setiap aktivitasnya. Beliau tidak memisahkan islam dari kancah kehidupan. Juga tidak mensterilkan negara dari ajaran islam. 

Dialah Umar Bin Abdul Aziz, cucu dari Umar Bin Khattab ra. Pada awal beliau memimpin, beliau melakukan reformasi birokrasi, menciptakan keadilan antar warga, menghapus sistem nepotisme, serta kembali berhukum pada Alquran dan Sunnah. 

Keadaan perekonomian dimasa Khalifah Umar bin abdul Aziz, masuk kedalam taraf yang menakjubkan. Semua literatur menguatkan bahwa kemiskinan, kemelaratan dan kepapaan diatasi pada masa ini. Mereka yang ingin mengeluarkan zakat sangat sukar untuk memperoleh orang yang mau menerimanya. 

Itulah yang terjadi di masa Khalifah Umar bin abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus.

Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa “negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia muda.”

Sejarah mencatat dengan tinta emas, jejak-jejak kejayaan pemerintah islam di masa lalu.

Zaman bergulir. 13 abad lebih telah berlalu. Masa indah itu seakan menjadi mimpi. Hari ini, keadaan berbanding terbalik. Zakat kini tengah di bidik. 

Baru sebatas wacana, namun sudah menjadi polemik. Pemerintah berencana memotong secara otomatis gaji para pegawai negeri sipil (PNS) muslim untuk pembayaran zakat. 

Seperti yang disuarakan oleh Lukman Saefudin selaku Menteri Agama akhir-akhir ini bahwa pemerintah berencana menarik dana zakat 2,5% dari gaji Aparatur Sipil Negara (ASN). Beliau mengemukakan karena selama ini APBN juga APBD tidak cukup terpenuhi dengan dana yang sudah diupayakan. Sehingga bidikan langsung tertuju kepada penarikan zakat yang diperkirakan akan mencapai Rp 15 triliun pertahunnya (Http://www.inews.id,7/2/18).

Zakat sebagai salah satu dari rukun iman, menjadi kewajiban bagi kaum muslim untuk mengeluarkannya. Namun syariat mengatur haul dan nishob nya. Berikut peruntukannya atau kepada siapa sajakah zakat itu diberikan. 

Yang dimaksud dengan haul adalah bahwa kepemilikan harta tersebut sudah berlalu (mencapai) satu tahun. Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedangkan hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul. Adapun nishob berupa batasan atau kadar suatu harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Orang yang berhak menerima zakat disebut 'Mustahiq Zakat'. Mereka terbagi menjadi 8 golongan yaitu Fakir, Miskin, Amil, Muallaf, Budak yang dibebaskan, Gharim (pailit), Fii Sabilillah dan Ibnu Sabil.

Sedang zakat gaji (profesi) tentunya tidak memenuhi ketetapan akan haul dan nishob. Karenanya islam tidak mengenal istilah zakat profesi. Disamping itu harta zakat yang terkumpul tidak boleh disasar untuk menutupi defisit APBN dan APBD atau untuk pembangunan infrastruktur atau untuk mengentaskan kemiskinan. 

Kembali kepada tujuan zakat yakni semata-mata untuk menyucikan para pemilik harta. (At taubah : 103).

Pemerintah seakan lupa dengan wacana sebelumnya. Yakni himbauan agar menghindari politisasi agama. Ini semakin menegaskan bahwa sistem sekuler yang diterapkan hanya memandang segala sesuatu dari aspek maslahat. Saat memilih pemimpin, aturan agama tidak boleh tampil. Namun saat zakat dirasa menguntungkan, akhirnya diwacanakan.
Maka seperti itulah islam diperlakukan. Agama seperti prasmanan. Diambil yang disuka dan dibuang yang sekiranya merugikan. 

Dalam pandangan islam. Negara wajib mengambil aturan islam secara kaffah (sempurna). Termasuk dalam hal pemungutan zakatpun harus sesuai ketentuan Allah, bukan sekehendak hati hanya dengan dalih maslahat. 

Sebagaimana sikap yang diambil oleh Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Memerintah dan mengurusi rakyat hanya dengan aturan/sistem yang berasal Sang Pencipta. 

Bukankah kita rindu ingin mengulang kembali masa kejayaan islam 13 abad silam itu? Sedangkan Kunci kemakmuran suatu Negeri adalah penduduknya yang  bertakwa. 

Allah berfirman : 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلأَْرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَـٰهُمْ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ 

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."
(QS  Al A'raaf : 96)  [MO]


Posting Komentar