Mantra Dilan dan Peradaban Terlarang
Oleh :
Shafayasmin Salsabila
(Revowriter Indramayu)

Mediaoposisi.com| Jika dahulu, Romeo dan Juliet karya William Shakespeare, diangkat ke layar lebar dan menjadi fenomenal. Kini Pidi Baiq dengan novelnya berjudul Dilan mengikuti jejak yang sama. Film Dilan, mengguncang bioskop setanah air. Seperti di Bangka, sebanyak 1000 lebih tiket film Dilan terjual per hari sejak dirilis 25/1/2018 (BangkaPos.com).

Dengan mengusung tema yang tidak jauh berbeda. Romantisme cinta sepasang anak muda. Baik Romeo dan Juliet ataupun Dilan, sukses membuat remaja terkiwir-kiwir turut dimabuk asmara. Melarut bersama alur cerita. Terhanyut dan terbawa suasana.

Tentunya ini adalah awal dari sebuah bencana. Ada kabut gelap yang disembunyikan dari antusiasme para remaja melahap mantra Dilan. Ada bahaya mengancam dan bersiap membawa pada Kehancuran.

4F. Food, Fun, Fashion and Film. Adalah senjata yang disiapkan sekaligus telah digunakan oleh Barat untuk menyerang generasi muslim. Menghancurkan masa depannya. Sekaligus menggerus sedikit demi sedikit keimanan anak-anak muda.

Fokus pada senjata yang ke empat. Dilan adalah salah satu propaganda Barat untuk memaksakan budayanya masuk dan diterima dengan pelukan hangat. Seakan kawan padahal menusuk dari belakang. Melahirkan sikap permisif pada aktivitas pacaran. Targetnya bukan hanya sebatas menerima pacaran sebagai gaya hidup anak muda kekinian, namun sampai pada menyulap remaja sebagai pegiatnya. Menjadikan mereka, sebagai bagian dari barisan pejuang cinta. Atau jika boleh dikatakan, agar remaja terkena jebakan batman, yakni diperbudak cinta. Terlanjur sayang. Sukar lepas. Terjerat.

Jika virus cinta sudah menginfeksi hati, masa inkubasinya tidak akan berlangsung lama. Apalagi jika dibumbui rangkaian kata indah selayak pujangga seperti jurusnya Dilan. "Jangan rindu. Berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja!" Yang diucapkan Dilan kepada Milea, pujaan hatinya, lewat sambungan telepon. Kian dramatis. Hati wanita mana yang tidak lumer dan meleleh. Penonton? Dijamin baper. Hampir saja kelenger.

Pada titik ini, remaja perlu diingatkan tentang hakikat keberadaannya di muka bumi. Tentang apa yang boleh mereka ambil dan mana yang terlarang. Benarkah cinta tak ada logika. Atau akankah diaminkan satu syair yang berbunyi : 'Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga?' Atau lirik sendu : 'Aku tanpamu, butiran debu'. Seakan cinta itu diatas segalanya. 

Inilah masanya remaja menjadi buta. Bukan sebab cinta. Namun pemahamannya yang jauh dari kata cemerlang. Kerontang dari cara pandang islam.

Padahal islam telah membagi peradaban menjadi dua. Islam atau selain islam. Mantra Dilan dihembuskan oleh budaya non islam. Buah busuk dari peradaban Barat yang terlarang. Haram bagi muslim untuk mengambil dan menjadikannya tauladan.

Sebuah peradaban yang dibangun dengan dasar sekulerisme. Yakni pemisahan agama dari kehidupan. Dimana tegak diatas dasar ini konsep hidup yang serba bebas demi tercapai segala kepuasan. Menjadikan hawa nafsu sebagi tolak ukur perbuatannya. Tuhannya.

Bahagia adalah kehendak syahwat. Ayat-ayat Tuhan hanya ada dalam sangkarnya. Tidak boleh dibawa dalam keseharian. Dipenjara dalam kegiatan ritual. Tak boleh mengatur sikap dan pilihan seseorang. Semua terserah apa yang diinginkan.

Maka apa yang akan menanti dihadapan adalah kerusakan. Kehancuran moral. Degradasi kehidupan. Akan banyak sekali kehormatan wanita yang digadai atas nama cinta. Banyak masa depan yang rusak akibat hamil sebelum sahnya akad. Kandungan yang digugurkan dan bayi-bayi yang dibuang. Rusaknya nashab. Sampai pada nyawa yang meregang dan melayang. Dihabisi bayang kegelapan cinta yang berawal dari mantra-mantra seperti yang dirapalkan Dilan. Rayuan tak berdasar. Menjebak hati yang lugu namun ragu-ragu dalam keimanan.

Maka dimana posisi kita. Menjadi pihak yang diam. Bergeming. Acuh. Atau memilih menutup mata dan telinga. Berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Atau kita berjuang di garda terdepan. Untuk menghalau mantra Dilan dengan membumikan kembali ayat-ayat Tuhan. Mensyi'arkan islam agar remaja menjadi sadar akan ganasnya peradaban Barat.

Berikutnya mengkampanyekan perubahan. Dengan kembali menghidupkan peradaban islam. Habitat bagi kaum muslim yang telah lama dinafikn. Yang dibangun diatas dasar akidah serta keyakinan akan kuasa Tuhan. Dalam mengatur kehidupan semesta alam termasuk manusia.

Dimana kebahagiaannya ada pada ridho Sang Pencipta. Hawa nafsu bukannya berarti harus dimusnahkan. Namun islam mengajarkan untuk mengendalikannya. Cinta sepasang anak muda, bukannya diharamkan tapi lebih tepatnya adalah didorong untuk dihalalkan melalui pernikahan. Jika tidak, maka cukup dengan menjaga pandangan. Dengan terbangunnya kembali peradaban islam. Mantra Dilam dapat dipatahkan.

Wallahu a'lam bish-shawab. [MO] 

Posting Komentar