Oleh : Ully Hidayati Samin 
(Komunitas Muslimah Media Kendari)

Mediaoposisi.com- Kepercayaan rakyat Indonesia terhadap pemimpin saat ini berada pada titik nadir. Banyak faktor yang menjadi penyebab. Langkanya lapangan pekerjaan, kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik, serta carut-marut klasik masalah hukum semakin mencekik rakyat.  Nampaknya janji manis pemimpin yang dulu membuai rakyat sebelum terpilih kini berlalu dengan minim realisasi. Dan untuk kesekian kalinya rakyat harus rela gigit jari.

Serba – serbi Kampanye
Namun, nampaknya masih ada rakyat yang berharap besar pergantian pemimpin lewat Pemilu kelak akan membawa angin segar perubahan. Ini tentu menjadi umpan bagi para calon pemimpin untuk menggaet kembali hati rakyat agar mau mempercayakan hak pilihnya. Seribu satu cara dilakukan. Yang paling klasik adalah berkunjung alias blusukan ke pasar-pasar. Calon wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi misalnya, melakukan blusukan di Pasar Jatibarang, Indramayu (news.okezone.com). Lain lagi dengan Ganjar Pranowo calon Gubernur Jawa Timur yang menunjukkan bentuk kepeduliannya dengan mengunjungi  seorang pelajar bernama Al Rayyan Dziki yang terpaksa harus membolos sekolah demi merawat ibunya yang menderita gagal ginjal  di RSUD Magelang (news.okezone.com).

Cara yang cukup berbeda dilakukan oleh Aswari calon gubernur Sumatera Selatan yang berolahraga sekaligus “menyapa” warga dalam  momen Car Free Day di Lubuk Linggau pada hari Minggu pagi (18/2) (news.okezone.com).  Berpasangan dengan Irwansyah sebagai calon wagub, sehari sebelumnya Sabtu (17/2) pasangan ini memaparkan visinya dalam perayaan HUT ke-10 Partai Gerindra di Lubuk Linggau bahwa pihaknya akan berjanji meningkatkan infrastruktur pertanian. Hal ini didasari bahwa 80% masyarakat Sumsel bermata pencaharian sebagai petani. Selain itu peningkatan pendidikan juga tak luput dari perhatian pasangan ini

“Untuk sekolah gratis tetap dibutuhkan masyarakat, tetapi kualitas dan sistemnya kita perbaiki, masih ada waktu, makanya beri kami, -Aswari-Irwansyah- waktu untuk memperbaiki ini. Kami adalah salah satu putra terbaik Sumatera Selatan jika kami diberi kesempatan kami akan amanah,” jelas Aswari sebagaimana dikutip dalam news.okezone.com.

Dikutip dari zonasultra.com, di Sulawesi Tenggara, ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur membubuhkan tanda tangan dalam spanduk deklarasi damai yang diadakan oleh KPU Sulawesi Tenggara. Dalam deklarasi ini, KPU menekankan seluruh paslon untuk tidak melakukan praktek politik uang dalam mendulang suara, melakukan kampanye hoax serta kampanye yang mengundang konflik SARA (zonasultra.com).  Pada kesempatan ini pula, salah satu cagub Asrun mendapat kesempatan untuk berorasi dan mengajak pendukung untuk berkampanye dengan kelembutan dan kebaikan hati. Menurutnya, dengan cara inilah kemenangan besar  akan diperoleh dalam pilgub sultra Juni 2018 nanti (zonasultra.com).

Mengadili Demokrasi
Pepatah bijak mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik. Bukan kali pertama, Indonesia mengalami suasana tahun politik seperti saat ini. Berkali-kali pemilihan umum dan berkali-kali berganti pemimpin namun kekecewaaan berkali-kali pula dialami. Semestinya ini cukup menjadi pembelajaran besar bagi rakyat Indonesia bahwa pesta demokrasi tidak akan membawa perubahan berarti.

Dalam politik demokrasi, memenangkan kompetisi adalah fokus utama. Dan salah satu caranya melalui pencitraan dalam masa-masa kampanye. Tak sedikit dana digelontorkan dengan blusukan dan “sebar bantuan”. Melalui media massa baik cetak, elektronik, hingga merambah dunia online pun dilakukan demi membangun citra manis para calon sekalipun minim kapasitas kepemimpinan. Tujuannya hanya satu, meraup suara agar menjadi juara. Maka tak mengherankan, jika setelah berkuasa nasib rakyat terlupa karena memang itu bukan prioritas utama. Entah harus harus berapa kali pemilu dan pergantian pemimpin lagi rakyat bisa sadar bahwa slogan yang selalu digaungkan demokrasi yakni dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat hanya slogan kosong belaka. Kekecewaan akan terus kita jumpai selama politik demokrasi masih dipakai negeri ini.

Mengangkat seorang pemimpin menurut pandangan Islam, adalah sebuah keharusan. Rasulullah saw bersabda dalam hadis Abu Hurairah, “Jika tiga orang dalam suatu perjalanan, maka hendaklah mereka menjadikan salah seorang dari mereka sebagai amir atas mereka.” As-Syawkani berpendapat ini merupakan dalil bahwa Rasulullah saw mensyariatkan bagi tiap kumpulan tiga orang atau lebih agar mengangkat salah seorang dari mereka sebagai amir/pemimpin. Namun, Islam mendudukan posisi kepimpinan bukan sebagai posisi prestisius. Karena pemimpin dalam Islam berati pelayan umat. Tugas yang ditanggung juga berat, dan berkonsekuensi ke akhirat. Dengan beratnya posisi ini, semestinya menjadi aneh tatkala banyak orang yang justru berlomba-lomba memperebutkan kekuasaan hingga rela mengeluarkan dana besar-besaran. Rasulullah saw bahkan menegaskan dalam sabdanya, “Demi Allah Kami tidak akan mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu.”(HR Bukhari Muslim).

Seorang pemimpin dalam Islam dituntut memiliki empat karakter yakni amanah (dapat dipercaya), siddiq (benar), fathonah (cerdas/bijaksana) serta tabligh (berkomunikasi dengan baik dengan rakyatnya). Pemimpin dalam Islam pun dipilih dengan tujuan untuk menjadikan Allah SWT sebagai pemilik kedaulatan tertinggi dengan menerapkan aturan-aturan syariah secara menyeluruh dalam segala sendi kehidupan. Mengharapkan lahirnya pemimpin seperti ini dalam pesta demokrasi lima tahunan ibarat mengharapkan buah durian akan tumbuh dari pohon rambutan. Tidak akan mungkin terjadi. Buktinya sudah banyak. Lalu  masihkah kita mengambil demokrasi dan terjatuh lagi dilubang yang sama? Jika iya, maka siap-siap kita akan gigit jari lagi. Wallahu a’lam. [MO]

Posting Komentar