Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com| Belum lama ini, umat Islam mengalami peristiwa memilukan. Tidak tanggung tanggung, dalam waktu kurang dari 1 pekan terjadi 2 penganiayaan yang mengakibatkan kematian.  Penganiayaan menimpa seorang kiai. KH Umar Basri yang juga pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar), dihajar di dalam masjid, Sabtu (27/1).

Dikutip dari sindonews.com, ia diserang setelah salat Subuh berjamaah, ketika sedang berzikir, pelaku  memukuli secara membabi-buta, Sabtu (27/1) sekitar pukul 05.30 WIB. Beruntung penganiayaan tidak berujung pada kematian. Pelaku sendiri dikabarkan orang tidak waras, namun anehnya pelaku masih mampu melakukan shalat subuh.

Dilansir dari Republika, kematian tampaknya menjadi kehendak Allah pada Ulama lain yang diserang, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), Ustaz Prawoto (40) meninggal setelah dianiaya oleh seseorang berinisial AM (45) di kediamannya Blok Sawah RT 01/03 Kelurahan Cigondewah Kidul Kecamatan Bandung kulon, Bandung, Kamis (1/2) pagi.

Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Santosa, Kopo Bandung untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Namun, takdir bercerita lain hingga akhirnya korban menghembuskan nafas terakhir
.
"Pelaku memukuli korban beberapa kali yang mengakibatkan korban mengalami luka patah tangan kiri dan luka terbuka pada kepala," ujar Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo, Kamis (1/2). Pelaku bernama Asep Maftuh (45) dan lagi lagi diduga mengalami gangguan jiwa.

"Berdasarkan hasil olah TKP (tempat kejadian perkara) dan pemeriksaan saksi-saksi, pelaku memang menderita depresi. Gangguan jiwa," imbuhnya.

Penganiayaan ulama oleh orang orang yang diduga gila ini menimbulkan pertanyaan, adakah kesamaan pola dengan pembantaian Banyuwangi ?

Tragedi Banyuwangi
Dilansir dari Wikipedia.org, Tragedi Banyuwangi 1998 adalah peristiwa pembantaian terhadap orang yang dituduh melakukan praktik ilmu hitam (di Banyuwangi, Jawa Timur pada kurun waktu Februari hingga September 1998. Namun muncul dugaan, bahwa ini adalah tindakan pembasmian orang orang yang dianggap berlawanan dengan pemerintah.

embunuhan pertama terjadi pada Februari 1998 dan memuncak hingga Agustus dan September 1998. Pada kejadian pertama di bulan Februari tersebut, banyak yang menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa, dalam artian kejadian tersebut tidak akan menimbulkan sebuah peristiwa yang merentet panjang.

Pembunuh dalam peristiwa ini adalah warga-warga sipil dan oknum asing yang disebut ninja. Dalam kejadian ini, setelah dilakukan pendataan korban.. Di antarapara korban terdapat guru mengaji, dukun suwuk (penyembuh) dan tokoh-tokoh masyarakat seperti ketua RT atau RW.

Pada masa pembantaian ini diawali munculnya sekelompok gelandangan dan orang gila di penjuru kabupaten.. Para orang gila ini menunjukkan hal yang janggal seperti mampu menjawab dengan baik pertanyaan penanya, namun ketika ditanya mengenai asal usulnya, mereka akan bertingkah seperti orang gila.

Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa orang-orang gila ini terlibat dalam peristiwa pembantaian. Dugaan tersebut semakin diperkuat dengan menghilangnya orang-orang gila tersebut.

Dikutip dari kbr.id, berdasarkan laporan Pengurus Nahdlatul Ulama Cabang Banyuwangi, Abdillah. Para ulama, guru ngaji dan pengelola pondok pengajian turut dibantai.

“Kita ada rapat PCNU pada saat itu seluruh kekuatan NU diundang, kemudian teman- teman dari Ansor membentuk tim melakukan investigasi. Setelah melakukan investigasi ternyata pembunuhan tukang santet itu tidak hanya tukang santet saja mengarah pada pembunuhan guru ngaji teror-teror pada kyai. Di saat itu kita melakukan sikap pembunuhan tukang santet itu berubah,” ujarnya.

Terdapat analisis menarik dari  sejarawan Banyuwangi, Suhailik, pembantaian itu sengaja dilakukan untuk menjatuhkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat itu getol mengkritisi Pemerintahan Orde Baru. Bahkan bekas Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu sempat menyebut, aksi pembantaian tersebut sebagai operasi naga hijau. 

Kesamaan dari kondisi dulu dan sekarang, adalah penguasa menghadapi lawan politik yang berat dari kalangan umat Islam.

Lantas, apakah orang gila yang menganiaya ulama di Jawa Barat ini satu kepentingan dengan orang gila di Banyuwangi ? Kita lihat saja [MO].

Posting Komentar