Oleh: Novita Fauziyah

Mediaoposisi.com-
Apa yang ada di benak pembaca ketika mendengar istilah orang gila? penampilan kusut? tingkah laku aneh ke semua orang atau bahkan pendiam?. Banyak bayangan beragam ketika mendengar istilah orang gila. Namun bagaimana jika orang gila berperilaku layaknya seorang kriminal dengan sasaran pada orang tertentu? apalagi orang yang dimaksud adalah ulama

Ulama merupakan sosok yang penting di kehidupan masyarakat. Peran mereka sangat penting untuk meluruskan pemikiran ummat yang melenceng. Ilmu mereka bagaikan cahaya yang meneragi kegelapan. 

Dalam suatu hadist dijelaskan bahwa “Sungguh perumpamaan para ulama di bumi seperti bintang-bintang di langit yang dengan cahayanya menerangi kegelapan di darat dan di laut” (HR Ahmad).

Namun apa yang menimpa ulama akhir-akhir ini sungguh sangat miris. Ulama menjadi korban dari orang yang katanya gila. Ya, orang gila zaman now yang menyasar mereka. Benarkah demikian? Pertanyaan ini tidaklah mengherankan manakala kasus yang terjadi banyak dan di berbagai wilayah. Benarkah para pelaku adalah adalah orang gila?

Dikutip dari nasional.republika.co.id (21/2), Ketua Majelis Pertimbangan MUI Din Syamsudin mengungkapkan bahwa sejak Desember 2017 hingga saat ini terjadi berbagai peristiwa yang menyentil lembaga-lembaga keagamaan, baik terhadap ulama, ustadz, mubaligh, dan juga terhadap pendeta atau biksu. Bahkan ada juga kasus perusakan terhadap tempat ibadah. Menurut dia, Komjen Ari Doni Sukmanto juga telah mengungkapkan telah ada 21 kasus penganiayaan terhadap ulama di Indonesia.\

Melihat berbagai kasus penganiayaan terhadap ulama, baik yang dilakukan oleh orang yang diduga sakit jiwa atau bahkan tidak seharusnya bisa menjadi perhatian serius dari pemerintah khususnya polisi. Jangan dianggap seperti angin lalu saja atau bahkan langsung berkesimpulan bahwa pelaku adalah orang yang diduga mengalami gangguan jiwa.
Hal ini juga dikuatkan oleh Penasihat DPP Persaudaraan Alumni 212 Amien Rais. Dikutip dari www.republika.co.id (20/2), beliau mengatakan bahwa persoalan penganiayaan ulama oleh siapa pun juga tidak bisa diremehkan. Menurut dia, penyerangan terhadap ulama merupakan aksi terencana dengan pola yang jelas. Polisi, pinta dia, agar bekerja dengan baik sehingga dalang dari penyerangan ulama bisa ditangkap dan diadili.

Peran negara dalam hal ini pihak kepolisian maupun aparat penegak hukum lainnya mestinya bisa menempatkan diri dengan baik. Kasus apapun yang memang harus diusut dengan tuntas jangan bersifat tebang pilih.

Jangan sampai memberikan kesan kepada masyarakat bahwa jika korbannya adalah umat Islam, maka ini akan dianggap angin lalu. Tapi sebaliknya, jika isu terkait terorisme radikalisme selalu disangkutpautkan dengan Islam semuanya digerakkan dengan cepat.

Di dalam Islam, negara berkewajiban memberikan jaminan keamanan bagi warganya, baik Islam maupun non Islam yang taat pada aturan. Negara menempatkan setiap individu berhak mendapatkan jaminan keamanan. Demikian juga perlakuan di depan hukum.

Setiap kasus diseleseikan secara objektif. Tentu ini akan terwujud manakala negara benar-benar menerapkan syariat Islam. Tidak hanya umat Islam yang memperoleh kesejahteraan namun juga non Islam yang taat pada aturan. Tidakkah kita merindukannya?

Bagi ulama saat ini, tetaplah istiqomah dalam mencerdaskan umat, meluruskan pemikiran umat. Meski tantangan begitu besar, meski harus berhadapan dengan rezim hari ini. Tetaplah istiqomah karena Allah dan sebaik-baik penolong adalah Allah.
 
Bagi rezim hari ini ingatlah bagaimana negara ini dulu bisa terlepas dari belenggu penjajah meski sekarang pun masih dijajah. Semua karena pertolongan Allah dan peran ulama.
Maka peran ulama sangat penting. Menjaga dan memuliakan mereka adalah kewajiban. Sebagaimana menjaga dan memuliakan setiap manusia. Namun jika tidak senang dengan ulama yang membuat umat makin cerdas maka hal ini perlu dipertanyakan. Mengapa tidak suka melihat umat cerdas dengan Islam? [MO]

Posting Komentar