ANATOMI SEJARAH KEKUASAAN
Oleh: Vier A. Leventa
(Mahasiswa Pascasarjana UIN SUKA Yogyakarta)


Mediaoposisi.com| Sejarah yang berjalan dialektis telah menunjukkan pada kita, bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi merupakan sebuah takdir yang dinamis teratur. Sejarah secara nyata, tidak melulu bergerak mutlak kaku seperti  klaim para determinis, dan tidak juga bergerak bebas tanpa arah seperti klaim para libertarian. Sejarah adalah pemaknaan dan pembelajaran, setidaknya itu yang saya adopsi.

Sebuah kekuasaan yang menerapkan ideologi, pun bergerak dalam lingkup sejarah yang terpola dengan unik. Kekuasaan dalam perspektif sejarahnya memiliki anatomi khas yang memberi kita rambu untuk melihat perkembangan zaman. Bahwa tak ada satupun kekuasaan yang abadi, ia memiliki musim; tumbuh, berkembang, memuncak, dan mati, bahkan akhirnya sama sekali musnah tanpa mampu bangkit kembali.

Peradaban Mesopotamia, Byzantium, Romawi, dan Persia, merupakan bentuk kekuasaan yang runtuh dan hilang dari peredaran zaman. Sedang Kapitalisme-Demokrasi, sebagai  ideologi yang diemban banyak negara hari ini, telah mengalami pasang surut, dan beberapa kali hampir saja kehilangan nafas dalam mempertahankan dominasinya. Great Depression tahun 1920an adalah satu titik di mana Kapitalisme hampir saja tumbang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, pada tahun 1997-98, dan 2008 sistem ini anjlok di tengah jalan. Dan kini ia mencoba berkolaborasi dengan “Komunisme Pasar” untuk mampu bertahan. 

Untuk melihat anatomi peradaban modern hari ini, ada baiknya kita perhatikan teori Polybius, seperti dikutip Ernst Breisach. Ia menerangkan bahwa sejarah kekuasaan bermula pada konsep kerajaan. Awalnya seseorang telah mengambil peran dan menawarkan perlindungan terhadap rakyat dari orang-orang lalim nan zalim. Namun dalam perjalanannya, raja menyeleweng dalam tugasnya dan mengarah pada tirani yang bengis, oleh keturunannya yang mengklaim diri sebagai manusia-manusia super. 

Tirani yang menindas inipun akhirnya ditumbangkan oleh Aristokrasi yang mendapatkan kepercayaan rakyat untuk menggantikan kekuasaan. Kelompok aristokrasi ini mencoba merawat sistem yang ada, namun pada perjalanannya iapun menyeleweng membentuk oligarki yang mengeksploitasi kebenaran hanya pada pihaknya, menghisap dan berpesta pora atas segala kekayaan yang ada. Oligarki yang tamak kemudian dijatuhkan oleh kekuasaan rakyat secara kolektif, yang kini kita kenal sebagai Demokrasi. 

Dan kini, sampailah kita pada era ini, era demokrasi yang diulang kembali. Sistem kekuasaan yang awalnya menarik perhatian masyarakat di dalam mengambil alih pemikiran dan pemerintahan. Namun akhirnya, perwakilan-perwakilan yang tidak pernah berpengalaman ini, tidak lama dalam menerapkan nilai-nilai persamaan/kebebasan, akhirnya menukik tajam menuju Hukum Rimba, dimana pemimpin-pemimpin yang tidak berprinsip telah menggunakan hukum sesuka hatinya, yang membiasakan diri dalam ketamakan yang seringnya memuakkan; korupsi dan penghasutan rakyat merajalela; propaganda negatif guna mempertahankan kekuasaannya, bahkan hingga penggunaan kekerasan. Kini, kelaliman kembali untuk mendirikan ordenya.

Ibnu Khaldun yang juga merupakan seorang filosof kesejarahan, telah menambahkan keterangan bahwa sebuah kekuasaan ataupun peradaban, memiliki fase dalam perkembangannya. Tumbuh berkembang, memuncak, busuk, dan akhirnya mati. 

Namun, kekuasaan akan dapat bangkit kembali jika ia mampu melihat kelemahan-kelemahannya, dan berani mengakui kesalahan yang diperbuat, dan sanggup menemukan dan menerapkan ideologi terbaik bagi dirinya.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, kita pun melihat pola-pola itu bergerak sama, walau tak persis serupa, seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa sejarah berjalan unik dan khas. Jika kita bedah negeri ini semenjak kemerdekaannya di tahun 1945, maka kita menemukan Orde Lama sebagai generasi tumbuh berkembang, dimana para pemimpinnya berusaha menemukan satu bentuk sistem kekuasaan apa yang terbaik, hingga disepakatilah Demokrasi-Pancasila sebagai sebuah volunte generale. Kemudian masuklah masa Orde baru, -walau masih terbuka perdebatan- dapat kita klaim sebagai masa memuncak, dimana terjadi stabilitas dan pembangunan. Kekuasaan yang tak goyah selama 32 tahun itu, akhirnya ambruk dalam kediktatorannya yang semakin menyeleweng. 

Setelahnya, era reformasi pun mengemuka, entahlah dia sebagai satu fase kebangkitan kembali negeri ini, atau sebuah fase pembusukan menuju kematiannya. Pada tahap inilah kita akan membuka pembacaan, Apakah negeri ini benar-benar telah memasuki bentuk penyelewengan sebuah oligarki yang tamak dengan klaim demokratis sepihak? 

Dan jika kita padatkan peradaban Indonesia selama lebih kurang 72 tahun ini, maka kita telah memberi cukup waktu pada satu sistem kesepakatan dahulu, yakni Demokrasi peninggalan Yunani kuno yang telah mati sebenarnya, namun dicoba kembali pada negeri ini. Sungguh ia telah menunjukkan kebusukan yang menyengat berpuluh tahun lamanya. Pembangunan fisik sebagai konsekuensi zaman, nyatanya tak berjalan lurus dengan pembangunan manusianya. Silakan baca realitas kita hari ini, begitu banyak akan ditemukan pembusukan-pembusukan itu. 

Tanda-tanda berakhirnya Demokrasi-Sekuler telah sejak lama digaungkan oleh para ilmuwan pada pusat-pusat peradaban itu sendiri, yang jengah dan kehilangan kepercayaan terhadap sistem bernama demokrasi. Begitu banyak para filsuf kesejarahan besar sepakat, bahwa “Kelam telah menyelimuti Dunia Barat” dan negeri-negeri bonekanya. Oswald Spengler, Nikolai Danilevsky, Arnold J. Toynbee, P.A Sorokin, Walter Schubart, N. Berdyaev, Alfred Kroeber, F.C.S Northrop, Albert Scweitzer, J.J. Saunders, Lewis Mumford, kesemuanya secara terang menggambarkan bahwa jaman tengah mengalami transisi suatu peradaban. Sistem yang lama secara berangsur, tetapi pasti tengah menuju kehancurannya.

Ini adalah sebuah kenyataan yang menghadang, bahwa di tengah-tengah kehancuran peradaban barat, tengah bangkit sebuah peradaban lain. Telah diprediksi oleh para filsuf kesejarahan bahwa peradaban yang mendatang adalah “Keagamaan Ideal” (Danilevsky), atau Keagamaan dan Ketuhanan yang Murni (Fulton J. Sheen).

Maka, jika kita sepakati hal tersebut, apa selanjutnya?

Untuk bangun dari sakit berkepanjangan ini, kita perlu benar-benar jujur membaca realitas, dan berani mengakui kekacauan yang menimpa negeri. Membuka mata kita atas kesakitan yang mendera, dan bersikap cepat dan tepat dalam mengambil obat.

Mari kita ambil beberapa pendapat, George Sarton (Dosen Universitas Harvard) menyatakan, “Sesungguhnya Islam merupakan tatanan agama yang paling tepat sekaligus paling indah. Kamipun sependapat bahwa ia memang merupakan paling tepat dan paling indah dibanding dengan lainnya. Tetapi sangat disayangkan bahwa kaum Muslimin sendiri terlalu jauh dari hakekat yang dibawa Islam...”

“Sesungguhnya bangsa Timur Islam, sudah pernah memimpin dunia dalam dua tahap dan lama sekali, dari tahap kemajuan umat manusia. Sudah tentu tidak ada rintangan bagi bangsa-bangsa itu untuk bangkit lagi dan kembali memimpin dunia ini dalam waktu dekat atau beberapa waktu lagi.”

Tolstoi (Filosof Rusia), “Ringkasan agama yang dikumandangkan Muhammad ialah bahwa Allah itu satu, tiada Tuhan selain Dia. Karena itu tidak dibenarkan menyembah banyak tuhan...

”Sebagai bukti pengabdiannya yang membanggakan, bahwa dia telah membimbing ratusan juta orang menuju kebenaran, ketenangan, dan kedamaian. Dia telah membuktikan jalan bagi umat manusia untuk menempuh hidup kerohanian universal, suatu karya raksasa yang tidak mungkin dilakukan kecuali oleh seorang yang diberi kekuatan, wahyu dan pertolongan dari langit.”

Arnold Toynbee (Sejarawan Inggris), “Risalah Islam bukan hanya diperuntukkan bagi negeri Arab saja, tetapi untuk seluruh dunia, karena memang tidak ada Tuhan lebih dari satu, begitu pula tidak mungkin ada agama lebih dari satu, yang kaffah (sempurma) bagi seluruh umat manusia”

Thomas Carlill, “Agama ini (Islam) sudah berusia seribu dua ratus tahun, namun ia tetap saja sebagai agama yang kukuh dan jalan yang lurus bagi 1/6 lebih penduduk bumi, dan ia tetap saja merupakan agama yang diimani oleh penganutnya dari kedalaman lubuk hatinya, dan saya tidak pernah meyaniki bahwa ada suatu umat yang berpegang teguh dengan agamanya, seperti halnya kaum Muslimin memegang Islamnya, dan karena mereka menyakininya dengan sepenuh hati”

Bernard Shaw (Sejarawan Inggris), “Islam telah menyerukan pada kebebasan, persaudaraan, dan sudah menggariskan sarana dan merealisasikannya, sudah menyusun pola kebenaran, keadilan, dan toleransi. Ia menyerukan kerjasama dalam kebenaran, kebaikan dan peebaikan. Semuanya harus dilakukan di bawah ayoman kasih sayang, keikhlasan dan kedamaian.” 

Membaca dan melihat ini, maka apa lagi yang kita nanti?

Wallahu’alam Bisshowab. [MO]

Jogja, 3-02-2018

Posting Komentar