Oleh :
Tiya Erniyati, S.H., M.H.

Mediaoposisi.com| Rupanya bukan hanya pekerjaan yang berkutat dengan ketinggian seperti kuli bangunan atau pekerja tambang saja yang beresiko kematian. Menjadi pendidik pun pada jaman sekarang dapat membawa maut. Baru-baru ini masyarakat dikejutkan oleh perbuatan seorang murid di Sampang yang menganiaya gurunya hingga menyebabkan kematian.

Murid SMAN 1 Torjun, yang berinisial HI menganiaya gurunya Ahmad Budi Cahyono. Sang Guru (korban) sedang mengajar kesenian dihalaman sekolah, sebelumnya menegur pelaku beberapa kali karena mengganggu temannya yang sedang mengerjakan tugas kesenian.Bukannya berhenti pelaku malah semakin menjadi-jadi, sehingga korban mencoba memukul pelaku dengan kertas absen, dan langsung ditangkis pelaku dengan menghujamkan pukulan ke pelipis kanan korban.Akhirnyakorban mengalami mati batang otak, hingga menemui ajalnya.

Kejadian ini tentu menodai dunia pendidikan di Indonesia. bahkan kejadian penganiayaan terhadap guru bukanlah pertamakalinya.Publik tentu masih ingat kasus penganiayaan di Makassar,  yang kompak dilakukan oleh ayah dan anak kepada gurunya, hanya karena dimarahi karena tidak membawa buku gambar.

Dalam ajaran Kriminologi yaitu ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan, terjadinya kejahatan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal diantaranya adalah umur, keimanan, psikologi, kejiwaan dan faktor eksternal antara lain lingkungan yang meliputi ekonomi, keluarga,budaya,sosial dan hukum.

Faktor umur, keimanan dan psikologi pada pelaku kejahatan ikut andil dalam menjadikan pelaku sebagai seorang yang “tempramental”, atau mudah marah. 3 hal ini dapat mempengaruhi seseorang dalam mengelola dan mengendalikan emosi pada kondisi-kondisi tertentu. 

Dari faktor eksternal, contohnya faktor ekonomi, himpitan ekonomi dapat mempengaruhi seseorang melakukan kejahatan, faktor keluarga dan faktor lingkungan yang berpengaruh pada pembentukan karakter atau kepribadian seseorang jugakurang tegasnya penegakkan hukum atau belum efektifnya sanksi untuk perbuatan tersebut.

Berdasarkan Pasal 351 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pelaku penganiayaan yang menyebabkan kematiandapat dijatuhi sanksi pidana penjara maksimal 7 Tahun. yang berbunyi“Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah” dan ayat (3) “Jika menyebabkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun”.

Namun karena HI masih dibawah umur yaitu 17 tahun maka HI masih tergolong anak dalam hukum pidana dQi Indonesia, sehingga penjatuhan sanksi pun akan berbeda dengan orang dewasa. Dalam hukum pidana,sanksi pidana yang dijatuhkan kepada anak yang berkonflik dengan hukum adalah setengah dari sanksi pidana maksimal suatu kejahatan. HI diduga melanggar pasal 351 ayat (3) yang maksimal sanksi pidananya 7 tahun, maka dia hanya akan dikenakan 3,5 tahun pidana penjara.

Apabia kejadian seperti ini terus berlangsung maka Guru akan “takut” untuk mendidik dan mengajarkan nilai-nilai moral kepada murid-muridnya. Guru hanya akan fokus kepada pemberian mata pelajaran dan nilai-nilai ujian, tanpa menjadikan karakter atau kepribadian anak sebagai salah satu hal yang penting bagi pembentukan generasi. 

Padahal Indonesia sangat memerlukan generasi penerus yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual namun juga memiliki kecerdasan emosional.Keimanan yang tinggi yang dapat menjadi benteng bagi anak untuk menghadapi kehidupan dunia. Terbukti keimanan selama ini dapat mencegah seseorang dari melakukan tindak pidana. 

Pada kenyataannya penanaman nilai-nilai agama disekolah sangatlah Mengatasi kejahatan tidak bisa hanya dari satu sisi yaitu pranata hukum saja, namun harus penanganan secara komprehensif.  Termasukmasalah ekonomi, ketahanan keluarga, lingkungan yang baik, pendidikan yang berkualitas dalam bingkai negara yang menerapkan aturan Allah SWT secara menyeluruh menjadi hal yang diutamakan.

Padahaluntuk mengatasi suatu tindak kejahatan tidak hanya dibutuhkan hukum yang tegas dan efektif namun juga tindakanpreventif di segala aspek kehidupan.Untuk menutup celah terjadinya faktor-faktor penyebab kejahatan yang dipaparkan diatas tadi.

Adapun mengenai batas usia anak dalam peraturan perundang-undangan khususnya hukum pidana perlu ditinjau ulang, apakah seseorang yang hampir berusia 18 tahun namun sudah berani untuk menganiaya, membunuh bahkan tidak jarang dilakukan dengan sadis masih layak disebut anak? Dengan segala konsekuensi hukum seperti pengurangan hukuman tadi.

Bila mengacu pada hukum Islam, Ketika anak sudah baligh maka semua tak lif hokum sudah menjadi tanggung jawabnya. Otomatis semua perbuatannya harus dia sendiri yang mempertanggungjawabkan.
Mengatasi kejahatan tidak bisa hanya dari satu sisi yaitu pranata hukum saja, namun harus penanganan secara komprehensif. Termasukmasalah ekonomi, ketahanan keluarga, lingkungan yang baik, pendidikan yang berkualitas dalambingkainegara yang menerapkanaturan Allah SWT secaramenyeluruh. [MO]

Posting Komentar