Oleh : Tiya Erniyati S.H., M.H.,
Penulis penelitian Tesis “extrajudicial killing oleh Densus 88 dalam perspektif asas praduga tak bersalah”

Mediaoposisi.com- Belum lepas ingatan kita dengan kasus Siyono  tiga tahun lalu yang diduga melakukan tindak pidana terorisme. warga dusun Brengkungan, desa pogung, kecamatan Cawas Klaten, Jawa tengah meninggal dunia pada saat masih dalam penahanan oleh aparat Densus 88. Beliau ditangkap masih dalam pakaian shalat berjamaah, tanpa mengetahui kemana dia akan dibawa. Setelah penangapan tersebut, keluarga dikejutkan dengan kabar Siyono telah meninggal. Kepolisian menyatakan Siyono meninggal karena kelelahan akibat berkelahi dengan polisi di dalam mobil. Namun keterangan kepolisian tersebut menimbulkan kejanggalan. Yang menjadi pertanyaan adalah Bagaimana mungkin seorang tahanan yang tangannya diborgol matanya ditutup bisa berkelahi dengan Densus 88. Lalu kepolisian membuat alasan lain yakni kepala siyono terbentur sudut mobil karena berkelahi.

Komnas HAM bersama PP Muhammadiyah serta Kontras menyampaikan kepastian penyebab tewasnya Siyono adalah terdapat beberapa tulang yang patah di bagian tubuhnya dan ada tulang yang patah ke dalam hingga menusuk ke arah jantung.

Matinya terduga teroris saat masih dalam penangkapan oleh aparat rupanya belum berakhir. Masyarakat harus menyaksikan kembali pemberitaan mengenai matinya terduga teroris Muhamad Jeffri yang ditangkap bersama isterinya di Indramayu selasa 7 Februari 2018 yang dipulangkan dalam keadaan tak bernyawa oleh tanpa ada keterangan apapun dari polisi. Namun seiring berjalannya waktu, kasus-kasus seperti ini seperti hilang ditelan bumi. Tanpa adanya penulusuran lebih lanjut bahkan pertanggungjawaban dari aparat itu sendiri. Apakah sah-sah saja ketika seseorang yang masih diduga teroris tewas ditangan aparat karena statusnya? mengapa hal ini terus berulang  seolah-olah perbuatan tersebut menjadi kewajaran dan legal di mata hukum.

Di Indonesia, pembunuhan di luar pengadilan atau Extrajudcial kiliing memang masih asing terdengar, namun ternyata dalam praktiknya di Indonesia sudah sering terjadi. Menurut Mahrus Ali dalam bukunya yang berjudul “Hukum Pidana Terorisme” Ciri-ciri dari Extrajudcial kiliing adalah sebagai tindakan-tindakan, apapun bentuknya, yang menyebabkan seseorang mati tanpa melalui proses hukum dan putusan pengadilan yang dilakukan oleh aparat negara berdasarkan pengertian sederhana ini, terdapat beberapa ciri penting extrajudicial killing, yaitu (1) melakukan tindakan yang menimbulkan kematian; (2) dilakukan tanpa melalui proses hukum yang sah; (3) pelakunya adalah aparat negara; (4) tindakan yang menimbulkan kematian tersebut tidak dilakukan dalam keadaan membela diri atau melaksanakan perintah undang-undang.

Tindak pidana terorisme termasuk dalam kategori Tindak Pidana Luar biasa, karena sifat inilah memang sudah selayaknya dilakukan upaya-upaya yang luar biasa pula untuk memberantasnya (extraordinary measures). Namun tentu saja dalam upaya yang khusus ini bukan berarti mengindahkan asas-asas yang berlaku di sistem peradilan pidana di Indonesia.

Salah satu asas yang berakar dari Hak Asasi Manusia yaitu asas praduga tak bersalah atau presumption of innocence, seseorang tidak dapat dianggap bersalah atau diberlakukan sebagai pihak yang bersalah sebelum terbukti di pengadilan tingkat terakhir yang sudah berkekuatan tetap secara meyakinkan tanpa keraguan yang patut (beyond reasonable doubt) yang membuktikan bahwa tersangka tersebut memang bersalah secara hukum.

konsekuensi dari asas ini adalah Perlindungan terhadap tindakan sewenang-wenang dari pejabat negara, tersangka/terdakwa harus diberikan jaminan-jaminan untuk dapat membela diri sepenuh-penuhnya dan karena tersangka masih dianggap tidak bersalah, seorang tersangka tidak boleh dianiaya, disakiti atau dipaksa-paksa untuk memberi keterangan hanya seperti yang diinginkan oleh pihak penyidik. Beberapa peraturan perundang-undangan yang mengandung asas ini antara lain:

- Pasal 34 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, pada Pasal 18 ayat (1)
- Dokumen internasional Universal Declaration of Human Right, pasal 11 ayat (1) UDHR 1948
- Pasal 14 ayat (2) Intenational Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) Tahun 1966

Kasus Muhammad Jeffri jelas termasuk tindakan Extrajudicial killing oleh aparat karena memenuhi 4 ciri-ciri Extrajudicial killing yang telah dipaparkan sebelumnya. Oleh karena itu bertentangan dengan peraturan-peraturan yang menjiwai asas praduga tak bersalah, sehingga dapat dikatakan bahwa extrajudicial killing ini juga mencederai HAM dan Hak Asasi yang paling fundamental adalah Hak unutk hidup yang direnggut oleh aparat tanpa adanya alasan yang dapat dipertanggungjawabkan oleh hukum. Indonesia sebagai negara hukum hanya akan menjadi status di atas kertas apabila melakukan pembiaran terhadap pelanggaran HAM.

Dikutip dari hukumonline.com, pada kenyataannya sampai saat ini belum ada upaya dari pemerintah untuk mempertanggungjawabkan kematian para korban atas dasar pelanggaran HAM. Terhitung Densus 88 telah menewaskan 121 korban  

Mahalnya Nyawa Seorang Muslim di sisi Allah SWT
Islam sangat menghargai dan menghormati nyawa manusia dan nelarang membunuh tanpa haq. seseorang yg diduga melakukan kejahatan tidak dapat dijatuhkan sanksi kepadanya sebelum Hakim memutuskan bahwa orang tersebut bersalah.

Dari Abdullah bin Amru dai Nabi SAW, beliau bersabda “sungguh lenyapnya dunia lebih ringan disisi Allah daripada pembunuhan seorang muslim” (HR an-Nasa’i, at-Tirmidzi dan al Baihaqi).

Dalam Riwayat dari Abdullah bin Umar ra. Ia menuturkan: Aku meliaht Rasulullah saw tawaf mengelilingi ka’bah dan bersabda: “alangkah baiknya engkau dan alangkah harumnya aromamu. Alangkah agungnya engkau dan agungnya kehormatanmu. Demi zat yang jiwa Muhammad ada digenggaman tangan-Nya. Sungguh kehormatan seorang mukmin lebih agung disis Allah dari kamu baik menyangkut harta maupun darahnya, dan agar kami hanya berprasangka baik kepada dirinya (HR Ibnu Majah).

Dalam QS Al Maidah Allah berfirman “Barangsiapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena berbuat kerusakan dibumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.”. [MO]

Posting Komentar