Oleh: 
Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan Peradaban – LSPP)

Mediaoposisi.com- Hutang, Kerja, Kebut. Mungkin 3 kata ini paling cukup mewakili mega proyek infrastruktur yang dilakukan pemerintahan Jokowi. Berhutang untuk bangun insfrastruktur. Bekerja dengan Cina untuk menggarap mega proyeknya. Kebut-kebutan demi ambisi infrastruktur selesai sebelum 2019. Seorang Komikus Jepang, Onan Hiroshi menyindir salah satu infrastruktur yang tengah menjadi target rezim Jokowi untuk digarap, yaitu proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Dalam komik tersebut digambarkan  kronologi awal mula rencana pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang dilakukan oleh pihak Jepang. Namun, hasil studi Jepang itu justru diberikan kepada Cina dengan nilai yang jauh lebih murah dibandingkan Jepang. Anggota Komisi V DPR Epyardi Asda membeberkan kekecewaan Jepang kepada Indonesia yang lebih memilih Cina untuk menggarap proyek kereta cepat Jakarta – Bandung.

Mengapa Jokowi berutang ke Tiongkok, sementara presiden-presiden lainnya terkesan enggan? Seperti yang kita ketahui, saat ini Tiongkok tengah menjalankan program One Belt One Road (OBOR). Melalui program ini, Tiongkok ingin menciptakan kembali jalur sutra yang menghubungkan perdagangan Tiongkok ke berbagai negara di dunia. Karena itulah tahun 2015 lalu, negara Tirai Bambu ini membentuk bank investasi infrastruktur Asia atau Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Tujuan dibentuknya AIIB yang mulai beroperasi pada Januari 2016 ini, adalah menyediakan pembiayaan bagi perbaikan infrastruktur di Asia. Keberadaan AIIB ini tentu sejalan dengan program kerja Jokowi yang ingin memfokuskan pembangunan negara di bidang infrastruktur. Butut dari keberadaaan Bank ini, Jokowi bekerjasama dengan Cina dalam membangun proyek kereta cepat  Jakarta – Bandung. Alhasil, 2 tahun lamanya proyek tersebut mangkrak dan tak kunjung ada perkembangan yang berarti.

Di Era jokowi Indonesia menumpuk hutang hingga hampir mencapai Rp 4.000 Triliun. Angka yang benar-benar fantastik. Rela berhutang hanya untuk kejar target membangun infrastruktur. Bahkan, rencana mega proyek kereta cepat Jakarta – Bandung ini sempat menimbulkan pro dan kontra. Hingga detik ini, kosntruksi proyek tersebut baru mencapai 10%. Padahal, proyek ini sudah dimulai pembangunannya pada Januari 2016 lalu. Beberapa pihak mengatakan, proyek Jakarta – Bandung tidaklah terlalu urgen untuk dibangun karena masih bisa dijangkau dengan moda transportasi yang lain tanpa harus membangun proyek kereta cepat Jakarta – Bandung.

Untuk Siapa Proyek Besar?
Sepanjang tahun 2017-2018 ada 13 insiden kecelakaan infrastruktur yang ambruk.  Belum lagi, kerusakan jalan akibat banyaknya intensitas kendaraan bermuatan besar melintas. Hutang yang semakin menumpuk seakan tak menjadi persoalan bagi negeri ini. Berhutang untuk bangun. Membangun untuk dijual. Hasil jual untuk bangun lagi. Mental apa ini? Pemerintah seakan tak peduli dampak yang ditimbulkan dari kesan tergesa-gesanya pemerintah menggenjot infrastruktur. Sebuah ironi, sangat getol bangun infrastruktur namun minim perhatian terhadap persoalan hukum, ekonomi, sosial, dan politik yang masih banyak membelit negeri ini.

Apalah artinya Indonesia sukses membangun infrastruktur  unggul namun utang semakin menggunung. Apalah artinya insfrastruktur bagus, namun negeri terlilit utang terus. Apalah artinya infrastrukutur sukses besar, namun kesejejahteraan ekonomi rakyat jauh dari harapan. Apa untungnya membangun infrastruktur bila hanya segelintir rakyat yang merasa untung. Apa untungnya membangun infrastruktur bila rakyat pun harus membayar tarif tinggi. Bagaiamana jadinya bila infrastuktur dibangun namun utang tak mampu dibayar? Tentu ada konsekuensi yang harus dihadapi oleh negeri ini. Menumpuknya utang Indonesia bisa berakibat buruk. Bisa jadi Cina akan ambil alih pengeloaan dan pengoperasian yang berasal dari pinjaman kepada Cina karena negara tak mampu bayar utang dan bunganya. Seperti yang dialami negara – negara yang berhutang semisal Zimbabwe, akibat utang 40 juta dolar AS atau senilai 554 milyar, Zimbabwe harus rela mengganti mata uangnya menjadi Yuan untuk menuruti keinganan Cina sebagai imbalan penghapusan utangnya kepada Cina. Dengan nasib sama, Sri Lanka pun mengalihkan kepemilikan pelabuhan kepada BUMN Cina lantaran tidak bisa membayar utang. Peristiwa tersebut harusnya menjadi pelajaran bagi Indonesia bahwa utang untuk pembiayaan infrastruktur menyimpan risiko politik. 

Dimana Negara?
Gali lubang, tutup lubang. Pinjam uang bayar utang. Nampaknya itulah slogan yang pas untuk kondisi Indonesia saat ini. Indonesai darurat utang. Bukan malah berkurang, malah bertumpuk tak karuan. Indonesia, negeri kaya Sumber Daya Alam namun juga berlimpah utang. Miris memang, seharusnya dengan kekayaan itu Indonesia masuk jajaran salah satu negara terkaya seperti halnya Norwegia. Kemakmuran negara tersebut bersumber dari pemanfaatan dari sumber alam yang dimilikinya. Padahal kekayaan alam Indonesia jauh lebih banyak dan berlimpah. Namun, apa dikata,  nasib berbeda, Norwegia menjadi negara paling maju dan makmur di dunia. Sedang Indonesia, negara kaya sumber alamnya tapi melimpah utangnya pula.

Sejatinya, Indonesia bisa membangun insfrastruktur sendiri asalkan mengkayakan diri dengan memanfaatkan sumber alam yang dimilki. Namun yang terjadi, kekayaan negeri malah dijual ke negara kapitalis asing. Tengok saja freeport, blok migas di berbagai wilayah, serta beberapa infrastruktur strategis milik negara, jalan tol misalnya dijual dengan mudahnya ke tangan penjajah. Negeri kaya sember daya, namun lemah karena dijajah. Negeri zamrud katulistiwa, namun emas saja bukan miliknya. Selama sistem kapitalisme berkuasa, Indonesia tak akan pernah menjadi Macan Asia. Selama Penjajah asing mengeruk kekayaan kita, Indonesia tak akan mandiri membangun infrastrukturnya. Indonesia bisa membangun infrastrukturnya asalkn kekayaan alam menjadi sumber kehidupannya. Kekayaan alam negeri dikelola sedemikian rupa ketika sistem Islam yang mengaturnya, bukan kapitalisme yang terus menrus mengeruknya.

Sudah saatnya pengaturan kekayaan alam dikembalikan kepada aturan Sang Pencipta alam raya. Sepanjang 13 abad lamanya, terbuti syariat Islam memberikan kemakmuran seadil-adilnya. Sepanjang peradaban dunia ada, Islam memberikan kemajuan teknologi yang tak ada tandingannya di masanya. Berharap kepada kapitalisme yang sudah nyata bobroknya, tak akan menghasilkan apa-apa. Hanya kesengsaraan dan kesenjangan yang didapatkan. Negara kapital menjadi kaya karena mental Imperialismenya terhadap negeri-negeri kaya Sumber Daya Alam. Islam menjadi negara adidaya karena sistem Islam yang menjadi solusi persoalan kehidupan. Syariat Islam membawa rahmat untuk semua, Kapitalisme membawa sengsara untuk alam raya. Sebagaiman firman Allah Ta’ala:
 وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107). [MO]

Posting Komentar