Oleh : Kusmini A. Md 
( Pemerhati masalah sosial dan keluarga)

Mediaoposisi.com- Seiring perkembangan jaman segala fasilitas serba mudah membuat kita terlena. Cukup dengan menggunakan jempol, makanan bisa cepat terhidang, belanjaan bisa langsung datang, begitu juga dengan transportasi. Tentu saja semua itu tidak di dapatkan dengan mudah. Cukup besar biaya yang di keluarkan untuk memenuhi kebutuhan bersosial media ini. Banyak rayuan  terutama untuk perempuan, tas,  sepatu,  aksesoris. Bila tidak pandai menahan nafsu berbelanja, maka kekuatan jempol beraksi, order lalu transfer. Berawal dari mencoba lalu ketagihan.

Sehingga pemenuhan kebutuhan sehari - hari pun bergeser. Suami memberikan uang untuk biaya hidup sekeluarga, berubah menjadi biaya "gaya hidup". Tak menyadari kehidupan hedonis dilalui, pemikiran liberal pun menghantui. Lama kelamaan menjadi kebiasaan, kebutuhan utama keluarga terbengkalai,  tak jarang suami istri sering cek cok karena  biaya "gaya hidup". 

Dikutip dari cnnindonesia.com, banyak yg berujung perceraian,  bahkan berita terbaru di Tanggerang Mukhtar Effendi alias Pendi (51) seorang suami diduga membunuh Titin Suhemah sebagai istrinya dan ke dua anaknya di karenakan si istri yang dinikahi siri itu membeli mobil dengan cara kredit tanpa sepengetahuan suaminya.

Perhatian tertuju hanya bagaimana agar memperoleh uang yang banyak,  agar gaya hidup bisa di nikmati dengan mudah. Masyarakat sekitar akan sangat menghargai dengan keberadaan barang - barang yang sebetulnya bukanlah kebutuhan utama. Omongan dan tanggapan dari masyarakat sekitar  sangat penting bahkan bersifat utama agar mereka mendapatkan pengakuan keberadaan (eksistensi) mereka di khalayak umum. Tetapi mereka lupa cara seperti apakah untuk mendapatkan biaya gaya hidup tersebut. Berhutang,  kredit sana sini, akhirnya praktek ribawi pun mereka jalani. Terkuasai nafsu dunia dan lupa dengan cara halal atau haram kah cara mendapatkanya.

" Akan datang terhadap manusia suatu zaman ( ketika itu) seorang tidak lagi perduli dengan apa yang dia dapatkan,  apakah dari yang halal atau haram " (HR. Albukhari).

Bergulirnya kemudahan dalam kehidupan, baik dari segi aturan pemerintah, bergesernya norma sosial, menggerus sisi pondasi agama dalam keluarga, suami sebagai pemimpin dan pencari nafkah dalam keluarga tak jarang dianggap tak becus memenuhi kebutuhan keluarga karena tidak bisa mengikuti gaya hidup istri yg sudah  terjangkit virus hedonis. Pola hidup hedonis ini adalah buah dari penerapan sistem sekularis, yang tidak kita sadari menjangkit hampir di semua aspek kehidupan.

"Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak - anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang paking besar " ( Al-Anfal : 28 ).

Dari semua kebutuhan manusiawi, kebutuhan dalam beragama sering terabaikan. Memisahkan agama dari kehidupan (sekularis) malah akan semakin membawa kehidupan kita menjadi sia sia saja,  padahal kebutuhan beragama merupakan pondasi untuk menopang semua kebutuhan tersebut. Dalam islam segala aspek kehidupan tetata rapi sampai hal terkecil. 

Dalam sebuah keluarga seyogyanya memiliki komitmen untuk menetapkan skala prioritas dalam pemenuhan kebutuhan, kebutuhan primer baik berupa sandang pangan papan, biaya sekolah, kesehatan sudah selayaknya menjadi prioritas utama, dimana akan berefek pada terpenuhinya kebutuhan immaterial yaitu kenyamanan, kelayakan, rasa aman, dan kasih sayang yg cukup dalam keluarga tersebut.

Kembali kepada aturan Allah adalah solusi tepat, permasalahan dalam keluarga akan tertangani dengan baik. Seimbangnya pemenuhan jasmani dan rohani menjadikan keluarga yang ideal,  minim angka perceraian,  dan penemuhan kebutuhan yang sangat di perhatikan oleh negara. Karena penetapan aturan Allah tertata mulai dari tataran individu, masyarakat sampai kepada negara.

Selalu bersyukur atas apa yg kita dapatkan tentu akan lebih baik,  karena Allah maha mengetahui kebutuhan umatnya. Menambah beban hidup dengan gaya hidup yang serba wah bukan lah solusi di kala perekonomian keluarga hanya dapat memenuhi biaya hidup saja. Pengakuan keberadaan (eksistensi) dalam bergaul menjadi hal yang utama,  padahal aturan Allah dia langkahi, berikhtiar dan selalu mendoakan suami mendapatkan rizki yang halal dan baik menjadi tabu di lakukan karena silau dengan gemerlapnya perhiasan dunia.

Tujuan dalam pernikahan mitsaqon gholizhon (ikatan yang kuat) hanya menjadi syarat terucap nasihat pernikahan. Seharusnya suami dan istri saling mengingatkan, menguatkan, mengokohkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Terlena dalam kehidupan dunia, lupa akan bekal kehidupan abadi di surga. Tidak kah kita merindukan berkumpul bersama dengan keluarga di surga Nya Kelak?. [MO]

Posting Komentar