Oleh : Husain Matla
(Penulis Buku "Ekonomi Penyangga Jihad")

Mediaoposisi.com- Perbedaan itu ciptaan Tuhan sendiri, kalau melawan perbedaan berarti melawan Tuhan sendiri. Umat Islam jangan ekstrim dan radikal. Jangan juga bilang kafir, bid'ah. Alloh itu maha bid-ah karena kreatif. Mengucapkan Gong Xi Fat Cai boleh-boleh saja. Mereka jauh lebih lama eksis dibandingkan umat Islam. Adalah salah bila anda beragama hidupnya tidak damai. Orang beragama adalah benar bila bisa makan enak, tidurnya nyeyak, hidupnya serba nyaman. 

Jangan seperti Ibnu Taimiyah. Ulama besar itu memprovokasi umat Islam agar berani melawan Mongol. Kalian sanjung ulama itu karena setelah itu negara adikuasa brutal itu kalah, digantikan khilafah Islam, negara idola kalian itu. Ngapain repot2, kayak Mongol tidak bisa berdamai saja. Lihat tahun 45, tinggal menuruti orang-orang Kristen dengan mencabut rencana tegaknya syariat Islam, langsung damai. Orang kafir itu gampang kok, asal kita mau ngalah, tidak memaksakan hukum kita, urusan selesai. Perkara kita jalankan hukum mereka, itu kan keputusan kita juga, kesepakatan kita sendiri..., damai. 

Jangan pula ikut Muhammad Al Mahdi, pimpinan Abbasiyah ketiga, memerangi orang-orang Zindiq, yang mirip komunis itu. Sehingga jumlahnya mengecil di kekhalifahan Abbasiyah. Padahal, itu kan agama asli Persia, yang lebih dulu ada dibanding Islam. Parahnya, ulama2 besar Abbasiyah kayak Al Qadhi Abu Yusuf, kok ya mendukung. Ngapain? Orang kafir itu asal kita bisa ngemong dan memberdayakan, gampang kok. Bahkan mereka bisa ikut membangun negeri kita. Kayak sekarang ini, mereka sedang bergairah dengan Reklamasi dan Meikarta. Gini kan indah. Maju, damai !!! Kalian katakan Abbasiyah menjadi yang termaju di dunia, kayak AS sekarang. Tapi kan AS berdasar kesepakatan. Perkara bagaimana menuju sepakat gimana, emangnya gue pikirin. Gitu aja kok repot. 

Sikap Al Mahdi itu tak beda dengan Soeharto, yg memerangi komunis. Atau seperti Soekarni, yg memprovokasi Soekarno melawan penjajah. Perang melulu. Damai gitu lho, kalau toh perang, itu seperti ksatria hijau yg mengganyang komunis, atau melawan Nica di Surabaya, ketika sudah jelas rakyat bersepakat melawan. Jadi, sudah kesepakatan. Lagian tinggal ikut arus kan enak.. Jangan kayak Harto dan Karni itu, jadi inisiator perang.

Yang parah banget itu Utsman bin Affan dan Muhammad al Fatih. Satunya mengalahkan Persia. Satunya mengalahkan Romawi. Keduanya terhapus dari peta dunia. Eman-eman. Negara semaju itu kok dihapuskan dari bumi. Mereka bisa memandu kita sebagaimana Belanda dulu memimpin kita. 

Paling parah itu Muhammad, nabi kalian itu. Ialah yang menginspirasi semuanya. Ia katakan, "Umirtu an aqaatalan naas hatta yaqul la ilaha ilallah, muhammadar rasulullah". Coba, katanya, dia disuruh memerangi manusia sampai mengimani Tuhan-nya hanya Allah dan Muhammad utusannya. 

Muhammad itu kan menuhankan Allah, yang kukatakan di awal, maha bid'ah. 

Semua ini tentu kuhamburkan ke semua pihak, baik di dunia maya maupun dunia nyata.., jika aku tidak iman dan Islam. 

Kapan kalian bisa masuk neraka. Bukankah orang yg selama ini suka mengajak pada perdamaian, kayak artis dan lgbt, nanti akan bisa sampai neraka. Kalian tak akan bisa beserta mereka.

Damai. Damai gitu lho. Tidak perlu ada yang dilawan di dunia ini. Sekejam dan semaksiat apapun.

Perang itu berat. Biar kamu saja ! Ha ha ha... ehh hi hi hik... [MO]

Posting Komentar