Guru Budi,  Matinya Budi Pekerti Generasi
Oleh : Asmarida. Spd. I (Praktisi Pendidikan)


Mediaoposisi.com| Kisah pilu menampar dunia pendidikan pada tahun 2018 ini. Bahkan di Indonesia, peristiwa tragis guru dianiaya oleh siswanya sendiri hingga tewas, bisa jadi baru ini pertama kalinya. "Seorang siswa, HI (17), yang belajar ilmu bela diri dan dikenal sebagai pendekar menghajar gurunya, Ahmad Budi Cahyono hingga meregang nyawa"  (Sumber : Tribunkaltim.co).

Tak seorangpun menduga Ahmad Budi Cahyono meninggal pada Kamis (1/2/2018) malam setelah dianiaya oleh HI di sekolah pada sore harinya. Setelah dianiaya, Budi Cahyono sempat pulang dan mengeluh lehernya sakit. Dia sempat dilarikan di Rumah Sakit Sampang hingga ke RSU dr Soetomo Surabaya. Sang guru meninggal akibat mati batang otak.

"Peristiwa ini berawal dari dalam kelas saat korban mengisi pelajaran di kelas XII. Korban menegur pelaku karena tidak menghiraukan pelajaran yang disampaikan korban. Sampai beberapa kali ditegur, pelaku tetap tidak menghiraukan sehingga terjadi debat antara keduanya. Setelah perdebatan terjadi, pelaku kemudian menganiaya korban.  (Sumber : kompasiana.com).

Kisah duka itu sepatutnya menjadi bahan evaluasi dalam dunia pendidikan saat ini. Saya selaku orang yang bekecimpung pada dunia pendidikanpun turut prihatin dan menyesali peristiwa pilu guru budi tersebut.  Seorang remaja yang pada usianya sudah memiliki kemampuan tamyiz (mampu membedakan yang benar dan salah)  dengan beraninya menganiaya gurunya sendiri adalah hal yang tidak patut dan tidak sewajarnya dilakukan seorang anak didik.

Banyak faktor munculnya kenakalan remaja, menurut Kumpfer dan Alvarado, Minggu (2011) diantaranya adalah : 

1.Kurangnya sosialisasi dari orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial.

2. Contoh perilaku yang ditampilkan orangtua (modeling) di rumah terhadap perilaku dan nilai-nilai anti-sosial.


3. Kurangnya pengawasan terhadap anak (baik aktivitas, pertemanan di sekolah ataupun di luar sekolah, dan lainnya).

4. Kurangnya disiplin yang diterapkan orangtua pada anak.

5. Rendahnya kualitas hubungan orangtua-anak.

6. Tingginya konflik dan perilaku agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.

7. Kemiskinan dan kekerasan dalam lingkungan keluarga.

8. Anak tinggal jauh dari orangtua dan tidak ada pengawasan dari figur otoritas lain.

9. Perbedaan budaya tempat tinggal anak, misalnya pindah ke kota lain atau lingkungan baru.

11. Adanya saudara kandung atau tiri yang menggunakan obat-obat terlarang atau melakukan kenakalan remaja.

Faktor diatas diungkapkan oleh para pakar dan realitanya banyak yang memang demikian penyebab kenakalan remaja. Namun jika kita ingin melihat permasalahan mendasarnya sebagai seorang muslim. Tentu faktor utama ada pada tatanan keluarga. Dimana Islam telah menjadikan fungsi religius dan edukasi terhadap anak adalah kewajiban para orang tua.

Dan realita pada anak didik yang tak memiliki adab kepada guru Budi, menunjukkan matinya nilai-nilai moral pada generasi hari ini juga disebabkan banyak faktor.  Tidak bisa kita hanya menyalahkan dunia pendidikan sekolah saja. Karena keluarga,  masyarakat dan negara juga punya peran yang penting dalam mendidik generasi.

Pendidikan Dalam Islam
Tujuan pendidikan dalam pandangan Islam adalah untuk membentuk keperibadian Islam (syakhsiyah islamiyah) bagi setiap Muslim serta membekali diriny dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan.

Pendidikan dalam Islam merupakan keperluan yang paling mendasar. Sebagaimana keperluan terhadap makan, minum, pakaian, rumah, kesehatan, dan sebagainya. Negara wajib menjamin pendidikan yang bermutu bagi seluruh warganegaranya hingga ke perguruan tinggi dengan kemudahan-kemudahan yang disediakan dengan sebaik mungkin (An-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah, hlm. 283-284).

Secara strukturnya, kurikulum pendidikan dalam  Islam dibagi menjadi  tiga komponen utama: (1) pembentukan keperibadian Islam; (2) penguasaan tsaqafah Islam; (3) dan penguasaan ilmu kehidupan (sains dan teknologi, kepakaran serta kemahiran). Dan negara memiliki andil untuk menyediakan pendidikan bebas biaya. Karena kepala negara (baca : khalifah)  adalah pengurus rakyat. Sebagaimana sabda-Nya :

“Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya” [HR al-Bukhari dan Muslim].

Maka mendidik anak adalah tanggung jawab bersama. Tidak akan pernah bisa dunia pendidikan memiliki karakter mulia jika masih pada tatanan aturab memisahkan nilai-nilai agama dari sendi-sendi kehidupan. Karena agama menjadi pondasi setiap manusis dalam segala hal. Menjadi penerang untuk menilai baik dan salah.

Maka tidak cukup seorang anak hanya sholeh di tengah-tengah keluarganya saja. Namun perlu bantuan dan kepedulian masyarakat untuk membentuk kesholehannya pula. Dan negara menyokong dari segala hal yang menyangkut pendidikan anak.

Namun ketika semua "cuek dan abai" akan lahir generasi tak beradab baik kepada orang tua,  guru,  dan bahkan negaranya.  Sikap cuek dan abai dari peran pentingnya orang tua adalah awal kehancuran sebuah generasi. Sikap Cuek dan abai masyarakat adalah kehancuran suatu bangsa. Apalah lagi sikap cuek dan abai dari negara adalah kehancuran suatu negeri ini.

Maka semua memiliki andil membentuk kualitas pendidikan gemilang di negeri ini. Semoga kasus guru Budi ini, bukan bertanda matinya budi pekerti di negeri ini.  Namun awal yang baru dalam dunia pendidikan untuk segera berbenah diri agar tidak memisahkan agama dalam setiap sendi kehidupan ini.  (Wallahu A'lam bisshawab). [MO]

Posting Komentar