Oleh : Shafayasmin Salsabila 


Mediaoposisi.com-"Api kecil menjadi kawan, besar menjadi lawan. Karenanya jangan berani bermain-main, jika tak ingin terbakar".

Kata mutiara yang cocok untuk para artis yang tak ingin terjerat narkoba. Pasalnya setelah seorang artis bernama Roro Fitria terciduk, selanjutnya 5 anggota keluarga penyanyi senior Elvy Sukaesih, turut memperpanjang daftar kalangan selebritis nusantara yang tersandung kasus narkoba. 

Setelahnya menyusul ditangkap pula oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, artis Rizal Djibran yang diduga melakukan penyalahgunaan narkotik jenis sabu pada Rabu (21/2) dini hari. (Jakarta, CNN Indonesia) 

Yang lebih fenomenal lagi,Satgas Gabungan Polri yang bekerja sama dengan Bea Cukai pada Selasa (20/2) mengungkap penyelundupan sabu dengan perkiraan mencapai 1,6 ton (sebelumnya Dirtipid Narkoba menyebut 1,8 ton, Red). 

Pengungkapan itu terjadi di perairan Anambas Batam, Kepulauan Riau yang diangkut oleh sebuah kapal berbendera Singapura dengan awak kapal empat orang WNA. (REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA) 


Indonesia 'Sakaw' 

Ironi negeri, Indonesia didaulat sebagai surganya narkoba. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso atau Buwas mengungkapkan Indonesia dinyatakan darurat narkoba sejak tahun 1971. Sampai hari ini masih darurat narkoba. Berarti tidak ada perubahan yang terjadi dari 1971 sampai saat ini. 

"Jumlah korban semakin besar, perkembangan peredarannya semakin besar. Pemakaiannya semakin besar. Karena kita semua tidak serius menangani masalah narkoba. Kita cukup mendengungkan darurat narkoba, sudah", ucapnya. (MALANG, KOMPAS.com) 

Narkoba menyasar siapa saja. Di berbagai lini dan usia. Dari mulai akar rumput hingga artis bahkan pejabat. 
Semua berebut candu. Kondisi 'sakaw' (ketagihan narkoba) akan memaksa seseorang dengan cara apapun untuk mendapatkan narkoba. Karenanya, meski harganya fantastik, barang haram ini tak pernah sepi dari peminat. 

Jika generasi demi generasi dibiarkan sakaw berlarut-larut. Maka akan rusaklah tatanan sosial. Ketidak produktifan akan semakin meningkat. Begitupun angka kriminalitas. Mau dibawa kemana nasib bangsa ini? 

Bahagia di Ujung Candu

Berton-ton narkoba merengsek masuk melewati perairan Indonesia. Terbayang sudah jumlah pemakainya sebanyak apa. 

Jika ditelusuri lebih jauh. Ada beberapa alasan mengapa begitu banyak sekali manusia yang bertekuk lutut dibawah bayang narkoba? Salah satunya adalah pencarian akan kebahagiaan.

Mereka yang hidup dibawah tekanan ataupun pengabaian butuh pelarian dan pengakuan. Seperti ada keinginan untuk jeda sejenak, melupakan segala penat dan masalah yang ada. Agar setitik kedamaian itu hadir. 

Demi berjumpa dengan satu rasa yang dirindui yakni bahagia.
Narkoba menawarkan itu. Padahal demi sekejapnya udara bahagia yang dihirup, ada masa depan yang tengah dipertaruhkan. Ada pusara yang sedang digali oleh kedua tangannya sendiri. 


Sistem Kehidupan yang Busuk

Muncul satu pertanyaan dalam benak, apakah begitu sulitnya mencari bahagia? 
Manusia hidup dipeluk oleh sistem. Saat ini, aturan kapitalisme mendidik jiwa-jiwa untuk menuhankan kebebasan.
Kebebasan yang ambigu, bersayap, multi tafsir, tak jelas batasnya, telah mengusir kebahagiaan yang sejati.

Fatamorgana hura-hura memikat tiap mata, hingga manusia menduga bahagia ada di sana. Padahal semuanya hanya ilusi. Tak ada yang menjamin harta, tahta dan wanita sebagai sumber kebahagiaan. Sesat pikir. 
Karena nyatanya dari ketiga hal itulah prahara dan drama kehidupan dimulai. Ketiganya justru menjadi fitnah bagi manusia. Muara bermunculannya ujian dan masalah. 

Menjadi tak aneh lagi, mengapa di layar kaca air mata tumpah membasahi pipi mulus selebritis. Artis internasional papan atas yang berlomba bunuh diri. Apalagi derita si pemilik badan yang tinggal di rumah kardus.

Yang mampu ditawarkan dari sistem kehidupan sekuler-kapitalistik saat ini tidak jauh dari kata nelangsa. Karenanya bahagia menjadi barang langka. Lantas bermainlah para pembisnis. Mereka mengendus ada pangsa pasar yang besar di negeri Khatulistiwa. Orang-orang yang ingin dibahagiakan. Pada titik inilah narkoba ditawarkan. 


Obati Candu dengan Agama

Kalangan sosialis, mengklaim bahwa agama adalah candu. Sangkaan yang gegabah dan sangat keliru. Tentu jika telunjuk mereka diarahkan kepada islam. 

Karena bagi siapapun yang melakukan pengkajian dan pendalaman. Tidaklah ada satu celapun dari ajaran islam. Kebengkokan niscaya ada dalam Alquran. Allah Ta'ala sendiri yang telah menjaminnya. 

Sebaliknya, sebagai agama sekaligus pandangan hidup, islam adalah obat bagi para pecandu. Untuk siapapun yang tengah mencari bahagia. Maka jawabannya akan ditemui dalam islam. 

Manusia bangkit dengan pemikirannya. Islam mengawal setiap individu untuk berfikir tentang hal yang fundamental. Tentang hakikat dirinya. Misi hidupnya serta akan kampung halamannya.

Benak yang dipenuhi iman akan mencukupkan keseluruhan ruangannya diisi dengan bahagia. Rasulullah Saw bersabda :

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin;

jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”
[HR. Muslim]

Dalam kondisi apapun semuanya baik. Artinya seorang muslim selalu punya alasan untuk bahagia.
Ditambah lagi dengan kesempurnaan ajarannya, islam memiliki serangkaian cara untuk memecahkan setiap masalah kehidupan manusia.

Tergambarlah sebuah kehidupan yang jauh dari tekanan, saling peduli dan menyayangi, dengan tingkat ketakwaan yang tinggi.

Bersama budaya amar ma'ruf nahi munkar di tengah masyarakatnya yang mengingatkan jika ada seseorang yang khilaf. Tidak permisif pada kemaksiatan.

Dipayungi oleh negara yang serius mengurusi kepentingan keseluruhan warganya. Memenuhi jaminan kesejahteraan serta melindunginya dari gempuran barang haram, termasuk di dalamnya adalah narkoba.

 Tegas serta tidak tebang pilih dalam memberi sanksi terhadap pelanggaran. Negara berperan menjadi tameng dari para musuh islam yang berniat buruk untuk menghancurkan generasi. 

Dengan demikian, sistem kehidupan islam menjadi pemutus mata rantai peredaran narkoba. Generasi terselamatkan dari bahaya. Bahagia di depan mata. Tidakkah kita merindukan sekaligus mendambakannya?[MO]

Posting Komentar