Yogyakarta| Mediaoposisi.com- Jumat (16/02) , Komunitas Lingkar Studi Mahasiswi Peduli Negeri, kembali mengadakan agenda diskusi antar pergerakan mahasiswi muslimah yang dilaksanakan pagi hari di Kantin Parkiran Terpadu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diskusi yang dihadiri puluhan orang mahasiswi dari beberapa lembaga yang ada di kampus UIN Sunan Kalijaga tersebut mengangkat tema “Kartu Kuning Jokowi : Catatan Kritis Mahasiswi Peduli Negeri”.

Aksi nekat menyemprit dan memberi kartu kuning kepada Presiden Jokowi oleh Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, menjadi perbincangan hangat di sosial media hingga di dunia nyata. Banyak kalangan yang mengapresiasi keberanian sosok Zaadit di tengah redupnya daya kritis mahasiswa. Namun ada juga pihak yang kontra tehadap aksi tersebut, ada yang mengatakan Zaadit tidak tahu sopan santun, dan menganggap aksi Zaadit adalah pesanan dari parpol tertentu.

Memasuki sesi acara, Wahda sebagai moderator mengarahkan seluruh peserta untuk semangat mengikuti penyampaian materi. Pemantik pertama, Nabila Rahma, yang merupakan Ketua Umum Korps HMI-wati menyampaikan tanggapannya terhadap aksi Zaadit dari perspektif semiotika Pierce, seorang bapak filsuf yang membahas fenomena sosial dari simbol/ tanda. ). 

Ia memaparkan ibarat tanda segitiga ada representament, objek dan interpretant. Karena aksi Zaadit menggunankan tanda (buku berwarna kuning) maka itu disebut representament dengan ground “pemerintahan Jokowi”. Sedangkan object nya adalah peringatan yang ditujukan kepada Presiden Jokowi, adapun interpretantnya adalah tiga tuntutan yang dibawa Zaadit (KLB gizi buruk di Asmat, Papua, wacana pengangkatan pejabat gubernur dari kalangan polri aktif dan aspirasi BEM UI menolah draf permendikti tentang organisasi mahasiswa). Ia juga menyayangkan fenomena Zaadit ini malah menjadikan sebagaian masyarakat mencari kesalahan Zaadit, tidak pada fokus tuntutan Zaadit yakni masih banyak tugas kenegaraan Jokowi yang belum diselesaikan.

Pemantik kedua, Siti Mulya Nurjanah perwakilan Koordinator Forum Perempuan Aliansi BEM SI Jateng-DIY juga menyampaikan pendapatnya dari perspektifnya tentang aksi Zaadit. Menurutnya, memang banyak sekali tugas-tugas Presiden Jokowi yang belum terselesaikan. Hal inilah yang menjadi perhatian mereka di BEM. Ia juga menampik anggapan bahwa apa yang dilakukan Zaadit adalah pesanan parpol tertentu, sebab menurutnya idealisme teman-teman BEM bukanlah pragmatis. Ia juga menyampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh presiden Jokowi sebatas pencitraan.

Pemantik terakhir Rahmadinda Siregar, Koordinator Lingkar Studi Mahasiswi Peduli Negeri memaparkan fakta sejarah pergerakan mahasiswi sebagai kelompok penekan (pressure group) senantiasa menjadi sorotan penguasa. Ia menyampaikan sejak era kemerdekaan hingga era orde baru, mahasiswa tidak pernah absen dari tugas nya sebagai agent of change. Di masa orde lama lahir aktivis angkatan 66’, yang saat itu kekeuh menentang kebijakan-kebijakan Sukarno. Rezim orde lama runtuh, namun sayang apa yang terjadi? idealisme sebagaian mahasiswi luntur saat ditawari kekuasaan. Di tahun berikutnya 74’ mahasiswa tampil mengkritik kebijakan rezim orde baru yang saat itu gemar berhutang, menaikkan harga BBM dan kebutuhan pangan. Hingga puncaknya di tahun 1998 mahasiswa semakin gerah dengan kebijakan penguasa yang terus menyengsarakan rakyat. 20 Mei 1998 resmi rezim orde baru diruntuhkan. Memasuki Reformasi, suasana tak jauh berbeda, korupsi semakin merajalela, privatisasi SDA hingga menggunungnya hutang luar negeri masih terus mewarnai. Bahkan di masa Presiden Jokowi mencoba menghidupkan kediktatoran gaya baru dengan menerbitkan Perppu ormas, kriminalisasi ulama dan aktivis pasca 411,212. 

Di akhir, Dinda menyampaikan pernyataan retoris “lalu mau dibawa kemana arah perjuangan mahasiswa  jika bukan ke arah Islam. Komunisme telah runtuh 1991, dan menyusul ajal Kapitalisme. Mengapa kita tidak melirik Islam? apakah ingin reformas jilid dua lagi?”. Ia menyampaikan seharusnya dengan berbagai kondisi yang terjadi saat ini, harusnya mahasiswa berfikir ulang mendiagnosis persoalan mendasar negeri ini, yakni diterapkannya sistem rusak-Kapitalisme Demokrasi-yang melegalkan berbagai perampokan SDA, LGBT, kenaikan BBM dll. Kasus Zaadit ini harusnya menjadi ‘nyala’ bagi mahasiswa untuk merumuskan perjuangannya, yakni mengarahkan perjuangan tersebut ke arah Islam Kaffah.

Di sesi diskusi peserta antusias memberikan tanggapan dan pertanyaan kepada masing-masing pemantik. Tepat pukul 11:00 acara ditutup oleh moderator dengan clossing statement dari masing-masing pembicara. [MO] 

Dokumentasi



Posting Komentar