Oleh: Pahriati, S.Si*

Mediaoposisi.com- Belum reda kehebohan pasca penangkapan beberapa artis yang terjerat narkoba. Kini di berbagai media kembali heboh dengan penangkapan kapal yang membawa narkoba jenis sabu. Tak tanggung, jumlahnya mencapai 3 ton. Kapal tersebut merupakan kapal ikan yang berasal dari Taiwan. Sebelumnya juga juga telah dilakukan penangkapan kapal yang membawa 1,6 ton sabu.

Bisa dibayangkan jika sabu tersebut lolos, berapa puluh juta manusia yang menjadi korban. Mirisnya, ini bukan kasus pertama. Hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang penangkapan para pemakai atau pengedar narkoba, baik skala kecil maupun besar.

Sepanjang 2017 saja, BNN (Badan Narkotika Nasional) telah mengungkap 46.537 kasus narkoba di seluruh Indonesia.  BNN menyita ratusan ton barang bukti narkoba. Rinciannya berupa 4,71 ton sabu-sabu, 151,22 ton ganja, dan 2.940.748 butir pil ekstasi dan 627,84 kg ekstasi cair. Selain itu, BNN telah mengidentifikasi sebanyak 68 jenis narkoba baru yang telah masuk dan beredar luas di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Kepala BNN, Komjen Budi Waseso di Gedung BB, Jakarta Timur. (news.indtimes, 27/12/2017)

Penggunanya sudah merata, dari anak-anak hingga orang dewasa. Dari kota hingga ke pelosok desa. Dari orang kaya hingga orang biasa. Jenisnya pun makin beraneka rupa. Sebagian diproduksi di dalam negeri, sebagiannya dari luar. Dari beberapa kasus besar yang terbongkar, kebanyakan berasal dari Taiwan.

Narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) pada mulanya diproduksi untuk pengobatan, seperti penghilang rasa sakit atau penenang. Penggunaanya harus dalam pengawasan dokter. Namun nyatanya narkoba telah banyak disalahgunakan.

Perang narkoba di Indonesia telah lama dikumandangkan. Bahkan dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa. BNN, badan khusus yang menangani perkara narkoba telah lama berdiri. Kepolisian dan aparat lain juga nampaknya tidak berdiam diri. Tapi kenapa narkoba masih merajalela?

Patut kita pertanyakan, beragam kasus yang terungkap menandakan keberhasilan aparat dalam perang melawan narkoba? Atau justru sebaliknya, merupakan gambaran ketidakberdayaan melawan mafia narkoba? Karena faktanya, makin hari narkoba makin menggila. Lalu adakah solusinya?

Banyak alasan orang menggunakan narkoba. Ada yang memakai untuk penenang, mengurangi stres akibat tuntutan hidup yang makin tinggi. Ada pula yang memakai untuk meningkatkan kepercayaan diri., memunculkan keberanian, menghilangkan rasa sakit, atau alasan lain. Berawal dari coba-coba, akhirnya menjadi ketagihan.

Padahal jelas bahwa penggunaan narkoba di luar pengawasan medis akan berakibat fatal. Hidup si pengguna akan hancur, pikiran tak waras, bahkan berujung pada kematian. Mereka juga bisa melakukan perbuatan yang mengganggu atau membahayakan orang lain. Dan ketika sudah ketergantungan, pengguna akan terus berusaha mencarinya dengan cara apapun. Lebih jauh, semua akan berujung pada kehancuran generasi.

Bagi para kapitalis, hal ini justru menjadi lahan bisnis yang sangat menggiurkan. Mereka tak peduli efek yang akan ditimbulkan, membawa bahaya atau tidak. Mereka juga tak peduli perkara halal dan haram. Selama ada permintaan, maka barang akan terus diproduksi. Bahkan, mereka akan berusaha menggunakan beragam cara untuk menjerat korban-korban baru.

Ditambah lemahnya hukum di negara kita. Pengguna dikenakan hukum yang tak seberapa. Sebagian malah hanya direhabilitasi saja. Begitu pula dengan pengedarnya. Hukuman yang diberikan tak menimbulkan efek jera. Saat ada wacana hukuman mati, malah banyak yang menentang dengan alasan HAM.

Parahnya lagi, hukum bisa dibeli. Sudah bukan rahasia, peredaran narkoba bisa dikendalikan dari balik penjara. Artinya, ada oknum sipir dan aparat yang terlibat. Saat uang berbicara, semua bisa diatur.

Karena itu, selama kapitalisme masih mencengkramkan kuasanya, termasuk di negeri kita yang tercinta, jangan harap narkoba akan sirna. Mafia narkoba bekerja secara terstruktur dan sistematis hingga jaringan internasional. Maka perlawanan-pun harus dilakukan secara sistematis. Perlu perbaikan individu masyarakat diiringi perbaikan dalam aturan negara.

Secara individu, penguatan keimanan penting dilakukan. Baik melalui keluarga, institusi pendidikan, atau jalur lainnya. Dengan iman yang kuat, seseorang akan takut berbuat maksiat, termasuk mengonsumsi narkoba. Karena dalam Islam jelas bahwa mengonsumsi zat yang memabukkan dan membawa bahaya seperti narkoba haram hukumnya. Dengan keimanan, seseorang  juga bisa lebih tenang menghadapi permasalahan hidup. Dia tidak akan menjadikan narkoba sebagai pelarian. 

Selain itu, kepedulian anggota masyarakat juga perlu ditingkatkan. Saling mengingatkan jika ada yang melakukan perbuatan menyimpang. Amar ma’ruf nahi munkar harus senantiasa dilakukan.

Adapun secara lebih luas, maka negara yang memainkan peran. Negara harus menerapkan aturan yang tegas bagi pengguna, apalagi pengedar. Dalam Islam, masalah narkoba terkategori hukum ta’zir. Artinya penetapan hukum diserahkan kepada qadhi (hakim dalam hukum Islam). Hukumannya tergantung tingkat kesalahannya. Bahkan bisa saja sampai hukuman mati. Tak ada tebang pilih dalam pemberlakuan hukum.

Para penegak hukum juga perlu dibina keimanannya, agar menjalankan hukum sesuai ketetapan. Mereka tidak akan tergoda dengan uang suap yang tak seberapa jika dibanding balasan di akhirat kelak. Lantas jika tetap saja menyelewengkan tugas, mereka juga perlu diberi sanksi, tak sekedar dipindah tugas. Pengontrolan ini merupakan tanggung jawab negara.

Dalam kerjasama antar negara, pengawasan juga perlu diperketat. Barang dan orang dari luar tidak bisa masuk secara bebas. Hal ini akan mengurangi risiko penyelundupan narkoba dari luar negeri.
Di sisi lain, negara juga harus menciptakan suasana kehidupan bermasyarakat yang kondusif. Kesejahteraan dan keamanan yang terjamin akan menjauhkan masyarakat dari rasa stres, sehingga tidak lari pada narkoba. Begitu pula saat lapangan kerja halal tersedia, masyarakat tidak akan berpikir untuk mencari pendapatan dari sumber yang haram seperti mengedarkan narkoba. Dari sini kita bisa melihat perlunya perbaikan dalam aturan kehidupan secara menyeluruh.

Terakhir, yang perlu dijadikan catatan, kehebohan kasus narkoba saat ini, jangan sampai mengalihkan fokus kita dari beragam kasus yang ada. Semisal, penganiayaan ulama dan teror di masjid; kasus korupsi; upaya pelegalan miras dan perkawinan sejenis melalui UU; pencabutan subsidi; dan setumpuk kasus lainnya yang terjadi secara sistemik.

Semua itu menegaskan bahwa yang kita perlukan bukan sekedar berganti pemimpin. Kita juga perlu pergantian sistem. Tinggalkan kapitalisme yang jelas membawa banyak kerusakan. Dan kembalilah kepada aturan Islam secara total. [MO]

*Guru di Tabalong, KalSel

Posting Komentar