Oleh : Trisnawati ( Member Revowriter6 Aceh)


Mediaoposisi.com- Indonesia saat ini menjadi pasar terbesar di Asia untuk penjualan dan peredaran narkoba, karena Narkoba paling mahal di Indonesia. Harga sabu di Taiwan hanya Rp 200.000 per gram, di China Rp 100.000 per gram, sementara di Indonesia jauh lebih mahal.

Dikutip dari Kompas.com, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi DKI Jakarta Brigadir Jenderal Pol Johny P Latupeirissa mengatakan bahwa warga Indonesia tidak pernah mempermasalahkan harga narkoba yang dijual. Mereka akan membeli berapa pun harga narkoba, selama barangnya ada.

"Masyarakat kita tidak pernah tanya berapa harganya (narkoba), tetapi dia akan tanya ada barang atau tidak. Berapa pun (harganya), pasti dia mau beli," ujar Johny dalam pertemuan dengan pengelola tempat hiburan malam (THM) di Gedung BNN DKI Jakarta, Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, Rabu (14/2).

Ia mengatakan, harga sabu di Indonesia dahulu hanya ratusan ribu rupiah per gram. Harga inex yang dulu Rp 80.000-Rp 100.000, sekarang bisa mencapai Rp 600.000 per gram. "Luar biasa harganya dan tetap laku. Berton-ton masuk ke Indonesia dan itu pasti akan habis," ucap Johny.

Indonesia menjadi pasar terlaris narkoba skala internasional. Dan ini menjadi lahan empuk bagi negara pemasok narkoba. Salah satu dari 11 negara pemasok narkoba terbesar di indonesia adalah cina. Berdasarkan data pengungkapan yang dilakukan oleh BNN 80% sabu itu produk Cina. Sedangkan pengguna narkoba di Indonesia tercatat sebanyak 5,1 juta jiwa. Setiap tahun, sekitar 15 ribu jiwa melayang karena menggunakan narkoba. Pengguna narkoba paling banyak itu berada di usia produktif 24-30 tahun. Sungguh sangat memprihatinkan dan saat ini indonesia dalam status darurat narkoba.

Ibarat fenomena gunung es, baik dari sisi pemakai yang kian hari kian banyak. Menunjukkan adanya pemakai yang tidak semuanya bisa terdata. Sebut saja artis-arti indonesia fachri Albar, Roro Fitria dan Dhawiya bersaudara yang ketangkap saat sedang memakai narkoba yang tentu diluar dugaan masyarakat bahwa mereka adalah pemakai, maupun dari sisi pemasok yang kian hari kian banyak ditemukan baik lewat darat, laut dan udara.

Semua elemen masyarakat sepakat bahwa narkoba adalah zat berbahaya bagi tubuh manusia. Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. Semua istilah ini, baik "narkoba" ataupun "napza", mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan akibat pemakaian di luar peruntukan dan dosis yang semestinya.(wikipedia.org).

Bahaya Narkoba bagi Generasi Penerus

Tidak salah jika dikatakan bahwa masa depan sebuah bangsa berada di tangan para generasi muda. Bagaimanapun, generasi muda ialah mereka yang akan menentukan bagaimana sebuah negara di kemudian hari. Mereka  adalah agent of change, di tangan mereka lah kebangkitan atau kemunduran suatu bangsa dipertaruhkan. Maka benarlah bahwa jika ingin menghancurkan sebuah bangsa, cukup hanya dengan merusak para pemuda-pemudinya saja.

Gempuran serangan pemikiran menjadikan generasi penerus terkikis keimanannya yang menghilangkan jati diri mereka.

Gaya hidup hedonis buah dari sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), menjerumuskan generasi penerus dalam kubangan narkoba yang menguntungkan para kapitalis.

Mereka tidak saja diuntungkan dari laris manisnya narkoba namun sekaligus diuntungkan secara ideologi dengan rusaknya generasi.

Beberapa bahaya narkoba bagi generasi muda diantaranya mempengaruhi kesehatan fisik kesehatan, bahkan pemakai narkoba beresiko tinggi terkena virus berbahaya yang mematikan yaitu HIV/AIDS. Mempengaruhi Psikologi, bahkan tak jarang akibat kecanduan narkoba melakukan memicu tindakan kriminalitas dan menghancurkan kehidupan serta masa depan generasi muda.

Ada beberapa faktor penyebab semakin laris manisnya narkoba di indonesia :

Individu
Indonesia dengan mayoritas penduduknya adalah muslim yang memiliki persepsi yang sama bahwa narkoba adalah zat yang diharamkan dalam agama islam.

firman Allah Suhanahu Wa Ta’ala,
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
Artinya: “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (Qs. Al A’raf [7]: 157).

Maka seharusnya keyakinan ini menjadi benteng bagi individu untuk tidak terjerumus dengan barang-barang yang diharamkan oleh agama. Namun ketika posisi agama hanya dijadikan sebagai pengatur masalah ibadah ritual saja maka wajar islam tidak berfungsi sebagai pelindung diri terhadap zat-zat yang haram.

Masyarakat
Masyarakat dalam islam merupakan elemen yang paling penting dalam pengontrol terhadap terlaksananya aturan. Namun ketika masyarakat tidak menyadari perannya dalam melindungi generasi karena racun pemikiran sekuler yang individualisme menjadikan masyarakat abai terhadap Individu-individu yang ada disekitarnya. Maka wajar jika tidak adanya kesamaan pemikiran, perasaan dan aturan menjadikan masyarakat abai dengan lingkungannya.

Negara
Ketidaktegasan pemerintah dalam membasmi pemasok dan memberi sanksi tegas kepada pemakai menjadikan narkoba kian menjamur. Seperti yang disampaikan oleh Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, percuma menyatakan perang terhadap narkoba namun pintu masuk narkoba dijual ke swasta. Pemerintah berencana menyerahkan kepada swasta pengelolaan 30 bandara dan 20 pelabuhan di seluruh Indonesia. Menurutnya, privatisasi bandara dan pelabuhan ini bisa menjadi pintu masuk bagi penyeludupan narkoba.

Sikap pemerintah seolah membiarkan rusaknya generasi akibat serangan narkoba dengan membuka pintu masuknya narkoba yang diserahkan pengelolaannya kepada swasta menunjukan bahwa pemerintah lebih mementingkan keuntungan material dibandingkan menyelamatkan generasi penerus bangsa. [MO]

Posting Komentar