Oleh : Fardila Indrianti, S.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Mediaoposisi.com- Artis Roro Fitria terciduk di kediamannya, Rabu (14/2) karena ditengarai memiliki Narkoba. Bahkan, sempat beredar kabar bahwa Roro akan membongkar beberapa artis yang ikut menikmati barang haram tersebut bersamanya.

Jumlah pengguna narkoba di Indonesia hingga November 2015 mencapai 5,9 juta orang. Hal tersebut disampaikan Komjen Pol Budi Wasseso Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) saat berkunjung di pondok pesantren Blok Agung Banyuwangi. “Indonesia sudah darurat bahaya narkoba dan hal itu sudah disampaikan oleh presiden. Sebelumnya pada bulan Juni 2015 tercatat 4,2 juta dan November meningkat signifikan hingga 5,9 juta”, ujarnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap peningkatan yang sangat ekstrem terkait kasus narkoba pada awal 2018 ini. Menurutnya, penangkapan sabu seberat 1,6 ton di Batam pada Selasa 20 Februari 2018 lalu menjadikan kasus ini meningkat tajam di banding sebelumnya. " Dua bulan pertama di 2018 ini sudah ada 2,932 ton tangkapan sabu dari 57 kasus”.
Menurut UU Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Pasal 1 ayat 15 UU No. 35 Tahun 2009, menyatakan bahwa penyalah guna adalah orang yang menggunakan narkotika secara tanpa hak dan melawan hukum. Orang yang menggunakan narkotika secara tanpa hak dan melawan hukum di sini dapat diklasifikasikan sebagai pecandu dan pengedar yang menggunakan dan melakukan peredaran gelap narkotika. (youthproactiv.com/14/03/2015)
Indonesia menjadi target besar dalam penyebaran narkoba. Mirisnya pengguna dan pengedar tidak hanya dikalangan orang dewasa saja tetapi menjerat anak di bawah umur. Pemerintah dinilai lalai dalam menangani peredaran narkoba, ini bukan tanpa sebab. Begitu banyak Undang-Undang yang berkaitan dengan hal ini, begitu pula telah gencar upaya yang di lakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam menaggulangi bahaya narkotika. Namun hal ini belum mampu memberikan dampak yang signifikan.
Fakta mengungkapkan bahwa peredaran narkotika di dalam lapas juga marak. Artinya, vonis pidana penjara dan penempatan para pecandu narkotika di dalam lapas tidaklah efektif, dan tidak menimbukan efek jera. Yang terjadi justru para pecandu tersebut  akan semakin kecanduan dan makin mudah memakai barang haram tersebut karena berbaur dengan para bandar, sindikat, dan pengedar narkotika. Disisi lain, sanksi hukum yang dijatuhkan terlalu lunak, vonis mati yang diharapkan bisa menimbulkan efek jera pun justru dibatalkan oleh Mahkamah Agung dan grasi presiden. Bandar dan pengedar narkoba yang sudah dihukum juga berpeluang mendapatkan pengurangan masa tahanan. Parahnya lagi, mereka tetap bisa mengontrol penyebaran narkoba dari dalam penjara. Tidak sedikit pula kasus narkoba yang melibatkan aparat penegak hukum, baik sebagai pengguna maupun pelindung para bandar narkoba.
Penyebab utama maraknya narkoba saat ini adalah penerapan pemahaman sekulerisme, sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya di pandang sebagai sesuatu yang telah kuno dan usang, yang penerapannya hanya dilaksanakan di tempat ibadah saja, agama hanya sebatas ibadah ritual saja tanpa harus diterapkan ke dalam segala sendi kehidupan. Hal ini menyebabkan pemahaman-pemahaman yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama atau yang dikenal dengan gaya hidup hedonisme dan apapun sah-sah saja dilakukan (permisif), ummat tak ubahnya menjadi pemburu kesenangan duniawi semata. Bukan lagi tentang haq dan bathil atau halal haram tetapi berdasarkan “suka-suka gue”, “suka sama suka”. Pada akhirnya, pergaulan bebas yang mengarah pada miras, narkoba, perzinaan, seks bebas, pelacuran, dan sebagainya, menjadi bagian dari kehidupan sebagian besar masyarakat kita.
Dalam pandangan Islam, tidak ada perbedaan di kalangan ulama mengenai haramnya narkotika. Sebagian ulama mengharamkan narkoba karena diqiyaskan dengan haramnya khamr, karena ada kesamaan illat (alasan hukum) yaitu sama-sama memabukkan (muskir). Sebagian menyatakan haramnya narkoba bukan karena diqiyaskan dengan khamr, melainkan karena dua alasan, Pertama, ada nash yang mengharamkan narkoba. Kedua, karena menimbulkan bahaya (dharar) bagi manusia. Ibnu Taimiyah berkata, “narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan”. (Majmu’ Al Fatawa, 34: 204)
Allah SWT telah mengharamkan segala sesuatu yang memabukkan dan yang dapat merusak jasmani dan rohani. Allah Ta’ala berfirman dyang artinya,
“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. (TQS. Al-A’raf : 157).
Begitu juga dalam surat Al-Baqarah ayat 195 yang artinya, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”. (TQS. Al-Baqarah: 195).
Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)”. (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Islam melarang keras manusia untuk melakukan hal-hal yang dapat merusak dirinya sendiri. Oleh sebab itu jika tetap bertahan pada sistem yang rusak sekarang ini, maka pemberantasan narkoba yang digadang-gadang pemerintah tidak akan pernah bisa terlaksana dengan baik. Tentu perlu ada upaya penyadaran pada setiap individu dan menghentikan laju penyebaran narkoba baik dikalangan pelajar, mahasiswa, masyarakat luas serta para public figur.  
Beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam memberantas penyebaran narkoba sesuai dengan aturan Islam. Pertama, harus ada kesadaran dalam diri setiap individu. Seorang muslim yang memiliki aqidah dan keimanan yang kuat akan berusaha menjalankan dan menjadikan seluruh syariat Allah SWT sebagai landasan dalam menjalani kehidupannya, ia akan menjadikan aturan Allah di atas segalanya sehingga hal-hal yang menimbulkan kemudharatan baginya dan orang lain akan dihindari. Jika banyak yang terjerumus mengkonsumsi barang haram tersebut dengan  alasan karena dirinya dibelit dengan berbagai problematika hidup, maka hal itu tidak akan terjadi pada individu yang bertakwa. Setiap muslim yang beriman, sejak awal meyakini bahwa Allah akan menguji dirinya dengan berbagai musibah dan cobaan. Sehingga jika suatu saat dirinya dihempas masalah berat yang belum bisa diselesaikan, ia tidak akan melarikan diri pada narkoba dan tenggelam dalam kenikmatannya. Ia akan meyakini dngan sepenuh hati bahwa musibah dan cobaan pasti datang menghampirinya untuk membuktikan tingkat keimanannya.
Kedua, peran serta masyarakat. Islam sangat menekankan pen­tingnya hidup berjamaah dan men­jaga kesehatan jamaah dengan cara amar ma'ruf nahi mungkar. Amar ma'ruf yang dilakukan secara me­nyeluruh, baik di keluarga dan lingkungan, organisasi dan jamaah dakwah, baik melalui media cetak maupun elektonik, akan membentuk kesadaran dalam masyarakat bahwa apa yang diharamkan Allah SWT dan Rasulullah SAW secara mutlak harus dijauhi.  Masyarakat harus bersinergi dalam menciptakan lingkungan yang sehat, yang bebas dari berbagai rangsangan yang dapat mempengaruhi kehidupan menuju pola hidup materialistis, konsumeris, hedonis, sekularis, dan lain sebagainya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja di antara kamu yang melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan  tangannya. Apabila ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya, yang demikian itu merupakan selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Ketiga, peran negara. Dibutuhkan ketegasan pemerintah dalam upaya memberantas segala bentuk tindakan kriminal yang mengancam kelangsungan hidup rakyatnya. Hukuman tegas yang diberikan oleh negara dan upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah penyebaran narkoba di tengah masyarakat, yang dapat memberikan efek jera kepada pelaku dan para pecandu narkoba. Semua ini tidak dapat dilaksanakan jika negara masih menerapkan sistem kufur yang telah nyata menyebabkan banyak kerusakan dalam kehidupan ummat manusia.

Dengan demikian, perlu dilakukan berbagai upaya dan tindakan nyata dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada khususnya pemberantasan narkotika ini. Jika bangsa ini masih saja menjadi follower sistem kufur ala Barat, maka bersiaplah melihat kehancuran generasi bangsa ini. [MO]

Posting Komentar