Ketika Kaum "Pelangi" Unjuk Gigi
Oleh: Radhiatur Rasyidah, SPd.I
(Pemerhati Remaja)

Mediaoposisi.com| Berita tentang Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) semakin hari kian memadati media massa lokal maupun nasional bahkan sampai internasional. Ini sejalan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (14/12/2017) menolak pemohon yang menggugat uji materi pasal kitab undang-undang hukum pidana tentang zina dan hubungan sesama jenis. Kebebasan berfikir dan berperilaku serta keberanian para gay meningkat. Bagaimana tidak, di Banua kita tercinta ini ternyata sudah ribuan yang terdeteksi mengidap penyakit sosial LGBT ini, itu yang terdeteksi, dan besar kemungkinannya lebih banyak lagi dari data yang tidak atau yang belum terdeteksi.

Mereka dengan vulgarnya membuat grup yang terbuka dengan mengatasnamakan Gay Athena Banjarmasin dan jugaada beberapa grup yang semisal. Percakapan di dalamnya pun sungguh menjijikkan. Tidak hanya orang dewasa, berdasarkan penelusuran Republika, penganut gaya hidup LGBT semakin berkembang pesat,  sampai mengincar anak-anak SD SMP, bahkan konon katanya sudah merambah ke anak usia dini. 

Miris dan ironis 
Miris rasanya ketika mendengar kasus yang serupa. Kebanyakan pelaku LGBT adalah korban yang tidak segera diterapi, dan akhirnya dendam dan mencari korban berikutnya. Keberadaan dan ulah kaum homoseksual ini nyata jadi ancaman bukan saja secara sosial, tetapi juga medis.  Di Tanah Air, menurut Pengamat Kebijakan Publik Bidang Kesehatan Masyarakat dari UI, Patrick wauran, jumlah Orang Dengan HIV AIDS di kalangan homoseksual jumlahnya meroket 225 persen pada tahun 2016. Selain HIV/AIDS, penyakit yang menjangkiti kaum homoseks adalah kanker anus akibat penularan virus human papiloma (HPV). Bukan hanya itu, efek dari  pernikahan sejenis, tidak akan menghasilkan keturunan dan juga tidak akan terbentuk keluarga yang harmonis sesuai dengan fithrah manusia.

Sungguh ironis, dinegara yang notabenenya mayoritas muslim seperti di negara kita ini, namun hal seperti ini terjadi dan terjadi lagi. Populasi LGBT dilaporkan terus bertambah. Data Kementrian Kesehatan pada 2012 memperlihatkan jumlah lelaki berhubungan seks dengan lelaki (LSL) mencapai 1.095.970. Mereka tersebar di semua daerah di Nusantara. Pada bulan November 2017, di Lampung, 42 siswa dicabuli seorang guru sekolah mereka yang kemudian diketahui seorang gay. Tragisnya, sebagian dari korban kini kecanduan dan aktif melakukan  seksual sejenis. 

Mengapa semua ini bisa terjadi dan seolah tak ada harapan tuk berhenti ?

Sebenarnya jelas bahwa LGBT ini bukan lagi perilaku individu, melainkan sebuah gerakan global,  Profesor Mahfud MD menyatakan, Badan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNDP (United Nations Development Programme) telah menyiapkan dana 180 juta US$ atau setara Rp.107,8 miliar untuk meloloskan program legalisasi LGBT di tanah Air dan tiga negara lain di Asia.
Sejumlah perusahaan  besar milik asing juga menyokong kampanye LGBT, seperti Starbucks, Facebook, Instagram, Nike, Adidas, Whatsapp, Apple, Google, dan lain lain.

Hal ini juga dikarenakan sistem yang saat ini diterapkan belum bisa menuntaskan permasalahan ini, yang namanya sekularisasi jelas disitu akan terjadi pemisahan antara agama dengan kehidupan, jadi mereka beranggapan bahwa kondisi seperti ini tidak bisa dikait-kaitkan dengan agama.

Solusi Tuntas hanya dengan Islam
LGBT bukanlah penyakit atau kelainan, LGBT juga bukan karena faktor genetis. LGBT adalah suatu kejahatan/tindak kriminal sebagaimana yang dulu pernah dilakukan penduduk Sodom kaum Nabi Luth. Perbuatan seperti ini membuat pelakunya harus dihukum dengan sanksi yang tegas. Hukumannya berbeda-beda sesuai dengan kasusnya. Mengenai lesbianisme, tak ada perbedaan di kalangan fuqaha bahwa hukumnya haram.

Dalil keharanmannya antara lain sabda Rasulullah: “Lesbianisme adalah (bagaikan) zina di antara wanita. Sanksi untuk lesbianisme adalah hukuman ta’zir, bisa berupa hukuman cambuk, penjara, publikasi (tasyhir), dan sebagainya”. (Sa’ud al-Utaibi, Al-Mausu’ah Al-Jina’iyah al-Islamiyah, hal.452; Abdurrahman Al-Maliki, Nizham Al-Uqubat, hal.9).

Haramnya gay juga tidak ada  perbedaan di kalangan fuqaha. Dalil keharaman antara lain sabda Nabi SAW: “Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti  perbuatan kaum Nabi Luth. Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti  perbuatan kaum Nabi Luth. Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti  perbuatan kaum Nabi Luth.” (HR. Ahmad, no.2817). Sanksi untuk homoseks adalah hukuman mati. Sabda Nabi SAW: “Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, maka bunuhlah keduanya.” (HR. Al Khamsah, kecuali An Nasa’i).

Biseksual adalah perbuatan seksual yang bisa dilakukan dengan lawan jenis atau sesama jenis. Sanksinya disesuaikan dengan faktanya. Jika tergolong zina, hukumannya rajam (di lempar batu sampai mati) bagi pelaku yang sudah menikah. Atau di cambuk seratus kali jika pelakunya belum menikah. Jika tergolong homoseksual, maka hukumannya mati. Dan jika tergolong lesbian, hukumannya ta’zir.

Adapun tentang keharaman transgender, dalam sabda Rasulullah, “Islam mengharamkan perbuatan menyerupai lain jenis sesuai hadits bahwa Nabi SAW mengutuk laki-laki yang menyerupai wanita dan mengutuk wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR.Ahmad, 1/227&339).

Berbeda dengan sistem saat ini, demokrasi  tak akan mampu menyelesaikan masalah LGBT secara tuntas. Ide demokrasi yang mengagungkan HAM ala Barat, paham kebebasan, ideologi Kapitalis Sekularisme, semua itu merupakan sebab mendasar berkembangnya LGBT.

Dengan demikian, LGBT akan bisa dicegah dan dihentikan hanya oleh sistem Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Didalam naaungan khilafah, umat akan dibangun ketakwaannya, diawasi perilakunya oleh masyarakat agar tetap terjaga . Sanksi  yang tegas bagi mereka yang melanggar dengan hukum yang sesuai syari'ah Islam. Karenanya hanya dengan Syari'ah Islamlah obat untuk berbagai penyakit yang dihadapi oleh umat manusia saat ini.
Wallahua'lam. [MO]




Posting Komentar