Oleh: Nurhayati
( Back to Muslim Identity Community Samarinda)

Mediaoposisi.com- Lewat berbagai propaganda LGBT meracuni dunia pendidikan. Untuk mengokohkan kedudukan, berbagai upayapun dilakukan.

Komunitas Pelangi gencar mengkampanyekan ‘penyadaran’ atas hak-haknya ditengah masyarakat, meminta perlindungan hukum lewat jalan konstitusi hingga gencar menyasar mahasiswa.

Media sempat dihebohkan dengan adanya temuan grup facebook persatuan gay di salah satu Universitas terkenal di kota Malang.

Tak berhenti sampai disitu, Komunitas LGBT menggalang simpati dengan melakukan seminar-seminar kemahasiswaan berkedok HAM di beberapa Universitas besar yang ada di Indonesia. 

Meskipun berujung penolakan, pegiat LGBT tak pernah menyerah. Seorang dosen ternama dari Fakultas Hukum di salah satu universitas yang ada di Kalimantan Timur pun mengakui bahwa ada seorang alumni mahasiswa Fakultas Hukum yang kini menjadi ketua Komunitas LGBT yang ada dikotanya. 

Ini membuktikan bahwa gerakan LGBT meskipun belum mendapat tempat dihati masyarakat namun sedikit demi sedikit berhasil menggaet para pemuda.

Tak sedikit yang bergelar mahasiswa, para intelektual muda negeri yang kemudian terjangkiti perilaku menyimpang pengikut kaum nabi Luth tersebut.

Pergerakan mahasiswa yang menyadari bahaya pengaruh LGBT di dunia kampus pun tak tinggal diam.

Fenomena LGBT di kalangan mahasiswa ibarat bola salju yang akan terus menggelinding dan membesar. Jika dibiarkan, komunitasnya akan terus memangsa dan merusak generasi muda. 

Kapan fenomena tersebut akan berhenti? Ketika program ‘Being LGBT in Asia’ goal, LGBT diakui, pernikahan sejenis dilegalkan.

Mahasiswa Butuh Solusi

Berbagai upaya menangkal arus LGBT masuk kampus di lakukan. Mulai dari diskusi terbuka, seminar kemahasiswaan, konsolidasi, FGD (Focus Group Discussion), sebar flyer hingga aksi menolak LGBT ramai disuarakan oleh kalangan mahasiswa, namun sampai saat ini belum menemukan titik terang.

Pasalnya dikalangan mahasiswa itu sendiri ada yang kemudian pro terhadap LGBT sehingga suara mahasiswa tidak bulat. Saat penyampaian protes terhadap perilaku menyimpang LGBT diadukan kepada pemerintah, pemerintah pun tidak kemudian memiliki suara yang sama, bahkan cenderung melindungi kalangan LGBT atas nama HAM.

Inkonsistensi pemerintah dalam menyikapi perilaku menyimpang LGBT menimbulkan dilema tersendiri. 
Kepada siapa hendak mengadu akan segala keresahan atas perbuatan senonoh pasangan gay jika pemerintah saja membiarkan LGBT ? Suara mahasiswa terus digalakkan menolak LGBT dan bahaya perilaku menyimpangnya melalui berbagai aksi yang menyuarakan tolak keberadaan komunitas LGBT. 
Namun sekali lagi, masih sebatas aksi. Suara lantang mahasiswa bagai angin lalu yang tak didengar aspirasinya, yang diabaikan permintaannya, ditolak berbagai resolusi yang ditawarkannya.

HAM: Alat Kepentingan Demokrasi

Salah besar jika meminta perlindungan lewat jalan demokrasi. HAM yang diagungkan dalam demokrasi hanya digunakan sebagai alat untuk menyerang dan diserang.

Tidak benar-benar memberikan asasi setiap kemanusiaan di negeri ini. Jika umat muslim menganggap LGBT adalah perbuatan menyimpang yang dilaknat oleh Allah, harus dihukum seberat-beratnya dan dimusnahkan keberadaannya, maka bagi demokrasi komunitas ini adalah minoritas yang harus dilindungi hidup, hak serta kebebasannya.

Padahal dalam demokrasi, suara terbanyak adalah yang benar. Bukankah di negeri ini umat Muslim merupakan populasi dengan jumlah terbanyak? 

Tapi alih-alih mendengar berbagai alasan penolakan LGBT, mayoritas umat di negeri ini saja dipandang sebelah mata.

 Begitulah wajah buruk demokrasi, membela apa yang dapat mendatangkan banyak manfaat baginya. Slogan ‘dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat’ tak lebih dari sekedar kedok.

Mantra penipu rakyat Indonesia. Tolak ukurnya bukan benar atau salah, bukan juga suara terbanyak atau sedikit, tapi siapa yang berkepentingan, dia punya modal, maka dia lah penguasanya. [MO]





Posting Komentar