Oleh : Ana Amathullah

Mediaoposisi.com- Dunia Pendidikan tidak henti-hentinya diterpa kabar yang mengejutkan, miris dan memprihatinkan. Bagaimana tidak, dunia pendidikan yang semestinya menjadi tempat manusia beradab meningkatkan kualitas diri justru menjadi arena tinju dan sederet aksi anarkis lainnya. Dalam bulan Pebruari 2018 saja kita mendengar berbagai berita viral dunia pendidikan, diantaranya, kasus seorang siswa di Sampang, Jawa Timur membunuh gurunya lantaran kesal tidak mau dinasehati. Menyusul kabar seorang kepala sekolah yang dianiaya orang tua wali murid yang tidak terima anaknya dididik di Lolak, Sulawesi Utara pada tanggal 13. Terbaru kita mendengar kabar dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, seorang guru yang di aniaya oleh orang tua wali murid di depan murid-murid yang sedang belajar.

Itu belum termasuk berbagai kasus asusila yang melibatkan guru, murid, sesama murid, murid yang masih di bawah umur, guru yang mengikuti challenge naik turun dan masih banyak lagi. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di dunia pendidikan kita hari ini. Mengapa bencana moral datang bertubi-tubi justru di wilayah yang semestinya menjadi model moral.

Bagaimana kita dapat mempercayai proses pendidikan ini akan mengarahkan anak-anak kita menjadi pribadi yang mulia, berkepribadian dan bermanfaat bagi keluarga, negara dan agama.
Sepanjang perjalanan Republik ini kita telah menyaksikan pergantian kurikulum telah sering kali dilakukan, bahkan sempat setiap ganti menteri, ganti kurikulum. Namun keadaan bukan justru menunjukkan terwujudnya harapan justru sebaliknya. Mulai dari kurikulum 1994, 2004, 2008 (Kurikulum berbasis Kompetensi), 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan Kurikulum 2013 (Kurtilas). Jadi sebenarnya akar permasalahannya ada dimana.

Jika kita mengamati, kurikulum yang ada hanya kumpulan program studi yang dibuat dan dilaksanakan secara formalitas namun belum menyentuh aspek yang sangat urgen bagi perbaikan manusia. Kurikulum yang ada, dibuat dengan program-progam yang terencana secara formal namun tidak memiliki koneksi yang kuat dalam merubah kepribadian dan mengarahkannya.

Sisi lain yang perlu menjadi perhatian kita terutama adalah sisi asas/landasan yang mendasari kurikulum tersebut dibuat. Pijakannya apa. Diakui atau tidak meskipun negara kita dengan jelas menyatakan diri sebagai negara yang berketuhanan yang maha esa, namun hal ini tidak menjiwai kurikulum yang ada. Tuhan tidak dilibatkan dalam proses pendidikan meskipun secara formalitas setiap kali upacara selalu ada pembacaan do'a. Namun dalam aplikasinya, Tuhan tidak berhak mengatur dan mengarahkan peserta didik tentang nilai benar dan salah, baik dan buruk, terpuji dan tercela. Tuhan ada di masjid dan musholla sekolah tapi tidak boleh ada dalam pelajaran kecuali pelajaran agama. 

Disinilah Tuhan disingkirkan dari dunia pendidikan, kita tidak menjadikan kitab suci sebagai rujukan mendidik peserta didik, namun kita mengambil teori-teori, konsep-konsep pendidikan dari barat yang notabene jika mereka tidak ateis maka sekuler, jika tidak komunis maka liberal, jika tidak Yahudi maka Nasrani.
Kita begitu terpukau dengan konsep mereka, namun membuang jauh-jauh pedoman hidup manusia berketuhanan. Membuang Al-Qur'an dan Al-Hadits. Lalu kita tetap mengharapkan hasil pendidikan kita manusia yang bermoral dan bertaqwa. Jauh panggang dari api. Ibarat kita berenang namun ingin bisa terbang.

Moral hanya bisa dibangun dengan asas berketuhanan, sebab manusia yang beriman akan merasa diawasi Tuhan, ada atau tidak ada manusia. Pendidikan dengan landasan pedoman hidup dari Allah SWT inilah yang akan menjaga peserta didik dimana pun dan kapan pun mereka berada.

Melibatkan Allah dalam setiap proses pembelajaran adalah jaminan bagi terbentuknya insan yang bertaqwa dan berbudi pekerti yang luhur. Bahkan akan mengantarkan peserta didik bukan hanya menjadi orang yang sukses di dunia namun juga sukses di akhirat. InsyaAllah.

Selain kurikulum dan asas kurikulum, pendidikan juga harus mendapatkan jaminan dari masyarakat. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dan tanggung jawab menuntut ilmu perlu ditumbuhkan untuk mendukung sistem pendidikan yang diterapkan. Pasalnya, masyarakat merupakan madrasah kehidupan, tempat manusia berinteraksi dan menerapkan ilmu. Dukungan dari orang tua wali murid dan masyarakat akan membantu peserta didik mencapai tujuan pendidikan.

Orang tua misalnya, tempat peserta didik pulang dan berinteraksi setelah mendapatkan ilmu. Jika orang tua tidak menyadari peran pentingnya agar anaknya menerapkan apa yang telah dipelajari, bukan tidak mungkin justru orang tualah yang menghambat peserta didik menerapkan ilmunya.

Begitu pula dengan masyarakat dalam sekup yang lebih luas. Olehnya perlu ada pensuasanaan masyarakat untuk mencintai ilmu. Dan hal ini tidak dapat efektif kecuali negara yang mensuasanakannya.

Tantangan ini telah dijawab oleh Islam. Selama 13 abad Islam diterapkan dalam wadah Khilafah Islamiyah, belum pernah kita mendengar bencana moral terjadi dalam dunia pendidikan. Tidak banyak berita yang tersebar terkait bidang pendidikan kecuali keharumannya, penemuannya dan kontribusinya bagi kemajuan peradaban manusia masa kini. 

Hal ini mengingatkan kita pada nasehat imam Malik rahimahullah dalam mendidik mendidik generasi: لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا “Tidak akan pernah baik akhir umat ini kecuali dengan cara yang telah membuat baik generasi awalnya.” Jika kita serius ingin memperbaiki kondisi generasi hari ini, maka kembali kepada pendidikan yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah solusinya. Mempelajari adab sebelum ilmu, mengambil iman sebelum Al-Qur'an, dan menancapkan Al-Qur'an sebelum ilmu yang lain.

Islam telah menjadikan menuntut ilmu sebagai kewajiban dan Khilafah telah menjaminnya secara gratis. Khilafah telah menyediakan lembaga-lembaga pendidikan yang mudah diakses oleh semua kalangan. Khilafah juga memberikan penghargaan yang tinggi kepada ahli ilmu. Sehingga penghargaan ini berpengaruh terhadap masyarakatnya yang juga menaruh hormat. Masyarakat hidup dengan kesadaran pentingnya ilmu dan terhormatnya memuliakan ahli ilmu. [MO]

Posting Komentar