Oleh : Ita Triesna Ariy (Aktivis Mahasiswa Malang)

Mediaoposisi.com- Pemuda memang tak bisa dipisahkan dengan perjuangan, perubahan dan pergerakan. Jiwanya selalu bergairah dan memiliki semangat yang membara. Jika ada yang tidak sesuai dengan idealismenya, maka ia tak ragu untuk bersuara. Begitupun dengan berbagai aksi mahasiswa yang kerap terjadi, baik mengkritik dalam bentuk tulisan ataupun turun kejalan. Semua itu adalah ciri pemuda sebagai penggerak dan perubah peradaban.

Belakangan ini, media social cukup digemparkan oleh mahasiswa dari Universitas Indonesia. Dia adalah Zaadit Taqwa yang saat ini menjabat sebagai ketua badan eksekutif mahasiswa (BEM UI). Aksi nekatnya mengacungkan kartu kuning kepada Presiden Joko Widodo saat menghadiri Dies Natalis ke-68 Universitas Indonesia di Kampus UI, Depok mengundang banyak pertanyaan dari masyarakat. Apa maksud dari kartu kuning tersebut ?

"Banyak orang melakukan aksi dengan ricuh, tapi kami menghindari itu semua dengan aksi simbolis. Makanya kami menggunakan kartu kuning sebagai simbolis untuk bisa memberi pesan kepada Presiden Jokowi, bahwa di tahun terakhirnya masih banyak evaluasi yang harus dikerjakan," kata Alfian (News.Detik.com, Jumat (2/2/2018)).

Idealisme itu semakin tampak dari pemuda yang berani. Sikap kritis zaadit membuktikan bahwa aktivis mahasiswa tak hanya diam dan sibuk dengan kuliah semata tetapi bersuara melawan kedzaliman. Penguasa yang terus menerus menghianati kepercayaan akhirnya mengundang kemarahan. Kritis bukan berarti membrontak apalagi untuk kepentingan individu tetapi kritis sebagai upaya untuk masyarakat yang sejahtera. Itulah yang zaadit tunjukkan bahwa keberanian harus terus tertanam dalam jiwa pemuda. Tidak sedikitpun gentar dengan segala tantangan baik adanya pembungkaman ataupun ancaman bui.

Namun kita lihat bahwa pemerintah seolah kebal terhadap kritikan, jika tak sesuai dengan kepentingan kelompoknya maka kritikan tersebut tak akan dihiraukan. Semua akan tetap berjalan sesuai kemauan tuannya. Inilah bukti bahwa sistem hari ini menjadikan peguasa bukan untuk mengurusi rakyat. Sekalipun rakyatnya marah, tidak akan merubah apapun. Kerusakan demi kerusakan akan selalu bermunculan bahkan dari segala aspek kehidupan. Sistem kapitalisme yang diterapkan akan tetap melahirkan penguasa dengan sifat yang sama, sekalipun wajahnya berbeda. Terlihat bahwa pergantian pemimpin terus dilakukan namun tingkat kemiskinan meningkat seiring dengan tingkat korupsi yang juga terus meningkat oleh para pejabat pemerintahan.

Padahal pemimpin dalam pandangan islam adalah sebagai “rain” (pelayan rakyat) dan sebagai “junnah” (pelindung rakyat), dialah yang akan berada di garda terdepan jika rakyatnya menghadapi bahaya, dialah yang harusnya lebih peka jika rakyatnya kesusahan layaknya umar bin khattab. Namun pemimpin-pemimpin yang kita harapkan tidak dapat lahir dalam sistem yang diterapkan hari ini. Dia hanya akan lahir dari Negara Khilafah yang menerapkan syariat islam secara kaffah, sehingga pemimpinpun harus taat pada aturan ALLAH swt.

Sehingga perjuangan pemuda tidak boleh cukup sampai disini. Pemuda harus terus bergerak dan berani menyuarakan kebenaran, selalu bersikap kritis terhadap kebijakan yang mendzalimi rakyat, serta berjuang menerapkan syariah islam secara menyeluruh. [MO]

Posting Komentar