MENTERI KESEPIAN VS MENTERI PERTOBATAN

Oleh : Nurus Sa’adah (anggota Komunitas Revowriter Surabaya)

Mediaoposisi.com| Ada jabatan menteri baru di Inggris, dan posisinya cukup unik karena mengurusi warga yang kesepian. Perdana Menteri Inggris Theresa May menunjuk Tracey Crouch, Menteri Olahraga dan Komunitas Sipil, untuk menjadi menteri kesepian (kompas.com, 23/1). Data menyebutkan ada lebih dari 9 juta orang di Inggris Raya dilaporkan sering atau selalu merasa kesepian. Diantaranya ada 2 juta warga berusia 75 tahun ke atas tinggal sendirian. Para manula ini bisa berhari-hari bahkan hingga beberapa pekan tak mengalami interaksi sosial sama sekali.

Tidak hanya di Inggris, sejatinya dunia saat ini sedang menghadapi epidemi kesepian. Tahun 2010, sekitar 40 persen orang Amerika Serikat mengaku sering merasa kesepian. Jumlah tersebut naik 20 persen dari tahun 1980-an. Di Australia, menurut penelitian 1 dari 3 orang merasa kesepian. Sementara di Jepang, saat ini "Kodokushi" alias mati dalam kesendirian menjadi masalah di Negeri Sakura tersebut (kompas.com, 15/12). 

Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa kesepian dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Salah satu studi tahun 2015 menyebutkan, perasaan kesepian akan meningkatkan risiko seseorang jatuh sakit. Ini karena kesepian kronik akan memicu perubahan sel sehingga kemampuan tubuh untuk melawan infeksi virus berkurang. Selain itu, kesepian akan meningkatkan risiko kematian dini secara signifikan sampai 26 persen! (kompas.com, 15/12).

Banyak faktor yang memunculkan tumbuhnya rasa kesepian. Hidup sendiri tanpa ada yang memperhatikan, suburnya sikap individualis di masyarakat, menjadi salah satu pemandangan umum dalam peradaban hari ini. Meski hidup dikelilingi dengan kemewahan, kemajuan teknologi, mudahnya bermedia sosial, nyatanya hanya mampu menjadi pelarian tanpa mampu membasmi rasa sesak dan tidak mengenakkan ini. Terkadang rasa sepi juga bukan hanya dialami oleh mereka yang hidup sendiri. Hidup di tengah banyak orang disekelilingnya atau orang yang dicintainya pun juga bisa terjangkit virus kesepian. Pasalnya ada satu ruang kosong dalam lubuk hati  terdalam yang belum menemukan cahaya. Apa itu? Ya, cahaya iman yang terasa manis. 

Adalah sebuah keniscayaan hidup dalam alam sekulerisme yang memaksakan urusan dunia disekat tebal dengan aturan Rabb semesta alam, akan menemukan kesengsaraan dan kehampaan hidup saja. Sekulerisme telah melahirkan jiwa-jiwa pemuja materi, menumpuk harta, mengejar dunia tak ada habisnya. Memburu kesenangan jasmani atas nama kebebasan, tak peduli orang lain karena bukan jadi urusan. Tak ada nilai ruhiyah yang mendorong berlomba-lomba dalam amal kebaikan. Tak ada tempat untuk menjadi tumpahan mengadu segala urusan. Demikianlah sejatinya sekulerisme, sebuah sistem hidup yang sangat jauh dari fitrah manusia. Dan epidemi kesepian yang menimpa negeri-negeri Barat saat ini semakin menambah deretan panjang bukti kegagalan peradaban yang memanusiakan dan menentramkan jiwa.

Lain Eropa, lain Indonesia. Jika langit Eropa butuh cahaya Islam, tidak demikian untuk Indonesia. Karena dunia tau Indonesia salah satu negara berpenduduk Islam terbesar di dunia. Langit Indonesia disinari Islam, namun cahayanya redup karena ulah tangan para pemuja dan penerap sistem sekuler. Islam tidak lebih hanya sebatas ritualitas yang dilirik saat kelahiran, pernikahan dan kematian. Bahkan parahnya, kini bab pernikahan sudah mulai diobok-obok dengan kekejian kaum luth modern dan pendukungnya. Jika setiap hari penduduk negeri ini membaca alqur’an, mereka menemukan QS  Al-Baqarah 219, namun lihatlah miras malah dilegalkan. Mereka pun menemukan QS Al-Isra 32, namun lihatlah zina marak terjadi dimana-mana, generasi bergaul bebas tanpa batas hingga predator seksual mengintai setiap keluarga. Mereka pun membaca QS Ali-Imran 130, namun faktanya roda perekonomian negeri ini diputar dengan uang riba. 

Belum cukup kiranya hingga Allah menegaskan sebuah pertanyaan retoris dalam firman-Nya, “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah ayat 50).

Jika di Inggris butuh menteri kesepian, kiranya negeri ini butuh menteri pertobatan. Sudah selayaknya bangsa ini bertobat dari kesombongan akan ayat-ayat Allah, karena tujuan hidup tiada lain adalah untuk beribadah kepada-Nya. Melaksanakan islam secara kaffah adalah solusi atas semua problem hidup manusia. Dengan-Nya tidak akan ada lagi ruang-ruang hampa hingga kesepian dirasa. Mengadulah pada-Nya karena Ia bukan sekedar Pencipta (al-khaliq), namun jua Sang pembuat Aturan (al-mudabbir). Dengan-Nya kita akan menemukan arti hidup dan perjuangan. Dan dengan melaksanakan seluruh titah-Nya adalah kunci untuk mendapatkan hidup yang penuh keberkahan.  

Cukuplah sudah bencana datang silih berganti. Bumi digoncang kita pun berlari. Air menggulung kita pun berlindung. Itulah diantara tanda kelemahan diri. Saatnya bertobat dengan sepenuhnya dengan meninggalkan peradaban sekuler yang hina menuju peradaban Islam yang memuliakan manusia. 

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi”. (Al A’raaf : 97-99). [MO]

Posting Komentar