Oleh : Dinda Citra Aprilia
Aktivis Mahasiswa Universitas Airlangga

Mediaoposisi.com- Kebiasaan mengamputasi daya kritis mahasiswa di rezim ini bukanlah suatu rahasia lagi. Mahasiswa dengan background aktivis yang pasti memiliki daya kritis tinggi, rasanya tak asing dengan jeruji. Namun tak mengapa, karena sebagian mahasiswa yang menolak bungkam atas kondisi negri ini tahu betul perubahan apa yang harus terjadi. Meski berkali-kali daya kritis mereka secara perlahan dibungkam dengan kesibukan perkuliahan, hingga sulit memikirkan penderitaan rakyat yang kian tak tertahan. Meski berkali-kali daya kritis mereka diamputasi, mereka tak merasa lirih, bahkan memilih tuk bangkit lagi demi kemajuan negri.

Baru-baru ini daya kritis mahasiwa kembali menyapa, dengan pro-kontra yang selalu ikut serta. Zadit Taqwa adalah salah satu mahasiswa universitas Indonesia yang berani mengkritik kinerja pemerintah. Mahasiswa kritis adalah fitrah yang kritikannya harus diterima sebagai bukti cinta pada sang penguasa tuk perbaiki kinerjanya. Mahasiswa kritis adalah fitrah yang harusnya hal ini menjadi rasa syukur bagi penguasa untuk perbaikan negri yang lebih terarah. Bukan malah menjadi momok yang seolah mengancam  negri, hingga profil sang pengkritik digali secara terperinci lalu berakhir di jeruji dengan pasal-pasal pembenaran yang mumpuni. Kondisi rezim hari ini, membuat kita harus lebih membelalakkan mata bahwa yang terlihat baik-baik saja ternyata ada apa-apa.

Mengecam bukan berarti membangkang, tetapi adanya keinginan untuk menuju ke arah perbaikan. Karena mahasiswa pun adalah rakyat yang berhak mengontrol kinerja pemerintah secara ketat. Gaya kepemimpinan era Umar bin Khattab harusnya menjadi kiblat, dimana penguasa dengan lapang dada meminta untuk dikritik dan diingatkan bila kinerjanya tak berkenan di hati rakyat. 

Rakyat pun sangat bersedia mengkritik, karena sumber hukum yang digunakan jelas dan  tak pernah terselubung taktik. Inilah penyebab bila aturan sang maha kuasa distandarkan pada logika manusia yang  pasti bisa salah.

Kini saatnya mempertegas posisi, sebagai mahasiswa dengan bekal ilmu yang diperoleh dengan peluh, adakah kita tetap bungkam dan menjilat ketiak penguasa atau justru mengecam kinerja pemerintah yang sering gagal paham. [MO]

Posting Komentar