Pemuda Al Washliyah Menjawab
Oleh: Asmar Husein Lubis

Mediaoposisi.com| Dalam metode berfikir memperhatikan hal-hal yang kelihatan tidak berhubungan dengan fakta lainnya merupakan butir yang menginspirasi, bahwa hal-hal kecil adalah hal yang penting. Apalagi faktanya di depan mata maka sudah semestinya menjadi bagian dari data penunjang dalam berfikir. Termasuk dalam mengamati peristiwa-peristiwa sejarah.

Dalam menilai peristiwa-peristiwa sejarah tentu tidak terlepas dari yang namanya politik, adakalanya sejarah merupakan bagian dari rekayasa-rekayasa politik, terlepas ia membangun atau malah menjatuhkan. Selain itu, sejarah juga bisa saja menjadi bagian dari monopoli politik dalam kaca mata kuda, tergantung tafsir kepentingan para penguasa.

Akhir-akhir ini agaknya aroma perpolitikan di negri ini berbau amis menyengat, karena terlepas dari kejujuran dan keadilan nampaknya politik belah bambu sedang disuguhkan di tanah air ini.

Sedihnya, hal yang demikian datang dari seorang Jenderal berseragam coklat. Melindungi, mengayomi dan mengangkat beberapa kelompok. Sementara satu dan lainnya diinjak-diinjak, dianggap berseberangan dengan penguasa hanya karena perbedaan pandangan politik.

Yaa, belum lama ini kita mendengar pidato seorang jenderal dari video yang beredar, memberikan instruksi kepada jajarannya untuk merapat ke NU dan Muhammadiyah. menegaskan untuk memperkuat NU dan Muhammadiyah dan bekerjasama dengan mereka, bukan dengan yang lainnya menganggap yang lainnya merontokkan agama dan bukan pendiri negara.

Lebih jelasnya berikut kutipan pidatonya "Semua Kapolda saya wajibkan untuk membangun hubungan dengan NU dan Muhammadiyah tingkat Provinsi. Semua Kapolres wajib untuk membuat kegiatan-kegiatan untuk memperkuat para pengurus di tingkat kabupaten atau kota. Para Kapolsek wajib untuk di tingkat kecamatan, bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah, jangan yang lain. Dengan yang lain itu nomor sekian, karena yang lain bukan pendiri negara, mau merontokkan negara malah iya," (TribunNews, 31/01/18).

Memperkuat hubungan polri dengan ormas Islam tentu merupakan hal yang baik. Apalagi ormas yang ikut serta dalam mendirikan negara dan juga melakukan pembangunan nasional. Mereka layak dirangkul dan dijadikan sebagai rujukan dalam hal-hal tertentu ketika mengeluarkan suatu kebijakan. Bukan merangkul atas dasar perspektif kebutuhan dan kepentingan politik semata. Tetapi murni atas dasar dalam menjaga harmonisasi, kedamaian, keamanan dan yang sejenisnya.

Seperti diketahui bersama banyak ormas-ormas Islam jauh sebelum kemerdekaan telah berdiri di negri ini, ikut serta dalam berjuang untuk negri ini, bahkan sebelum ada NU dan Muhammadiyah.

Bukan berarti menapikan NU dan Muhammadiyah, tetapi mencoba membuka dari sudut pandang yang lain. Sebut saja misalnya Jamiat kher tahun 1905, Syarikat Islam 1905, Syarikat dagang Islam 1911, Al Irsyad 1915, Mathlaul Anwar 1916, persis 1923, Al Jami'yatul Washliyah 1930 dan masih banyak lagi di daerah yang memiliki peran dalam mengisi kemerdekaan.

Semua ormas di atas lahir sebelum negara ini berdiri dan tentu memiliki andil dalam memperjuangkan kemerdekaan sesuai dengan zaman dan daerahnya masing-masing, termasuk Al Jamiyatul Washliyah di Sumatera Utara. Keberadaan ormas-ormas di atas diakui atau tidak sebelum dan setelah kemerdekaan telah menjadi bagian dari sejarah yang tidak dapat diluapakan begitu saja. Tinggal luangkan waktu, beli kaca mata jika perlu dan baca buku. Hanya saja terkadang kemalasan dan kebutaan dalam mempelajari sejarah lebih mendominasi ketimbang bijak dalam menilai. Pada akhirnya mengaburkan keberadaan ormas-ormas di atas.

Sebagai kader Al Washliyah, saya akan lebih mengurai kehadiran ormas ini sebelum kemerdekaan ataupun setelahnya. Selebihnya bisa cari sendiri. Guru-guru kami dulu selalu mengajarkan tentang arti sejarah dan juga kehadiran Al Washliyah di tanah air ini.

Al Washliyah merupakan organisasi Islam yang lahir pada tanggal 30 November 1930, bertepatan dengan 9 Rajab 1349 Hijriyah di Kota Medan Sumatera Utara. Artinya kalau dicermati ormas ini lebih dahulu lahir sebelum NKRI merdeka. Ada rentang waktu belasan tahun antara berdirinya Al-washliyah dengan Kemerdekaan NKRI, pada titik ini dipastikan bahwa Al Washliyah punya andil yang besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Selain gerakan memajukan dunia, dakwah dan sosial warga Al Washliyah juga melakukan bimbingan siap lahir batin untuk mengusir penjajah, sehingga di Sumatera Utara gerakan ini sangat ditakuti oleh kolonialis Belanda.

Dalam suasana dibawah kekejaman dan ketidakadilan pejanjah Belanda serta kekejaman penduduk tentara Jepang (1941), Al Washliyah tetap beraktivitas dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan, termasuk melalui lembaga-lembaga pendidikan; yakni Madrasah Al Washliyah. Dari Madrasah ini melahirkan pejuang-pejuang tangguh yang siap berjihad membela agama dan tanah airnya. 

Selain tempat belajar para santri madrasah ini juga menjadi pusat konsolidasi guru, pelajar dalam membangun semangat merdeka. oleh karena itu, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya (1945) di Jakarta. Al Washliyah langsung mengadakan muktamar yang diikuti ulama, pimpinan, guru, pelajar dan keluarga besar Al Washliyah untuk membicarakan tindak lanjut gerakan mendukung dan mempertahankan kemerdekaan dari kemungkinan rongrongan kolonialis baru. Pada akhirnya Majelis fatwa menganjurkan agar setiap warga Al Washliyah untuk ikut latihan perang dan membaca qunut nazilah dalam shalat.

Dalam perkembangan sejarah, salah satu tokoh pendiri Al Washliyah, Syekh. H. M Arsyad Tahlib Lubis dengan semangat jihad melawan penjajah, beliau menulis buku Tuntunan Perang Sabil. Karena perjuangannya pada 29 Maret 1949 pendiri Al Washliyah ini ditangkap pihak Negara Sumatera Timur (NST) yang bertindak sebagai perpanjangan tangan Belanda.

Syekh. H. M Arsyad Tahlib Lubis, ditahan sebagai tawanan politik di penjara Sukamulia, Medan, Sumatera Utara, mulai 29 Maret sampai dengan 23 Desember 1949. Ketika dalam tahanan, isterinya tercinta, meninggal dunia.

Perlu diketahui juga, setelah kemerdekaan dan sampai pada hari ini. Al Washliyah telah memiliki seribu lebih lembaga pendidikan di Indonesia, mulai dari TK sampai pada Perguruan Tinggi. Bergerak dibidang sosial keagamaan, telah ikut serta menciptakan generasi berakhlak mulia disaat bangsa ini mengalami degradari moral anak muda. Lalu apakah ini yang disebut merontokkan negara (?)

Dari penjelasan di atas akhirnya kita kembali belajar bagaimana menjadi orang dewasa; bijak dalam menilai dan teliti dalam berucap.

Hal yang sangat dikhawatirkankan sebenarnya bukan pada dewasa atau tidak. Kapasitas dan kapabilitas seorang jenderal sudah selayaknya menjadi orang terdepan dalam menjaga harmonisasi, bukan menciptakan suasana yang sarat dengan pesan politik, apalagi berpotensi melahirkan perpecahan politik belah bambu di tengah masyarakat.

Berpolitik seperti itu sesungguhnya hanya mempertinggi tempat jatuh, atau menunggu datang masa penderitaan karena kanker politik yang menggerogoti tubuh. Dikatakan demikian karena bagaimanapun juga orang dirugikan atau didzalimi kalaupun tidak mampu membalas, sekurang-kurangnya menjerit dan berdoa. Inilah yang paling membahayakan, karena doanya orang-orang terzhalimi itu pasti terkabul.

Jadi, politik belah bambu dengan segala kroni-kroninya itu sesungguhnya memelihara kanker politik untuk membunuh sel-sel persatuan umat di tengah-tengah masyarakat secara perlahan tapi pasti. [MO]

Posting Komentar