Komunikasi Suami dan Istri  Abu Thalhah dan Ummu Sulaiman
Oleh : Bunga Erlita 

Mediaoposisi.com| Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa putera Abu Tholhah sakit. Ketika itu Abu Tholhah keluar, lalu puteranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh puteraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya, ia pun menyantapnya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, istrinya mengatakan kabar meninggalnya puteranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.” (HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144).

Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Tholhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Tholhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.” Diceritakan bahwa ketika Abu Tholhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Tholhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” Abu Tholhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?” Abu Tholhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi.  (HR. Muslim no. 2144)

Kisah abu thalhah dan ummu sulaimn diatas sarat makna, terutama dalam cara berkomunikasi antara suami dan istri. Dalam berkomunikasi dengan pasangan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu;

1.     Tepat Waktu

2.     Tepat Cara

3.     Tepat Kata

4.     Tepat Nada

Tepat Waktu
Seperti yang dilakukan Ummu Sulaimn, beliau tidak semerta merta langsung memberitahukan suami nya jika anaknya telah meninggal, namun beliau melayani suaminya dengan masakannya yang lezat dan melayani kebutuhan biologis suami nya sampai digambarkan seolah olah seperti malam pertama dan ummu sulaimn tak pernah dandan secantik itu seumur hidupnya.

Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa berkomunikasi dengan suami terkadang harus menunggu waktu yang tepat. Tidak langsung diutarakan mentah mentah di depan suami. Sekalipun sesuatu itu hal yang sangat urgent dan menyedihkan seperti kisah abu thalhah dan ummu sulaimn di atas.

Adakah yang jauh lebih menyedihkan dari menyimpan berita kematian anak kandung sendiri? Apalagi jika berita yang ingin kita sampaikan kepada suami tidak se urgent memberitahukan anak meninggal. Paling berita tetangga sebelah beli mobil baru atau baru balik umroh atau harga bawang naik lima ribu. Tapi seringnya kita selalu tak sabar mencari waktu yang tepat berkomunikasi dengan suami, sehingga suami sering jengah dan malas mendengarkan cerita kita.

Ummu sulaimn mencontohkan bahwa menunda berkomunikasi dengan suaminya dan memilih untuk menyenangkan hati dan memuaskan syahwat suami nya suasana akan jauh lebih kondusif untuk memberitahukan berita kematian anaknya . Faktanya, setelah berhubungan suami istri, hormon oxitosin dan endorphin akan meningkat drastis. Menimbulkan efek relax, bahagia, dan tenang. Saat inilah ummu sulaimn mulai membuka pembicaraan dengan suaminya. Ketika berada dalam relax state, komunikasi dengan suami pun akan jauh lebih komunikatif dan suami akan lebih fokus mendengarkan apa yang kita utarakan karena sudah terpenuhi hajat ‘perut’ dan ‘bawah perut’ nya.

Tepat Cara
“Jangan beritahu Abu Tholhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.”

Ummu sulaimn mengajarkan pada kita bahwa komunikasi dengan suami, jauh lebih baik dilakukan face to face tanpa perantara. Sekalipun suami dan istri memiliki social messenger dan handphone yang canggih, namun komunikasi dengan bertatapan langsung akan memiliki penekanan pada konten yang berbeda dengan komunikasi melalui perantara.

Tepat Kata
Laki laki diciptakan sebagai pemimpin dari perempuan, laki laki diciptakan dengan fokus dan logika yang sangat tinggi. Mereka tidak terbiasa dengan berfikir yang membawa perasaan, berbeda jauh dengan perempuan. Laki laki lebih mudah diajak berfikir menggunakan logika, tidak menggunakan perasaan apalagi khayalan. Karena laki laki lebih dominan otak kiri dibandingkan otak kanan.

Saat mengutarakan anak nya meninggal, Ummu sulaimn memilih kata yang mengajak abu thalhah berfikir logis

“Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?”

Dengan mengajak Abu Thalhah berfikir logis, Ummu Sulaimn mendapatkan jawaban sesuai dengan logika Abu Thalhah dan jauh lebih mudah diterima oleh suaminya ketimbang pemilihan kata yang berdasarkan perasaan hatinya yang tentunya sedih saat anaknya meninggal. Selain itu Ummu Sulaimn juga mengawali pembicaraan dengan kata

“Bagaimana pendapatmu .. “

Ummu Sulaimn mengajak diskusi dan melibatkan Abu Thalhah di awal kalimat tersebut. Mengajak suami terlibat dalam diskusi akan membuat suami jauh lebih interest dengan pembicaraan yang akan kita katakan.

Tepat Nada

Pada hadist diatas tidak diriwayatkan Ummu Sulaimn menangis saat berkomunikasi dengan suaminya. Namun ditulis Abu Thalhah marah ketika mengetahui anak nya meninggal. Penulis mengambil kesimpulan bahwa Ummu Sulaimn tetap tenang dan berkata

“Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.”

Sebuah pemilihan kata yang indah, tetap mengingatkan kepada Allah dan berusaha menenangkan tanpa terbawa perasaan sedih dan marah. Masya Allah, betapa contoh yang sangat menakjubkan

Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang amat berharga dari Abu Thalhah dan Ummu Sulaimn. Pelajaran komunikasi suami dan istri yang penuh makna, dari 14 abad yang lalu. Ummu Sulaimn mengajarkan kita bahwa berkomunikasi dengan suami ada teknik dan cara nya tidak asal bunyi kapanpun kita mau. Dan ini pun mengingatkan kita bahwa ilmu pernikahan dan parenting terbaik datangnya dari islam. [MO]

Semoga bermanfaat šŸŒ¼ 

Your Sister, Bunga! 

Telegram Channel https://t.me/sharingwithbungaerlita

Instagram @bungaerlita

Blog bungaerlitarosalia.wordpress.com

Posting Komentar