Oleh: Rahmaniah
(Pemerhati Masalah Generasi, Warga Martapura-Kalsel)

Mediaoposisi.com| Beberapa hari terakhir masyarakat indonesia dihebohkan dengan peristiwa penganiayaan yang telah dilakukan salah satu siswa Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) 1 Torjun, Sampang berinisial MH (17). Atas aksi tak terpujinya, seorang guru tak tetap bidang seni rupa bernama Ahmad Budi C. (26) dinyatakan meninggal dunia di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya pada hari Kamis (1/2/2018) sekitar pukul 21.40 WIB kemarin. Hasil dugaan, tewasnya pak guru Budi disebabkan oleh pecahnya pembulu darah otak di leher setelah terkena pukulan MH di kelas.

Peristiwa pemukulan bermula saat pak Budi menegur pelaku MH. Saat ia mengganggu teman-temannya di jam pelajaran berlangsung. MH yang ditegur Pak Budi bukannya berhenti mengganggu, malah semakin menjadi-jadi. Akhirnya pak Budi mencoret pipinya dengan mengunakan car warna. MH tak terima, lalu mencekik dan memukul leher pak Budi. Teman-teman sekelas MH pun melerai keduanya, sampai akhirnya pak Budi meninggalkan kelas.

Pada awalnya pak Budi tidak merasakan apapun. Setibanya di rumah pak Budi mengeluh sakit di bagian kepala sampai leher. Karena rasa sakit yang menjadi-jadi, pak Budi dilarikan ke RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Sempat menjalani perawatan, pak Budi akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada pukul 21.40 WIB.

Kasus penganiayaan siswa terhadap guru ini langsung menjadi pusat perhatian masyarakat. Bahkan, kalimat “guru tewas dianiaya siswa” masuk ke dalam daftar trending topik di mesin pencarian Google. Hingga saat ini, sudah ada lebih dari 100.000 penelusuran terkait kalimat tersebut (banjarmasin.tribunnews.com).

Kejadian ini sangat miris sekaligus menimbulkan rasa geram. Mengingat bahwa guru adalah orangtua kedua kita di sekolah. Mereka yang harusnya jadi panutan. Sosok yang harus dihormati sebagaimana orangtua kita sendiri. Bahkan do’a yang mengalir dari bibirnya adalah sebuah keberkahan tersendiri.

Guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu. Apalagi jika yang disebarkan adalah ilmu agama yang mulia. Para pewaris nabi, begitu julukan mereka para pemegang kemulian ilmu agama. Tinggi kedudukan mereka di hadapan Sang Pencipta.

Para pengajar mulai dari yang mengajarkan iqra sampai dengan ilmu lainnya, mereka semua itu ada di pesan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bersabda:

ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami).

Tersirat dari perkatanya Rasulullah SAW, bahwa mereka para ulama (guru-guru) wajib di perlakukan sesuai dengan haknya. Akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tak boleh dilupakan bagi seorang murid.

Tapi di zaman now, sosok guru yang senantiasa berjuang mencerdaskan anak bangsa negeri ini seolah tak berharga lagi. Memang banyak anak-anak pintar bahkan cerdas sekarang, namun tak sedikit pula yang akhlaknya rusak tergerus zaman.

Diantara penyebabnya adalah pola asuh orang tua. Beberapa kasus guru dipenjara bahkan masuk rumah sakit akibat ulah orang tua. Sedikit banyak membuat anak-anak saat ini semakin berani melawan guru. Jika dihukum guru, toh ada orangtua mereka yang akan melabrak balik sang guru jika berani macam-macam pada si anak. 

Selain itu dalam hukum negara kita yang sekuler, dimana anak-anak yang bersalah dilindungi atas nama ‘di bawah umur’. Sehingga mereka bisa terbebas dari sanksi yang seharusnya. Padahal di dalam Islam, tidak istilah ‘di bawah umur’. Setelah seseorang baligh, maka sempurnalah penerapan hukum syara’ kepadanya. Apabila bersalah, maka sanksi akan diberikan sesuai hukum syara’. 

Ditambah lagi beredarnya tontonan atau permainan yang mengandung kekerasan yang marak akhir-akhir ini. Secara tidak langsung juga memberi contoh kepada anak untuk berbuat kekerasan. Tidak terkecuali pada gurunya sendiri.

Dalam mengembalikan kerusakan budi pekerti anak tentunya harus dilakukan oleh berbagai pihak. Pertama yaitu orangtua, mengingat mereka yang seharusnya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Wajib bagi orangtua untuk memahami pola asuh yang benar sesuai fitrah dan tuntunan yang diajarkan Baginda Rasulullah SAW. Ketika anak salah, maka orangtua harus tegas menyatakan bahwa sang anak memang salah. 

Selanjutnya adalah peran sekolah. Tidak hanya sebagai tempat transfer ilmu. Penting pula sebagai pengokoh pembentukan akhlak yang telah diberikan sejak di rumah oleh orangtua. Hanya saja pembentukan budi pekerti terkadang terabaikan karena harus mengejar target pelajaran yang telah ditentukan.

Di sinilah peran strategis negara harus dilaksanakan dengan sebaiknya. Baik sebagai pembentuk orang tua yang mempunyai pemahaman yang baik dalam mendidik anak. Sebagai penentu kebijakan sistem pendidikan. Termasuk di dalamnya menyusun target-target pembelajaran. Terlebih lagi dalam pengelolaan media dan game bagi anak. Serta pembuat sanksi yang diterapkan pada seluruh masyarakat.  

Dalam hal ini Islam memiliki panduan lengkap. Baik panduan dalam sistem pendidikan, sistem pergaula, sistem sanksi dan lainnya. Yang semuanya telah dibuat oleh Allah Swt untuk kebaikan hidup manusia. Mengamalkan semua ketetapan Islam secara otomatis negara akan mampu menjalankan peran streegisnya sebaik mungkin. Dan efeknya akan memaksimalkan pula peran orang tua dan sekolah.

Darinyalah akan lahir generasi yang berbudi pekerti. Yang paham caranya berbakti baik pada orang tua, guru dan agama. Karena tujuan utamanya adalah meraih ridho Allah semata.  Tak akan ada korban berjatuhan akibat murid tak berbudi. Insya Allah. [MO]



Posting Komentar