Oleh : Asma Ridha (Member Back To Muslim Identity Aceh)

Mediaoposisi.com-  Kedatangan Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Zeid bin Ra'ad Zeid Al-Hussein, di Istana Merdeka, Jakarta, pada hari Selasa (6/2) disinyalir memiliki maksud tertentu. 

"Beliau (Zeid) mengatakan bahwa kita tidak boleh melakukan diskriminasi (terhadap LGBT)," kata Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H Laoly usai mendampingi Jokowi dalam pertemuan tersebut. (Sumber : Kompas.com)

Tak dapat dipungkiri ungkapan Zeid ini menunjukkan adanya keterikatan asing dan LGBT di negeri ini.  Maka wajar, jika Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) menyampaikan himbauan agar tidak mendiskriminasi para pelaku LGBT di Indonesia.  Sebagaimana ungkapan Ketua Dewan PertimbanganMajelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsudin juga meyakini adanya bantuan dana dari lembaga internasional UNDP untuk membiayai gerakan Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) di Tanah Air. Ia meyakini hal ini seperti yang diinformasikan oleh mantan Ketua MK Mahfud MD yang menyebut LGBT di Indonesia tak berjalan sendiri."Saya percaya, informasi dari Prof Mahfud ada sekian puluhan juta dolar AS dari UNDP, tapi saya tidak ada pegang datanya," kata Din di Kompleks Istana Presiden. (Sumber : Republika.co.id)

Sungguh amat mengerikan apabila program LGBT ini mendapat tempat di negeri ini.  Indonesia adalah negeri yang 80% penduduknya mayoritas Islam. Sepatutnya LGBT ini harus menjadi perhatian kita sebagai umat manusia yang beradab dan beragama. Karena sejatinya LGBT adalah penyakit sosial maayarakat yang sepatutnya diwaspadai dan sangat mengkhawatirkan serta meresahkan masyarakt Indonesia. Apatah lagi bagi generasi mendatang.

Sistem Sekulerisme Menjadi Akar Mengakarnya LGBT
Sekulerisme adalah sebuah ideologi yang memisahkan agama dan kehidupan.  Maka sistem inilah yang harus disadari sebagai sebuah ideologi yang mengizinkan adanya program LGBT dan bahkan mungkin program-program lainnya sebut saja wacana legalisasi miras di negeri ini yang sudah tentu menyalahi aturan agama.
Dan tentunya mereka ingin diakui keberadaanya dibalik topeng Hak Asasi Manusia.  Karena memang sistem Sekulerisme-Liberalisme ini menjamin empat (4) kebebasan yaitu :
1. Kebebasan Beragama
2. Kebebasan Bertingkah Laku
3. Kebebasan Berpendapat
4. Kebebasan Berkepemilikan

Maka di balik empat kebebasan ini,  bisa saja LGBT ini akan mendapat tempat di negeri ini. Dan apakah kita sebagai umat muslim yang masih memiliki iman dan moral beradab berdiam diri dan mengabaikan begitu saja penyakit terlaknat ini berkembang di Indonesia? 

Islam Memandang LGBT
Harus difahami dengan baik bagi seorang muslim dalam memandang LGBT adalah sebagai sebuah penyakit sosial masyarakat dan penyakit terlakanat di sisi Allah swt. Bagaimana tidak, perilaku ini amat menyimpang dari tabiat manusia.  Dan penyakit ini bisa terjangkit kepada siapa saja apabila tidak dicegah keberadaannya.  Dan bahkan bisa terjangkit kepada orang-orang yang kita anggap baik dan sholeh sekalipun. Maka tidak heran mereka bersembunyi dibalik nama "Waria Islami,  Waria Berhijab" dan lain sebagainya. Dan bahkan mereka tak segan-segannya membangun pesantren khusus waria. Padahal jelas mereka adalah orang yang memiliki penyakit dalam dirinya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا
"Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth… Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth… 3 kali." –(HR. imam Ahmad 2915 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Adapun sanksi/hukuman yang diberikan kepada pelaku perbuatan LGBT ini adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut :
مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ
"Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah kedua pelakunya” [HR. imam Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah,dan Ahmad]
Ulama, Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Para sahabat telah menerapkan hukum bunuh terhadap pelaku homoseks. Mereka hanya berselisih pendapat bagaimana cara membunuhnya”
Beliau menyebutkan riwayat dari Khalid bin Walid Ra.
Ketika beliau diberi tugas oleh Khalifah Abu Bakar Ra untuk memberangus pengikut nabi-nabi palsu, di pelosok jazirah arab, Khalid menjumpai ada seorang lelaki yang menikah dengan lelaki. Kemudian beliau mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Mari Kita simak penuturan Ibnul Qoyim
فاستشار أبو بكر الصديق الصحابة رضي الله عنهم فكان على بن أبي طالب أشدهم قولا فيه فقال ما فعل هذ الا أمة من الأمم واحدة وقد علمتم ما فعل الله بها أرى أن يحرق بالنار فكتب أبو بكر الى خالد فحرقه
Abu Bakr as-Shiddiq bermusyawarah dengan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Ali bin Abi Thalib yang paling keras pendapatnya. Beliau mengatakan,
“Kejadian ini hanya pernah dilakukan oleh satu umat, dan kalian telah mengetahui apa yang Allah lakukan untuk mereka. Saya mengusulkan agar mereka dibakar.”

Selanjutnya Abu Bakr mengirim surat kepada Khalid, lalu beliau membakar pelaku pernikahan homo itu. Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Dipertontonkan dari bangunan yang paling tinggi lalu dilemparkan (ke bawah) diikuti lemparan batu”.

Dengan demikian hukuman bagi pelaku homoseks adalah bisa dengan cara dibakar, dirajam dengan batu, atau bisa dengan dilempar dari bangunan yang paling tinggi yang diikuti lemparan batu, atau dipenggal lehernya. Ada pula yang mengatakan ditimpakan tembok kepadanya.

Imam Ibnul Qoyim melanjutkan pendapat Ibnu Abbas,
وقال عبد الله بن عباس ان ينظر أعلا ما في القرية فيرمى اللوطى منها منكسا ثم يتبع بالحجارة وأخذ ابن عباس هذا الحد من عقوبة الله للوطية قوم لوط
"Sementara Ibnu Abbas mengatakan, “Lihat tempat yang paling tinggi di kampung itu. Lalu pelaku homo dilemparkan dalam kondisi terjungkir. Kemudian langsung disusul dengan dilempari batu.” Ibnu Abbas berpendapat demikian, karena inilah hukuman yang Allah berikan untuk pelaku homo dari kaumnya Luth".

Mazhab Al-Imam Asy-Syafi’i dalam satu pendapat yang diriwayatkan dari beliau dan sekelompok ulama (mazhab lainnya) bahwa pelaku hubungan sejenis harus dihukum mati (oleh Pemerintah), sama saja sudah pernah menikah atau belum, sebagai pengamalan terhadap hadits ini. Adapun Mazhab Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah hukumannya adalah dilempar dari tempat yang tinggi lalu disusul dengan lemparan batu, sebagaimana yang Allah lakukan kepada kaum Luth.”

Demikian hinanya perilaku ini dalam pandangam Islam,  maka sanksi atas mereka adalah seburuk-buruk sanksi. Dan hanya negara dalam bingkai khilafah yang akan mampu menerapkannya. Karena esensi penerapan Islam Kaffah ada pada sistem Khilafah Islamiyah. Tidak ada pembenaran atas dasar HAM, ketika hal itu merupakan perkara dilaknat dan dimurkai oleh Allah swt.  
Wallahu'alam bisshawab [MO]

Posting Komentar