Oleh:
Chusnatul Jannah

Mediaoposisi.com- Fenomena orang gila kian marak. Bukan gila yang tak beraturan yang bertebaran di jalan, tapi diduga gila karena editan.  Korban keganasan orang gila ini adalah para ulama. Sebut saja KH Umar Basri pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung  yang dianiaya usai shalat subuh. Korban berikutnya adalah komandan brigade PP Persis Ustadz Prawoto yang telah meninggal usai dianaya oleh orang gila katanya.  Adalah suatu yang bias untuk diterka untuk mengatakan peristiwa ini sekedar rekayasa ataukah memang fakta. Dibilang  rekayasa, harus ada aktor dan dalangnya. Dibilang fakta, mengapa serba kebetulan dan tak biasa?  Orang gila jaman now menyasar ulama dan pemuka agama. Rupanya orang gila jaman now rapi penampilannya, bersih mukanya, dan sehat badannya.

Jika kita melihat ke masa lalu, tak jarang pasca pemilu, banyak menghasilkan orang gila baru. Niat hati mencalonkan diri menjadi pejabat baru, namun kalah bersaing di pentas pemilu. Modal pun tak kembali sesuai yang diingini karena terkuras oleh kampanye sana sini. Apa dikata, stress pun menghantui sampai depresi hingga lupa siapa diri, berubahlah jadi gila karena kalah dan bermimpi menjadi pejabat legislatif yang dipilih. Begitulah kronologi orang gila yang dulu. Namun, orang gila jaman now sepertinya bukan hanya motif depresi karena gila calonkan diri, namun banyak motif yang melingkupi. Hukum di negeri ini mengatakan  di pasal 44 ayat 1 KUHP yang berbunyi, "Tiada dapat dipidana barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal." Dengan pasal ini saja sudah cukup menjadi dalil bagi setiap pelaku kriminal yang terkategori orang gila tidak dapat ditindak pidana. 

Jadi, cara paling mudah untuk terbebas dari jeratan hukum adalah menjadi orang gila. Kalaupun berpura-pura gila, maka harus melalui tahapan pemeriksaan dari ahli psikiater untuk menentukan apakah seseorang tersebut gila beneran atau editan.  Pelaku penganiaya ulama yang tersangkanya memiliki gangguan jiwa alias gila hanyalah secuil dari kegilaan yang mulai marak. Ada banyak kegilaan yang lebih gila akibat diterapkannya sistem kehidupan yang jauh dari nilai fitrah manusia.

Kegilaan Jaman Now
Kata kegilaan sering pula digunakan untuk menyatakan tidak waras, atau perilaku sangat aneh. Dalam pengertian tersebut berarti ketidaknormalan dalam cara berpikir dan berperilaku. Di sistem demokrasi, orang sehat pun bisa  menjadi gila. Ada yang gila karena kekuasaan, gila karena kedudukan, harta atau bahkan wanita. Gila karena harta, bisa menjadi gelap mata sehingga upaya memperkaya diri akan terus dilakukan sekalipun melanggar hukum dan agama. Gila karena kedudukan, bisa menjadi berbangga atas kedudukan yang dipunya hingga lupa bahwa pangkat dan kedudukan tak dibawa ke alam baka. 

Gila karena wanita, bisa menjadi lupa statusnya sebagai kepala rumah tangga. Hasilnya, perselingkuhan merajalela, angka perceraian menganga, bangunan rumah tangga hancur tak bersisa, menyisakan kisah anak yang merana karena orang btua berpisah. Gila karena narkoba, menjadi surga bagi para bandar, remaja pun menjadi sasaran. Rusaklah generasi karena narkoba, hancur masa depannya. Ada pula gila karena kekuasaan, menjadikan kekuasaan diperlakukan sekehendak tangan sampai lupa rakyat mati kelaparan karena kebijakan yang menguntungkan pemilik modal. Padahal, kekuasaan yang dimilikinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Penguasa Alam. Inilah kegilaan yang sedang terjadi sekarang. Kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat kerap dilakukan oleh para penguasa karena terikat dengan kepentingan para tuan yang memiliki modal alias kapital. Rakyat pun menjadi korban kedzaliman yang mereka lakukan.
 
Ternyata, semua oramg bisa berpotensi gila. Sistem ini mendukungnya.  Karena sistem ini sudah menyalahi kodrat manusia dan tak seindah teorinya. Jargonnya pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Rakyat yang mana? Faktanya, rakyat menderita karena pemerintahnya. Bagaimana bisa sistem yang berasal dari buah pikiran manusia mampu menjadi solusi atas permasalahan yang ada?  Sistem demokrasi yang katanya terbaik di masanya, nyatanya tak memberikan kebaikan dimana-mana. 

Dalam kehidupan masyarakat, kita pun dirusak oleh sistem sekular. Sistem ini  mengharuskan agama dipisahkan dari kehidupan. Hasilnya, aturan agama dibuang, sehingga yang dikenal hanyalah agama ritual bukan universal. Buktinya, kehidupan sosial masyarakat semakin tak karuan. Eljibiti dibiarkan, perzinahan dan seks bebas menyebar, generasi kian mengkhawatirkan. Apa ini sistem yang menyejahterakan? Makanya tak heran, akibat sistem ini diterapkan, lahirlah para penggila dunia yang menyebabkan bencana kegilaan di jaman now ini semakin tak terkendali.
 
Siapa Orang Gila Sebenarnya?
Syaikh Abdullah Al-Ghazali dalam Risalah Tafsir menyampaikan sebuah riwayat (hadis) sebagai berikut:
“Pada suatu hari Rasulullah SAW ber-jalan melewati sekelompok sahabat yang sedang ber-kumpul. Lalu beliau bertanya kepada mereka: “Mengapa kalian berkumpul disini” Para sahabat tersebut lalu menjawab: “Ya Rasulullah,  ada orang gila yang sedang mengamuk. Oleh sebab itulah kami ber-kumpul disini.” Maka Rasulullah SAW lalu bersabda:

“Sesungguhnya  orang  ini  tidaklah  gila  (al-majnun), tapi orang ini hanya sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang sebenar-benarnya disebut gila  (al-majnuun haqqul majnuun) “. Para sahabat lalu menjawab: “Tidak ya Rasulullah. Hanya Allah dan rasul-Nya jualah yang mengetahuinya.”

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan: “Orang gila yang sesungguhnya gila (al-majnun haqqul majnun) adalah orang yang berjalan dengan penuh kesombongan; yang membusungkan dadanya; yang memandang orang dengan pandangan yang merendah-kan; lalu berharap Tuhan akan memberinya surga; padahal ia selalu berbuat maksiat kepada-Nya. Selain itu orang-orang yang ada di sekitarnya, tidak pernah merasa aman dari kelakuan buruknya. Dan di sisi yang lain, orang juga tak pernah mengharapkan perbuatan baiknya. Nah, orang semacam inilah yang disebut sebagai orang gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnuun haqqul majnuun). Adapun orang yang kalian tonton ini hanyalah  sedang mendapat musibah dari Allah.”

Dari apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, dapat kita simpulkan bahwa orang gila yang sebenarnya adalah orang yang sehat jasmani dan rohaninya yang tetap memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan hukum agama yang dibebankan kepadanya. Namun dalam kehidupan masyarakatnya, ia berpenyakit. Penyakit itu adalah kesombongan. Dari Abdullah bin Mas’ud ra dari Nabi saw beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga orang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang sahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “sesungguhnya Allah Dzat yang maha indah dan senang dengan keindahan, Al Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim dalam Shahihnya Kitabul Iman).

Maka orang yang sombong adalah orang yang menolak kebenaran yang datang dari Al Qur’an dan As Sunnah.  Menolak setiap ajaran islam berdasarkan syariat islam yang bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah juga bagian dari kesombongan. Menolak hukum Allah diterapkan dalam kehidupan sama seperti meremehkan Allah sebagai Al Khaliq sekaligus Al Mudabbir. Dalam surat Ad Dukhan aat 17-19 Allah berfirman: “.....Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamau, dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata.” Ibnu katsir menjelaskan tentang tafsir firman Allah yang berbunyi: “dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah.” Yakni: janganlah kalian sombong dari mengikuti ayat-ayatNya dan melaksanakan hujah-hujahNya serta mengimani bukti-buktiNya.
 
Sejatinya kita sebagai seorang muslim tak layak menolak syariat Allah dengan meyakini hukum dan aturan lain sebagai solusi persoalan kehidupan. Sudah saatnya menghentikan kegilaan yang diakibatkan oleh sistem Demokrasi-Sekuler ini dengan kembali kepada sistem yang  berasal dari Dzat yang Menguasai negeri ini. Sistem yang akan mewujudkan rahmat sebagai negeri yang diberkahi. Itulah sistem yang berasal dari aturan Sang Ilahi Robbi, yaitu Islam. [MO]


Posting Komentar