Kartu Kuning : Menuju Khilafah sebagai Mainstream Perjuangan Mahasiswa!
Oleh: Rahmadinda Siregar (Aktivis Back To Muslim Identity Yogyakarta)

Mediaoposisi.com| Dalam setiap masa, mahasiswa senantiasa menjadi sorotan oleh penguasa. Daya tarik suara kritis dan idealisme yang tinggi pada mahasiswa tidak jarang menjadikan penguasa gerah dan berusaha  membungkamnya dengan sajian 'hidangan' di meja makan istana.

Perjalanan pergerakan mahasiswa memang sulit diprediksi. Jika dahulu di tahun 1966 lahir aktivis angkatan 66' dengan semangat perlawanan terhadap pemerintahan Soekarno, faktanya pasca politik orde lama tersingkir aktivis 66' justru merapat sebagian nya ke istana, ada yang duduk sebagai pejabat berdasi, wakil DPR, jaksa dsb. Tawaran - tawaran imun kekuasaan akhirnya merontokkan idealisme mereka.

Begitu pun, yang terjadi pada mahasiswa angkatan 77' & 98. Semangat perlawanan terhadap kedzaliman lenyap seketika tatkala tawaran kursi kekuasaan sudah dipersilahkan oleh lingkaran kekuasaan. Alih alih memperjuangkan nasib rakyat di dalam parlemen kekuasaan, yang terjadi justru lupa daratan. Lalu.  bagaimana dengan kondisi mahasiswa hari ini?

Aksi heroik menyemprit dan memberi kartu kuning yang dilakukan Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa kepada presiden Jokowi menandakan 'sinyal' perlawanan mahasiswa masih hidup. Patut diapresiasi. Khususnya ditengah meluasnya sikap "adem ayem" di kalangan pergerakan  mahasiswa. Ternyata masih ada aktivis yang terpanggil nuraninya untuk menyuarakan ketidakadilan.

Pemberian kartu kuning kepada penguasa hanyalah langkah awal dari gelombang frekuensi kartu berikutnya, yakni kartu merah yang menandakan berakhirnya ajal kekuasaan rezim Ruwaibidhoh yang tidak amanah di tengah umat.

Kesewenang-wenangan dan kedzaliman yang dipertontonkan penguasa negeri ini akan menjadi bahan bakar pemantik kesadaran solidaritas mahasiswa akan buruknya penerapan sistem demokrasi saat ini, dan tidak ada jalan perubahan lain selain menuju perubahan sistem yang tegak di atas Ideologi Islam

Buruknya periayahan negara terhadap rakyat yang mengakibatkan beban masyarakat kian bertambah,  penyerahan aset bangsa kepada Asing dan Aseng, utang menggunung,. merosotnya perekonomian, ketidakpastian hukum, beserta segudang persoalan lainnya yang melanda negeri ini cukuplah menjadi realitas fakta yang semakin menambah kesadaran mahasiswa untuk bangkit segera mengakhiri rezim Mulkhan Jabariyan beserta sistem kapitalisme sekuler akutnya, seraya berjuang mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah 'Ala Minhaj An-Nubuwwah. [MO]


 .

Posting Komentar