Oleh: dr. Agnes Ummu Afifah
(Praktisi medis)


Mediaoposisi.com- Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia (KT HAM) PBB Zeid Ra'ad Al Husein melakukan kunjungan ke Indonesia pada 4 sampai 7 Februari kemarin. KT HAM PBB yang merupakan kerurunan Asia, Muslim, dan Arab ini membahas berbagai isu HAM di Indonesia melalui pertemuan dengan beberapa pihak. Aktivis HAM, korban pelanggaran HAM, pemerintah, hingga bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo.

Diantara pembahasan yang cukup menarik untuk menjadi sorotan adalah isu Islam moderat dan perang melawan Islamofobia. Zeid memandang bahwa Indonesia saat ini mengambil posisi yang positif terkait HAM. Bahkan dia menaruh harapan terhadap Indonesia, yaitu Islam Indonesia menjadi contoh dunia, sebagaimana disampaikannya saat berkunjung ke Kantor Kementrian Agama, Jakarta.

"Sesuatu yang kita harapkan dari Indonesia, bagaimana Indonesia bisa berdiri sebagai contoh Islam bagi dunia" ungkapnya, Selasa (6/2) .

Menteri Agama, Lukman, menjelaskan tentang kampanye gerakan moderasi agama. Moderat yang dimaksud Lukman adalah tidak ekstrem, baik konservatif ataupun liberal. Menurutnya Kemenag terus berupaya agar paham dan pengamalan keagamaan bangsa Indonesia tetap terjaga dan terpelihara pada tingkat moderasinya. Lukman menambakan bahwa moderasi agama adalah karakter masyarakat Indonesia yang religius. Sehingga paham yang ekstrem yang mentolerir tindak kekerasan dan melanggar HAM sedapat mungkin dihindari melalui paham keagamaan.

Pada hari terakhir kunjungannya, Zeid menekankan untuk bersama-sama memerangi Islamofobia, yang dilihatnya sebagai masalah di berbagai belahan dunia. Dia menyatakan bahwa diskriminasi merupakan hal yang harus dilawan. Namun menurutnya, untuk memerangi diskriminasi, sebuah negara harus siap untuk mengakhiri diskriminasi di kawasannya sendiri.

Islam Moderat Bukan Ajaran Islam
Wacana Islam moderat kembali menguat dewasa ini. Berbagai peristiwa tanah air berusaha selalu dikaitkan dengan isu intoleransi, radikalisme, dan diskriminasi. Terutama sejak polemik Pilkada Ibukota yang berakhir dengan vonis bersalah dari hakim terhadap salah satu calon yang tersangkut kasus penistaan agama dan berakibat pada kegagalannya meraih suara rakyat Jakarta. Beberapa oknum memanfaatkan peristiwa ini untuk menuduh bahwa masih ada ummat Islam yang memegang teguh paham radikal, bersikap intoleran, menyelesaikan masalah dengan kekerasan, melakukan diskriminasi terhadap keyakinan lain, dan berbagai fitnah yang lain. Tuduhan yang jelas menyudutkan Islam dan kaum muslimin. Hingga akhirnya dilahirkanlah gagasan yang seolah menjadi solusi, sebuah gagasan lama yang kembali dipropagandakan para tokoh negeri, yaitu Islam moderat. Wakil presiden Jusuf Kalla pernah memberi gambaran mengenai Islam moderat. Beliau menyatakan bahwa Islam moderat memiliki ciri pergaulan hidup yang berbeda dengan Islam di Timur Tengah.

"Islam jalan tengah, Islam moderat. Islamnya sama, tapi gaya hidupnya, pergaulannya lebih kepada sesuatu yang dapat bersama berdampingan sesama agama maupun dengan agama lain dengan baik", katanya, dalam kuliah umum di IAIN Manado, Minggu (23/4/2017).

Islam moderat diidentikkan dengan Islam yang bersikap terbuka terhadap segala pemikiran baru yang berasal dari luar ajaran Islam. Sesuai dengan penjelasan Rand corporation dalam "Building Moderat Muslim Networks", yakni Islam yang mendukung demokrasi, pengakuan terhadap HAM, menghormati sumber hukum non sektarian, dan menentang terorisme. Istilah ini biasanya dilawankatakan dengan Islam radikal atau Islam fundamental, yang dianggap Islam yang "kaku", cenderung menolak perbedaan dan intoleran. Suatu permainan istilah yang mampu menjebak kaum muslimin, sehingga semakin jauh dari ajaran asli agamanya.

Jika ditelusuri, hakikatnya istilah Islam moderat merupakan gagasan intelektual Barat untuk mengubah cara pandang muslim terhada Islam, membuatnya jauh dari akidah dan nilai-nilai Islam. Sebaliknya, mereka akan menerima pemikiran dan nilai-nilai Barat. Hasil akhirnya bisa ditebak, semakin mudah bagi Barat menguasai negeri Muslim, karena Islam yang dianut tidak lagi bertentangan dengan kepentingannya.

Oleh karena itu, pujian terhadap Indonesia yang disampaikan oleh KT HAM PBB terkait penerapan Islam moderat di negeri ini, bahkan sangat diharapkan bisa menjadi contoh negeri-negeri lain, harus diwaspadai. Pujian yang sesungguhnya tidak membawa manfaat sama sekali untuk Indonesia, sebaliknya merupakan awal kemenangan Barat untuk mempertahankan pemikiran dan nilai-nilai hidup mereka tetap menguasai ummat muslim terbesar ini.

Perang terhadap Islamofobia
Gejala Islamofobia mulai muncul di dunia sejak peristiwa WTC 11 September 2001, dimana kelompok Islam dituduh bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Islam mulai diperkenalkan dengan wajah yang berbeda. Keras, intoleran, teror, dan radikal disematkan pada agama mulia ini. Terorisme yang sejatinya merupakan suatu paham yang tidak pernah diajarkan oleh Rosul pembawa risalah Islam, Muhammad SAW, dipropagandakan sangat berkaitan dengan Islam. Berbagai atribut Islam dikampanyekan negatif melalui berbagai konspirasi jahat. Setiap tindakan kekerasan terhadap agama selain Islam, baik dilakukan oleh seseorang ataupun sebuah kelompok, langsung dicari kaitannya dengan Islam dan pelakunya dilabeli teroris.

Al Qur'an, buku-buku agama, bendera tauhid kerap ditampilkan sebagai barang bukti yang dimiliki aparat hukum untuk kasus terorisme. Pelaku teror dicirikan dengan orang yang memanjangkan jenggot, menggunakan jubah, bercadar jika seorang wanita, mengenyam pendidikan pesantren, sampai memiliki kabiasaan rutin sholat jamaah di masjid. Sedikit aneh sebenarnya, karena jika kekerasan dan penyerangan yang dilakukan terhadap ummat Islam atau jika pelakunya ternyata seorang non muslim, maka secara ajaib label terorisme ini hilang. Kasusnya hanya akan disebut kriminal biasa.

Semua propaganda negatif tersebut membuat warga dunia mengalami fobia jenis baru yang sebelumnya tidak pernah ada, yaitu fobia Islam. Mereka selalu merasa ketakutan dan paranoid jika bertemu dengan seseorang yang memakai atribut Islam. Seakan jika ada seorang muslim yang keluar rumah untuk beraktifitas, maka mereka pasti sedang merencanakan pengeboman, atau minimal pembunuhan terhadap non muslim. Islamofobia ini kental sekali terasa di dunia Barat, karena muslim menjadi minoritas di sana. Mereka biasa mendapatkan diskriminasi atau minimal pandangan aneh dari orang di sekitarnya. Tidak jarang, ummat Islam menjadi korban kekerasan akibat kesalahpahaman warga yang mengidap islamofobia.

Virus ini menyebar ke berbagai negeri, Indonesia termasuk salah satunya. Aneh memang, negeri yang memiliki jumlah muslim terbesar justru mengalami fobia terhadap Islam. Propaganda yang sama telah dicekokkan pada masyarakat Indonesia sehingga menjadikan ketakutan tanpa alasan terhadap segala hal yang berkaitan dan identik dengan Islam. Merasa ngeri mendengar teriakan takbir, alergi terhadap bendera bertulis kalimat tauhid, cenderung menjauh jika bertemu saudara muslimnya yang mengenakan pakaian serba tertutup dan bercadar, menghindari majelis ilmu, serta paranoid dan merasa terancam dengan beberapa ajaran Islam yang dianggap keras seperti Jihad dan Khilafah.
Fenomena ini yang akhirnya juga menjadi perhatian khusus KT HAM PBB. Zeid mengajak Indonesia bersama-sama memerangi Islamofobia. Dia pun menjelaskan, jika ummat muslim ingin memerangi Islamofobia yang merebak di berbagai negara, maka suatu negara harus bisa mengakhiri diskriminasi di negaranya tersebut. Pernyataan ini mengandung isyarat makna, bahwa seolah benar selama ini Islam telah bersikap diskriminatif, sehingga wajar ada respon fobia terhadapnya. Terbukti dengan pernyataan yang berikutnya yang diutarakan olehnya.

"Islamofobia salah. Diskriminasi atas kepercayaan dan warna kulit salah. Diskriminasi atas orientasi seksual dan status lain juga salah".

Sepertinya beberapa sikap ummat Islam akhir-akhir ini yang menunjukkan semakin terbuka kesadaran mereka terhadap ajaran agamanya dinilai sebagai sikap diskriminatif. Gelombang penolakan ummat Islam secara besar-besaran terhadap calon pemimpin kafir. Arus opini netizen di sosial media yang mengkritisi masuknya tenaga kerja asing China dengan sangat mudah, di tengah sulitnya pribumi menemukan lowongan pekerjaan. Termasuk penolakan legalisasi komunitas LGBT yang sangat meresahkan. Semua sikap yang sebenarnya lahir dari keimanan dan kepedulian terhadap bangsa dan negeri, rupanya dianggap diskriminasi.

Jika menghentikan diskriminasi membawa dampak ummat Islam harus kehilangan keimanan dan kepeduliannya, maka ajakan memerangi islamofobia hanyalah dijadikan tameng untuk menyatakan secara tersirat bahwa Islam berisikan ajaran diskriminatif. Islamofobia sejatinya bukan efek samping penerapan ajaran Islam, melainkan sengaja diciptakan oleh pihak yang tidak menginginkan Islam dicintai dan diamalkan segala ajarannya. Menciptakan monster baru yang sanggup menakuti manusia sampai tingkat paranoid berlebihan. Mereka mengerahkan segala upaya, merancang segala bentuk konspirasi untuk memuluskan target besarnya. Hasil akhirnya, masyarakat benar-benar fobia terhadap Islam.

Logika manapun tidak akan mampu menjawab, mungkinkah sebuah konsep aturan sempurna yang lahir langsung dari Sang Maha Sempurna, ketika diterapkan secara menyeluruh akan membawa dampak negatif seperti Islamofobia. Sejarah justru membuktikan, ketika Islam menjadi suatu sistem kehidupan, semua warga termasuk ummat agama lain merasakan kedamaian dan keadilan penerapan Islam. Ketika orang-orang Yahudi terpaksa harus mengungsi akibat praktek inkuisisi yang dilakukan oleh orang-orang Kristen di Spanyol pada abad ke-15, mereka mendapat perlindungan dari Khalifah Bayazid II. Bahkan pasukan salib harus menerima kenyataan bahwa tentara yang ada di hadapan mereka saat datang menyerbu wilayah Syam, tidak lain adalah pasukan Kristen di Syam yang turut terjun dalam medan perang membela Khalifah.

Oleh karena itu, upaya moderasi Islam dan memerangi Islamofobia hanyalah agenda terselebung berbagai pihak yang hendak mengkriminalisasi Islam, memudarkan ajarannya dan menekan laju kebangkitan ummatnya. Penting bagi ummat Islam untuk senantiasa berpegang pada kemurnian Islam sesuai ajaran Rasulullah. Tidak mudah tertipu dengan berbagai propaganda jahat yang selalu akan dikemas dengan keindahan. Wallahu'alam. [MO]


Posting Komentar