Oleh : Susi Sumiati S.Pd
(Eks Guru Honorer)

Mediaoposisi.com-“Guruku tersayang, guru tercinta,Tanpamu apa jadinya aku..”Itulah penggalan lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak sebagai penghormatan terhadap para guru.ya para guru, yang telah memberikan banyak hal kepada kita.

Tentunya kita tidak sedang berbicara guru itu honorer atau bukan, yang beberapa minggu lalu, guru yang biasanya digambarkan sebagai guru yang terdiskriminasi karena honor yang rendah, mendapatkan berita baik, karena ada rencana pengangkatan ribuan guru honor.

Tanggal 25 November  2017 kemarin yang diperingati hari guru nasional menjadi momentum para guru untuk mengusulkan meningkatkan kesejahteraan.

Sebenarnya saat ini sebagian guru yang berstatus PNS kesejahteraannya sudah jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Bahkan, saat ini guru PNS tersebut di kota-kota besar penghasilannya sudah mencapai Rp 10 juta per bulan. Bahkan di Jakarta, menurut Ikatan Guru Indonesia (IGI) sudah lebih dari Rp 10 juta.Sayangnya, sampai saat ini masih banyak guru-guru berstatus honorer yang penghasilannya masih Rp 500 ribu per bulan.

Lalu bagaimana nasib mereka? Ketua Umum Ikatan Guru ndonesia Muhammad Ramli Rahim mengatakan sebenarnya sudah ada titik terang dari nasib guru honorer tersebut, yaitu akan dirubah kontrak kerjanya menjadi Pegawai Pemerintah Perjanjian Kontrak (P3K).

"Dengan perubahan status kerja ini sebenarnya sudah patut disyukuri karena penghasilan mereka akan meningkat," kata Ramli kepada Liputan6.com, Sabtu (25/11/2017).

Hal ini tentu menjadi angin segar, karena untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang baik, tentu harus ditopang oleh guru yang mumpuni.

Bagaimana mungkin seorang guru akan bisa mengajar dengan tenang, ketika dia harus pontang- panting mencari tambahan untuk kehidupannya, karena gaji guru honor yang tidak memadai. Sebagaimana dikatakan wapres Jusuf Kalla, guru honorer harus mendapatkan perhatian.

Bukan tanpa sebab. Mereka telah berjuang untuk memajukan pendidikan. Oleh karena itu pula, para guru honorer itu tidak selayaknya mendapatkan gaji yang rendah.

Gaji Guru  Di Masa Kekhalifahan

Menjadi guru adalah profesi yang mulia.Dari merekalah kita kemudian banyak mendapatkan ilmu. Dari tangan-tangan merekalah, muridnya menjadi orang-orang yang berguna.

Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap dunia pendidikan. Rasulullah  saw. Pernah menetapkan agar para tawanan perang Badar dapat bebas jika mereka mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah.

Hal ini merupakan tebusan. Menurut hukum Islam, barang tebusan itu merupakan hak Baitul Maal (kas negara).

Sementara Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al Ahkaam menjelaskan bahwa seorang kepala negara (khalifah)  berkewajiban untuk memenuhi sarana-sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat.

Jika kita melihat sejarah kekhalifahan Islam maka kita akan melihat perhatian para khalifah terhadap pendidikan rakyatnya sangat besar demikian pula perhatiannya terhadap nasib para pendidiknya.

Banyak hadits Rasul yang menjelaskan perkara ini, di antaranya: “Barangsiapa yang kami beri tugas melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rezeki (gaji/upah/imbalan), maka apa yang diambil selain dari itu adalah kecurangan” (HR. Abu Daud).

“Barangsiapa yang diserahi tugas pekerjaan dalam keadaan tidak memiliki rumah maka hendaklah ia mendapatkan rumah.

Jika ia tidak memiliki isteri maka hendaklah ia menikah. Jika ia tidak memiliki pembantu maka hendaklah ia mendapatkannya. Bila ia tidak memiliki hewan tunggangan hendaklah ia memilikinya. Dan barang siapa yang mendapatkan selain itu maka ia telah melakukan kecurangan”.

Hadits-hadits tersebut memberikan hak kepada pegawai negeri (pejabat pemerintahan) untuk memperoleh gaji dan fasilitas, baik perumahan, isteri, pembantu, ataupun alat transportasi. Semua harus disiapkan oleh negara.

Sebagai perbandingan, Imam Ad Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar ( 1 dinar = 4,25 gram emas) (sekitar 30-36jutaan, sesuai dengan harga emas sekarang). 

Semoga Bukan Sekedar Janji

Menjadi pemimpin tentulah tugas yang sangat berat. Dia diibaratkan sebagai penggembala yang harus menjaga gembalaanny dari terkaman serigala.

Pemimpin adalah perisai, di mana rakyat berlindung di baliknya. Semoga para pemangku kebijakan, bisa menepati janji-janjinya terhadap nasib jutaan guru honorer ini.

Tentu dengan adanya kabar pengangkatan guru honorer, bukan sekedar janji-janji. Tapi lebih kepada tanggung jawab penguasa terhadap rakyatny.

Seperti sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu yang mengingatkan:
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim). [MO]


Posting Komentar