Oleh : Ulfiatul Khomariah
(Mahasiswi FIB UNEJ, Freelance Writer, Pemerhati Sosial dan Politik)


Mediaoposisi.com- Darah kembali memerah di tanah berdebu Ghouta Timur, Suriah. Sungguh, kondisi di kota Ghouta kini sangat memprihatinkan. Pasukan rezim Bashar al Assad dan sekutu kuatnya (Rusia) mengabaikan seruan dunia internasional untuk menghentikan pengeboman dan pembantaian ganas di kota yang dikuasai oleh kaum oposisi tersebut. Kondisi Ghouta Timur kini setara dengan neraka di dunia.

Sebagaimana kabar yang dilansir di Yahoo News, warga distrik Ghouta di Suriah Timur, Rabu 21 Februari 2018, mengatakan mereka saat ini sedang menunggu “giliran untuk mati”. Mereka ada di tengah pengeboman terparah oleh pasukan pro-pemerintah di daerah kantong pemberontak yang terkepung di dekat Damaskus.

Sedikitnya 23 orang tewas di desa Arbin dan Saqba dan lebih dari 200 lainnya luka-luka dini hari Rabu. Ini menambah jumlah korban tewas yang dibantai di Ghouta sejak Senin pekan ini. Lembaga pemantau HAM Suriah (SOHR) yang berbasis di Inggris, mengatakan, sedikitnya 296 orang telah terbunuh di distrik tersebut dalam tiga hari terakhir.

Ghouta bagian timur, sebuah distrik pertanian padat penduduk di pinggiran Damaskus, merupakan kota besar terakhir di dekat ibukota yang masih berada di bawah kontrol oposisi. Kota yang merupakan rumah bagi 400.000 orang itu, telah dikepung pasukan pemerintah selama bertahun-tahun.

Berdasarkan hasil pengamatan dari (kiblat.net), operasi kali ini diperhebat sebagai bagian dari upaya tentara rezim untuk menguasai kawasan Ghouta dari kelompok pejuang. Yang lebih mengerikan lagi, pasukan rezim Bashar al Assad dilaporkan kini hanya menunggu perintah untuk melancarkan serangan darat besar-besaran dengan senjata berat ke atas kawasan itu. Pasukan Assad ingin merebut kota tersebut dari oposisi. Sehingga mereka meluncurkan operasi pengeboman besar-besaran ke kawasan tersebut. Kekerasan di Ghouta tercatat sebagai perang sipil paling mematikan di Suriah.

Sebenarnya konflik Suriah ini dimulai ketika rezim Baath berkuasa sejak 1963 dan dipimpin oleh Assad, menanggapi demonstrasi damai yang menuntut reformasi demokratis dengan kekuatan militer brutal selama gelombang pemberontakan Musim Semi Arab, sehingga memicu pemberontakan bersenjata yang didorong oleh pembelotan massal dari tentara Suriah yang tidak tahan melihat kekejian para loyalis Assad.

Taktik brutal yang dilakukan terutama oleh rezim tersebut, yang mencakup penggunaan senjata kimia, pengepungan, eksekusi massal dan penyiksaan terhadap warga sipil telah menyebabkan penyelidikan kejahatan perang.

Berbagai upaya pun dilakukan untuk membantu meringankan beban Ghouta, seperti komentar kecaman dari UNICEF atas pemboman terbaru tersebut. Begitupun berupa kutukan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada hari Selasa (6/2) mengutuk Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan Rusia karena ketegangan yang diciptakan dan perusakan di zona de-eskalasi. Namun pertanyaannya, cukupkah masalah Ghouta hanya disolusi dengan kecaman atau kutukan dan berharap pada PBB?

Solusi PBB Ilusi
Telah terbukti bahwa solusi yang diberikan oleh PBB hanyalah sebuah ilusi, meskipun berbagai bantuan berupa makanan dan obat-obatan dikirimkan untuk Ghouta, namun itu hanyalah solusi parsial belaka. Hari ini penduduk Ghouta bisa makan dan memperoleh kesehatan, tapi blum tentu keesokan harinya mereka masih bisa dijamin hidup.

Mengapa resolusi PBB tidak bisa diharapkan? Mari kita belajar dari sejarah bagaimana PBB mensolusi masalah konflik Palestina dan Israel. Keluarnya resolusi PBB ditentukan oleh sikap negara pemilik hak Veto terutama AS. Selama ini banyak resolusi terhadap Israel yang kandas karena diveto AS termasuk resolusi terhadap Israel atas invasi ke Gaza yang menewaskan lebih dari 1300 orang termasuk banyak diantaranya wanita, anak-anak dan orang tua.

Tercatat sejak tahun 1972 sampai tahun 2009, sudah lebih dari 68 resolusi PBB yang berhubungan dengan eksistensi israel di Palestina diveto Amerika. Ini belum termasuk resolusi setelah tahun tersebut plus resolusi terakhir saat israel melancarkan agresinya di gaza.

Dan Amerika Serikat pun dengan tegas menyatakan bahwa mereka akan menveto usulan Palestina tersebut yang diungkapkan oleh Perdana menteri Israel benyamin Netanyahu, 

"Upaya Palestina untuk meraih dukungan dari PBB akan gagal, setelah Amerika Serikat (AS) berniat untuk memveto dukungan itu," jelas Netanyahu seperti dikutip MENAFN, Senin (19/9/2011).

Artinya, sebuah aktivitas yang sia-sia ketika berharap kepada PBB, termasuk di dalamnya keinginan untuk menjadi anggota PBB. Jika masalah Palestina saja PBB tak mampu mengatasinya, maka sudah dipastikan masalah Ghouta pun tak bisa diselesaikan.

Khilafah Untuk Ghouta
Solusi hakiki untuk masalah Ghouta haruslah bersandar pada syariah. Masalah Ghouta adalah masalah Islam dan seluruh kaum Muslim. Penyelesaian tuntas masalah Ghouta tidak lain adalah dengan mewujudkan kekuasaan Islam yang berlandaskan akidah dan syariah Islam. Itulah Khilafah Islam yang mengikuti manhaj kenabian. Khilafahlah, sebagai satu-satunya pelindung umat yang hakiki, yang akan melancarkan jihad terhadap siapa saja yang memusuhi Islam dan kaum Muslim. Tentu dengan kekuatan jihad pula Khilafah akan sanggup mengusir para penjajah dan musuh-musuh Islam.

Dengan membaca QS al-Isra’ [17]: 4-8, kita bisa memahami bahwa Yahudi hanya dapat dikalahkan dengan “hamba-hamba Allah yang memiliki kekuatan besar”. Kekuatan besar itulah Khilafah. Dengan Khilafahlah  para penjajah pasti bisa dikalahkan.

Jadi benarlah, solusi tuntas masalah Ghouta adalah Khilafah dan jihad. Sayang, sebagian kalangan sering nyinyir bila disodorkan solusi ini. Padahal jika bukan Khilafah dan jihad, adakah solusi lain? Apakah dengan perundingan? Ingatlah, sudah sangat banyak perundingan damai digelar dan ditandatangani, tetapi sebanyak itu pula diingkari. Jangankan sekadar sejumlah negara Arab atau Dunia Islam, bahkan seluruh dunia mengutuk pun, rezim Bashar al-Assad dan sekutunya (Rusia) tak pernah peduli. 

Sungguh saat ini kita butuh khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah. Khalifah lah yang akan menjadi perisai umat. Yang akan melindungi umat dari kepungan musuh yang haus darah. Umat tanpa Khilafah akan seperti anak anak ayam yang terlepas dari induknya. Terpecah-pecah. Kocar-kacir dan tak memiliki kekuatan. Maka saatnya umat islam di seluruh dunia bersatu dalam naungan khilafah. Bersatu melawan si penjajah dan penjarah wilayah. Wallahu A’lam Bish-Shawwab.. [MO]

Posting Komentar