Oleh : Dela Nusa

Mediaoposisi.com- Belakangan tak bisa dipungkiri, benturan antara yang haq dan yang bathil smakin terlihat nyata. Pertarungan antara kebenaran atau yang menjadi simbol kebenaran dengan kebathilan.  Apakah ini pertanda jelang akhir zaman? wallahu a'lam.  

Hanya saja berbagai kasus seakan mengarah ke sana. Mengutip dari Republika.co.id, kasus pertama terjadi kepada Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri (Mama Santiong). Ia menjadi korban penganiayaan usai Shalat Subuh di masjid. Polisi menangkap pelaku penganiayaan yang kemudian diidentifikasi kemungkinan lemah ingatan. Kini, kondisi Kiai Umar semakin membaik dan pelaku sudah ditahan.

Belum jelas motif penganiayaan terhadap Kiai Umar, tiba-tiba muncul kasus baru yang bahkan menyebabkan meninggalnya Komando Brigade PP Persis, Ustaz Prawoto. Ustaz Prawoto meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat dianiaya seorang pria pada Kamis (2/1) pagi.  Parahnya tragedi ini terjadi hanya selang 5 hari dari peristiwa sebelumnya. Ada beberapa kesamaan dalam dua kasus ini, pertama, ulama/ustaz yang menjadi korban penganiayaan itu. Kedua, penyerangan dilakukan oleh orang yang diduga tidak waras alias kemungkinan sakit jiwa. Ketiga, penyerangan dilakukan pada waktu subuh.

Seakan menambah kasus diatas, terjadi pula perusakan masjid di berbagai daerah. Di Tuban seorang pria belum diketahui identitasnya mengamuk dengan melempar kaca-kaca pintu dan jendela Masjid Baiturrohim di Tuban. Peristiwa itu terjadi Selasa (13/2/2018) dini hari (detik.com).  Beberapa bulan sebelumnya  Masjid Quwatul Islam di Yogyakarta juga dirusak orang tak dikenal.. Polisi telah mengamankan 2 orang terkait kasus ini. "Dua orang sudah diamankan sekarang," ujar Kapolsek Danurejan Kompol Aslori kepada detikcom, Senin (9/10/2017) malam.
   
Bahkan jauh sebelumnya juga telah terjadi perusakan lima masjid di Medan, ada beberapa tindakan pembakaran dan pengerusakan masjid disertai dengan penganiayaan, diantaranya, pembakaran dan pengerusakan Masjid Nur Hikmah di Dusun Lima Desa Aek Loba Kecamatan Aek Kuasan, Kabupaten Asahan. Pembakaran dan pengerusakan Masjid Taqwa di Kelurahan Aek Loba, Kecamatan Aek Kuasan, Kabupaten Asahan.

Ada juga pembongkaran Masjid Al IKhlas di Jalan Timur, Kelurahan Perintis, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan. Pembakaran rumah, pengerusakan masjid dan penganiayaan massif di Jalan Kampung Melayu, Selambo, Dusun Tiga, Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Dan pembakarn Masjid Fii Sabilillah di Jalan Lintas Tobasa, Lumban Lowu, Kabupaten Toba Samosir, Toba Samosir. Pembakaran Masjid Besitang, Desa Selamet, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat. Akibatnya, pihak kepolisian menahan tersangka pembakaran dua masjid di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. (Kabarislamia.com-2011).

Ulama dan masjid  adalah beberapa diantara simbol kebenaran.  Bukankah ulama identik dengan pewaris para nabi? Sedang masjid disebut juga baitullah alias rumah tempat beribadah pada Allah yang Maha Pencipta sekaligus Maha Pengatur. Sungguh pertarungan antara yang haq dan bathil telah ditaqdirkan sejak dahulu kala. Sejak Iblis laknatullah ‘alaihi bersumpah dihadapan Allah swt untuk melestarikan peperangan dengan hamba-hamba Allah dengan dirinya. Sumpah ini tetap lestari sepanjang zaman. Tidak akan berubah selama langit tidak berubah. Namun  sunnatullah menegaskan, kebatilan pasti lenyap dan kebenaran akan tegak.

Firman Allah swt,
“Dan katakanlah: “Yang haq telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (al-Isra’: 18).
Demikianlah penegasan akan menangnya  kebenaran Islam juga terdapat dalam  siroh Nabi saw. Suatu ketika Khabbab bin al-Aratt berkata: “Aku mendatangi Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam saat beliau tidur dengan berbaring di atas burdahnya dan berteduh di bawah naungan Ka’bah. Kami juga saat itu telah mengalami penyiksaan berat dari kaum Musyrikun. Lantas aku berkata: ‘tidakkah engkau berdoa kepada Allah!’ (agar menolong para shahabat-red). mendengar ucapan ini, beliau langsung duduk sedangkan raut wajahnya tampak memerah sembari berkata: ‘sungguh, orang-orang sebelum kalian pernah diseset dengan sesetan besi panas yang menusuk daging hingga mengenai tulang belulang dan urat. Akan tetapi hal itu semua tidak membuat mereka bergeming sedikitpun dari dien mereka. Sungguh Allah akan menyempurnakan urusan agama ini hingga seorang pejalan kaki berjalan dari Shan’â ke Hadlramaut tidak ada yang ditakutkannya selain Allah Ta’ala" (Muttafaq 'alaih).

Maka bagi orang-orang yang yakin, tegaknya kebenaran dengan tegaknya syariat Allah secara kaffah hanya soal waktu. Dengan demikian tinggal tersisa satu tanya, di sisi manakah kita akan tegak berdiri? Di sisi yang haq atau yang bathil.  Masing-masing dengan konsekuensinya. Istiqomah berjuang menolong agama Allah dengan segala resikonya ataukah menyerah hingga melepaskan jati diri sebagai muslim pengusung kebenaran sejati.

Cukup bagi kita janji Allah dalam firmanNya,
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik". (Q.S. An Nur: 55)
Wallahu a'lam. [MO]

Posting Komentar