Oleh : Asmaridha (Member Back To Muslim Identity Meulaboh)

Mediaoposisi.com- Dalam beberapa pekan ini,  media pemberitaan dihebohkan dengan aksi-aksi teror yang menyasar para pemuka agama.  Baik dari kalangan ulama maupun dari pastor gerejawan.
"Lima kasus penyerangan terhadap pemuka agama terjadi dalam dua pekan terakhir, satu di antaranya menewaskan petinggi Persatuan Islam (Persis) Kota Bandung, Ustaz Prawoto" (Sumber : Bbc.com)

Para pengamat menilai lima peristiwa itu justru tergolong aksi teror. Dan hal ini tidak sejalan dengan ungkapan Bapak Jokowi.  Sebagaimana beliau menyebutkan bahwa ini adalah aksi in-toleran. Dan hal itu di bantah oleh Ichsan Malik "Jokowi tidak cukup menyebut ini sebagai perbuatan intoleran karena skalanya meluas, menimbulkan kepanikan dan mengarah ke krisis," kata Ichsan Malik, pakar psikologi perdamaian dari Universitas Indonesia, Senin (12/02). (Sumber : Kompas. Com)

Demikian pula pernyataan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan mengatakan "perlu dibentuk Tim Pencari Fakta terhadap kasus penyerangan yang menimpa tokoh agama. Hal tersebut disampaikan oleh Amirsyah, menyusul penyerangan Gereja Santa Lidwina Sleman oleh orang tak dikenal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarga (DIY), Ahad (11/2). Dan kemudian beliaupun menyayakan "Jadi saya enggak percaya pelakunya Orang Gila Gaya Baru (OGGB), mesti ada aktornya yang harus diungkap. Sikap mengutuk pelaku merupakan sikap yang tegas, jelas dengan harapan agar tak terulang kasus yang sama," tambahny"( Sumber : Republika.co.id)

Di Banda Aceh, baru-baru ini beredar video berdurasi 31 detik serta dua foto yang memperlihatkan seorang pemuda, menggenakan baju putih dan celana biru dongker, diamankan oleh petugas keamanan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (10/2/2018) sore.(Sumber : Serambinews.com)

Skenario Sistemik di Balik Kekerasan Terhadap Pemuka Agama

Fakta yang ada saat ini,  sungguh bukan perkara kebetulan. Dan semua para pengamat politik bersepakat ada upaya skenario secara sistemik untuk memecah belah masyarakat Indonesia.  Sungguh sangat tidak masuk akal, orang gila bisa menyasar orang-orang tertentu seperti imam mesjid,  ustadz  dan ulama.

Kejadian-kejadian tersebut sepertinya dikendalikan oleh suatu skenario sistemis yang bertujuan menyebarkan rasa takut dan pertentangan antarumat beragama dan akhirnya menciptakan instabilitas nasional apalagi menjelang pilkda dan pilppres kedepan.

Namun yang amat di sayangkan,  kejadian itu hanya menyoroti aksi radikalosme Islam. Yang terjadi di Sleman baru-baru ini, lagi-lagi pihak tertuduh adalah ISLAM.  Dengan stigma "Radikalisme". Sebagaimana ungkapan Kapolri "penyerang gereja Lidwina sosok radikal yang ingin ke Suriah" (Sumber : Detiknews.com)

Pencitraburukan Islam di Balik Teror Pemuka Agama

Tidak dipungkiri ada upaya demonologi terhadap Islam dan ajarannya. Menarik apa yang dinyatakan oleh Noam Choamsky, bahwa demonologi merupakan perekayasaan sistematis untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan, dan karenanya ia harus dimusuhi, dijauhi, dan bahkan dibasmi.

Dalam teori komunikasi, “demonologi” dapat dikategorikan ke dalam wacana “labeling theory” (teori penjulukan). Dalam teori tersebut, korban-korban misinterpretasi ini tidak dapat menahan pengaruh dari proses penjulukan yang dilakukan dengan sedemikian hebat.

Misal dalam hal demonologi "khilafah", kita dapat pahami bahwa hal tersebut merupakan upaya penyetanan ide khilafah atau penghantuan ide khilafah, yakni penggambaran atau pencitraan khilafah sebagai demon (setan, iblis atau hantu) yang jahat (evil) dan kejam (cruel). Atau dengan kata lain merupakan perekayasaan sistematis untuk menempatkan ide khilafah dan para pejuangnya agar dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan.

Beberapa pencitraan negatif tentang khilafah dan para pengembannya terjadi melalui penjulukan-penjulukan  “Anti Kebinekaan”, “Benih Radikalisme”, “Meresahkan Masyarakat” dan “Pemecah-belah”, yang popular dipromosikan oleh media massa dan para tokoh yang antiIslam. Maka, dengan hal tersebut, citra khilafah sebagai ajaran Islam dan solusi problematika yang akan mewujudkan rahmatan lil-‘alamin tenggelam berganti menjadi permusuhan terhadap ide khilafah dan pejuangnya serta menumbuhkan khilafahfobia, sekaligus membabat gerakan perjuangan khilafah.
(Sumber : Kompasiana.com tulisan Ipank Fatin A)

Demikian pula terhadap umat Islam dan ajarannya.  Ada upaya monsterisasi Islam dan penganutnya sehingga dominan kecurigaan terhadap aksi teror meneror ditujukan kepada kaum muslimin.  Sedangkan teror kepada ulama adalah aksi dari perilaku "orang gila".

Padahal Islam tidaklah mengajarkan kekerasan dalam menyampaikan risalah-Nya.  Cukuplah ayat berikut menjadi bukti bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin.

وَما أَرْسَلْناكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Wallahualam bisshawab. [MO]

Posting Komentar