Oleh Evasatriyani

Mediaoposisi.com- Belum lama ini, tepatnya dipenghujung bulan Januari 2018, lagi publik dikagetkan dengan adanya kasus pelecehan seksual. Seorang pasien wanita di rumah sakit Nasional Hospital, Surabaya menjadi korban pelecehan seksual paska dirinya menjalani operasi kandungan. Ini merupakan kali kedua, setelah sebelumnya juga terungkap kasus pelecehan seksual di rumah sakit yang sama, yang menimpa seorang wanita calon perawat.

Ironinya tempat di mana seharusnya pasien mendapatkan perawatan dan layanan kesehatan, justru di dalamnya ada kejahatan yang siap mencengkeram pasien. Kasus pelecehan seksual sangat marak terjadi di negeri ini, mulai di tempat kerja, sekolah, di jalanan umum, angkutan umum, hingga rumah sebagai tempat berlindung terakhir.

Keamanan dan ketenangan menjadi barang mahal saat ini. Bagaikan tubuh yang sakit, masyarakat saat ini juga mengalami sakit kronis. Penyakit seperti pelecehan seksual ini merusak tatanan kehidupan sosial di masyarakat.

Dalam hal ini, interaksi sosial masyarakat sangat menentukan keberlangsungan eksistensinya. Jadi, interaksi sosial masyarakat terjadi karena empat hal. Pertama, ada individu; kedua, sekumpulan pemikiran yang diadopsi di tengah-tengah masyarakat; ketiga, perasaan yang sama di masyarakat; dan keempat sistem/ aturan hidup yang diterapkan untuk mengatur berbagai interaksi masyarakat.

Dari situlah akan tampak bahwa jika individu yang mendominasi masyarakat terdiri dari banyak individu yang tidak takut terhadap Tuhannya (tidak bertakwa), maka sakitlah masyarakat itu. Ketika pemikiran rusak yang memperturutkan hawa nafsu menguasai masyarakat, berupa HAM, kapitalisme, demokrasi, dan budaya serba boleh (permissive), maka amar ma'ruf nahi munkar tidak berjalan dan hilanglah kontrol masyarakat. Masyarakat yang sakit pun bertambah parah, tatkala negara menjadi pintu gerbang besar terbukanya berbagai kemaksiatan dengan legal, tanpa sanksi yang tegas.

Realita masyarakat seperti itu selalu dialamatkan kepada dunia barat. Meskipun pada perkembangannya kini bukan sekedar potret yang terjadi di negara-negara barat. Namun, telah berhasil diadaptasi oleh masyarakat Indonesia secara halus dan penuh tipu daya. Sehingga, masyarakat Indonesia telah terbaratkan dengan gaya hidup sekuler, liberal, pragmatis, dan hedonis. Semua hal itu terjadi dikarenakan dunia barat dan dunia ketiga hari ini, termasuk Indonesia lebih memilih menerapkan sistem kapitalisme sekuler sebagai landasan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Sistem kapitalisme sekuler adalah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, yang membuang aturan Pencipta dalam mengatur masyarakat. Dari sistem ini lahirlah  4 nilai kebebasan yakni kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berkepemilikan, dan kebebasan bertingkah laku. Yang telah jelas merusak individu, pemikiran, dan perasaan yang ada pada masyarakat cepat atau lambat.

Interaksi sosial masyarakat didominasi oleh kebebasan berperilaku yang sangat individualistik dan materialistik. Standar halal dan haram tidak lagi dipedulikan. Terganti dengan asas manfaat dan keuntungan materi yang sesaat. Atas nama kebebasan bertingkah laku, masyarakat terjebak dalam pemenuhan aspek seksual secara bebas yang menghilangkan akal sehat. Selain itu, pemenuhan aspek seksual secara halal melalui jalur pernikahan terkesan dipersulit.

Tak dapat dipungkiri, bahwa secara material negara-negara barat adalah negara-negara maju. Namun, disisi lain  negara barat adalah masyarakat yang sakit secara psikologis maupun sosial. Kriminalitas, seks bebas nan liar, tindakan bunuh diri, kekerasan dalam rumah tangga, alkohol dan narkoba hingga stress dan depresi adalah jenis penyakit kronis yang telah lama diderita oleh masyarakat barat. Maka, sungguh tak layak negeri muslim terbesar ini menjadikan barat sebagai kiblat peradaban.

Jika Amerika dan negeri barat lainnya menghabiskan ratusan juta dolar untuk penelitian dalam mengatasi problem sosial di masyarakatnya, maka dalam Islam tidaklah demikian. Cukuplah mengambil seluruh perangkat aturan Allah yang bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ Sahabat, dan Qiyas sebagai aturan yang dipakai dalam seluruh aspek kehidupan.

Islam adalah penyembuh satu-satunya bagi masyarakat yang dilanda sakit, karena Islam punya solusi yang mengakar dan menyeluruh untuk membentuk masyarakat sehat lahir bathin. Akidah dan hukum-hukum Islam telah menjaga 8 hal yang ada dalam masyarakat, yakni: memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara keturunan, memelihara harta benda, memelihara kehormatan, memelihara keamanan, dan memelihara negara.

Ironinya, di negeri mayoritas muslim ini, Khilafah sebagai ajaran Islam yang mulia justru mengalami monsterisasi bahkan dikriminalisasi. Umat muslim dibuat takut dan tabu untuk membicarakannya, apalagi memperjuangkannya. Padahal, sebagaimana ikan yang habitatnya hidup di air, maka fitrahnya umat Islam hanya bisa hidup sehat dalam habitat aturan Islam. Wallahu a’lam bishowab. [MO]

Posting Komentar