Oleh : Rizki Ika Fianti, S.Tr.Sos.

Mediaoposisi.com- Istilah yang sering disebut generasi Z adalah kids jaman now, yang antara dirinya dan gadget tidak ada jarak bahkan begitu rekat. Mulai dari anak-anak ia mampu mengoperasikan gadget dan mengakses internet, bahkan memiliki akun untuk menjangkau dunia yang jauh dari jangkauan mata. Hingga menginjak masa perkembangannya diisi dengan kegiatan-kegiatan duniawi berbau dunia maya, membenarkan apa kata dunia maya dan menyalahkan apa kata orang tua.

Begitu eratnya dunia maya dengan kids jaman now, mulai dari mengakses situs video, akun media sosial, chating, dan apapun yang ditampilkan, hingga mengakses iklan-iklan yang berbau porno. Intensitas anak mengakses internet, menimbulkan dampak buruk yaitu munculnya kerenggangan hubungan anak dengan lingkungan sosialnya, terutama orang tua yang sulit mengawasi aktivitas anaknya karena adanya blocking dari anak terhadap orang tua.

Bahaya dari aktivitas kids jaman now ini bukan hanya intensitas waktu yang dihabiskan untuk menyelami kehidupan maya, tetapi lebih dari itu yaitu mengakses konten-konten yang sangat tidak mendidik. Menjangkau lepas dunia maya tanpa batas negara sekalipun membuat bahaya semakin meningkat apalagi yang dipertontonkan media itu gambar atau video dewasa yang dapat menstimulasi anak untuk melakukannya juga dalam bentuk penampilan maupun perilaku yang dimunculkan dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena LGBT yang digadang-gadangkan Amerika Serikat pada akhirnya meracuni masyarakat Indonesia, tidak hanya meracuni orang dewasa tetapi juga anak-anak yang dikatakan kids jaman now tersebut. Apalagi semenjak MK mengeluarkan putusan kontroversi yaitu dengan ditolaknya gugatan terkait Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki kewenangan untuk merumuskan tindak pidana baru sebab kewenangan tersebut berada di tangan presiden dan DPR, dan MK menyebutkan bahwa hal tersebut tidak boleh masuk ke dalam wilayah politik hukum pidana.

Hitungan dua tahun terakhir di Provinsi Riau, penyebaran HIV/AIDS terutama kalangan LGBT semakin meluas, dari data yang awalnya terjadi 0,1 persen kini meningkat menjadi 0,7 persen penularannya. Demikian disampaikan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Riau dr. Sri Suryaningsih MSc-Ph. Data yang dihimpun dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini, menunjukkan bahwa kelompok LGBT cenderung meningkat dalam penyebaran penyakit yang mematikan itu. (detik.com, 4/12/2017).

Berdasarkan fakta di atas, dapat dibayangkan apabila setiap daerah provinsi di Indonesia mengalami fenomena yang sama dengan daerah Provinsi Riau, dapat dipastikan bahwa beberapa tahun ke depan kaum LGBT akan meratakan penduduk Indonesia, dengan berbagai penyakit seksual yang ada. Juga penyakit kanker anus yang senantiasa meningkat dari semenjak dilegalkannya LGBT.

Kids jaman now menganggap bahwa aktivis LGBT ini adalah hal yang wajar atau lumrah. Dengan berdalih hak asasi manusia, juga merasa fitrahnya sebagai manusia untuk memiliki perasaan cinta terhadap sesama manusia sekalipun itu salah pemaknaannya. Padahal dibalik rasa pemuasan syahwat yang mereka salah salurkan, terdapat penyakit dan azab yang menanti di ujung kehidupan mereka.

Apabila kita melihat dari sudut pandang Islam, kemaksiatan yang dilakukan seseorang akan berimbas pada yang lainnya, bukan hanya kepada pelaku tetapi pada lingkungan sekitar bahkan taraf negara. Maka ketika negara Islam tegak mengatur kepengurusan ummat, tidak akan pernah ada pembiaran terhadap perilaku menyimpang seperti yang demikian, bahkan negara akan mencegahnya dan menciptakan suasana kondusif untuk lahirnya generasi unggulan ber-visi pemimpin peradaban yang senantiasa memikirkan bagaimana keberlangsungan atas terciptanya kemaslahatan umat dan berkarya untuk meninggikan peradaban Islam yang gemilang.

Betapa indahnya ketika kondisi yang dirindukan selama ini hadir di tengah-tengah rumitnya permasalahan sosial masyarakat, kaum LGBT diberantas habis dan penyakit menular seksual akan terhenti dengan adanya berbagai kebijakan yang akan membuat aktivis LGBT jera dan akhirnya bertaubat. Sehingga seorang ibu tanpa rasa khawatir mendidik dan membesarkan anak-anaknya dalam suasana yang kondusif, juga keimanan dijamin terjaganya.  Maka terciptalah kids jaman now yang memiliki kepedulian tinggi terhadap permasalahan lingkungannya, dan menganggap bahwa permasalahan LGBT bukanlah hal yang lumrah serta harus segera di atasi permasalahannya. [MO]

Posting Komentar