Mediaoposisi.com| Saat ini, Islam disinyalir merupakan agama yang dikebiri oleh penguasa, pasalnya Islam hanya digunakan sebagai identitas pemanis semata. Sejatinya, Islam memiliki ajaran tentang hokum, sosial dan ekonomi. Patut disayangkan bila elite negeri ini tidak mengindahkan ini.

Berdasarkan penelusuran Mediaoposisi.com, pengebirian ini semakin jelas dalam era rezim kontroversial, Jokowi.

Paradoks Penguasa
Sebelumnya, dikutip dari Antara presiden Jokowi saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017) mengecam pihak pihak yang mencoba menyatukan antara agama dalam politik. Pemisahan agama dari politik merupakan salah satu indikasi dari Sekulerisme.

"Dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik," kata Jokowi.
Jokowi saat itu menyinggung aksi 212 yang sukses menjatuhkan elektabilitas sahabat dekatnya, Ahok. Ahok sendiri diprotes jutaan umat Islam akibat penistaan agama yang ia lakukan di Jakarta.

Gagasan nyeleneh penguasa juga diamini oleh sosok yang dianggap cendekiawan, Syafii Maarif. Sosok kontroversial yang juga dekat dengan Ahok ini menilai saat ini banyak pihak yang menggunakan agama sebagai alat politik untuk berkuasa.

"Agama itu jangan dijadikan alat politik. Saya tegaskan agama jangan dijadikan alat politik," tegas pria yang akrab disapa Buya ini di Jakarta, Sabtu (8/4/2017). 
Anehnya, pihak pihak elite yang dekat dengan penguasa justru menggunakan agama sebagai alat untuk memuaskan nafsu politik.  Bukti tidak konsisten ? Siapa sajakah mereka ?

Agamanisasi Pilkada

1. Anton Charliyan
Mantan Kapolda Jabar ini adalah sosok yang pernah menuai kontroversi karena sempat menjadi tokoh di ormas Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI). GMBI sendiri dikenal sebagai ormas yang memancing dengan FPI beberapa waktu lalu hingga menyebabkan puluhan orang terluka. Sayangnya tidak ada tindakan tegas terhadap GMBI. Disinyalir hal ini karena kedekatan GMBI dengan kepolisian yang diwakili oleh Anton Charliyan.

Calon Wakil Gubernur dari PDIP ini dikabarkan mendadak islami dengan mengunjungi pesantren. Saya sedang punya hajat (nyalon pilkada) juga makanya ke pesantren-pesantren, sekalian minta doanya juga dari ulama," ujarnya di Pesantren Al Fadhilah, Kecamatan Limbangan, Garut, Jawa Barat, Jumat (22/12/2017).

Mendekati dengan kalangan pesantren bukan yang pertama kali dilakukan Anton. Menurutnya, doa dari ulama merupakan hal luar biasa.

"Tapi tunggu pengumuman dulu, katanya awal Januari, semoga bisa masuk kandidat kuat dari PDIP," ujarnya sebelum resmi dicalonkan saat itu.

Baru baru ini, Anton secara sepihak mengklaim dirinya adalah keturunan pesantren. Tujuannya, tak lain melanggengkan syahwat politiknya dengan mencari dukungan umat Islam, pasalnya sosok ini disinyalir mengkriminalisasikan Habieb Rizieq.

“Siapa bilang ada masalah? Saya sendiri masih darah Pesantren Suryalaya (pondok pesantren kondang di Tasikmalaya, red),” tegas Anton yang ketika memimpin Polda Jabar sempat dituduh mengkriminalkan Habib rizieq Shihab, Minggu (7/1).

2. Romahurmuzy
Romahurmuzy , sosok yang pernah mendukung Ahok sehingga menyakiti umat Islam mulai ancang ancang.Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di bawah kepemimpinan Romahurmuzy atau Romi, memastikan dukungan terhadap pasangan Tjahaja Purnama atau Ahok - Djarot Saiful Hidayat (Ahok - Djarot) pada Pilkada DKI 2017 putaran kedua.

"Kita sudah memastikan. Kita ke pasangan calon nomor dua," kata Ketua DPW PPP DKI Kubu Romy, Abdul Aziz Kamis (30/3)

Beredarnya baliho raksasa dengan fotonya yang menggunakan pakaian Islami di berbagai wilayah di Indonesia, tak pelak menjadi bukti bahwa agama dibawa bawa dalam politik. Hubungan PPP baik kubu Djan maupun Romy terhadap umat Islam sempat renggang akibat dukungan kontroversial kepada Ahok.

2. Jokowi
Penyebarluasan foto Jokowi yang sedang menjadi imam di Afghanistan seolah mengulangi kampanye Jokowi pada 2014 lalu. Saat itu beredar berbagai foto sosok controversial tersebut dengan menggunakan berbagai atribut Islam, menjadi imam dan sejenisnya. 

Fadli Zon menilai seharusnya Jokowi tidak banyak melakukan pencitraan. Fadli juga mempertanyakan kelayakan Jokowi menjadi pemimpin Indonesia.

“Kalau imam sholat kan biasa yah, presiden seharusnya imam dari rakyat Indonesia membawa apa yang diharapakan. Kalau jadi imam bagus-bagus aja. Saya kira itu pencitraan yang bagus lah," kata Fadli ,Selasa (30/1).

 Senada dengan Fadli, Fahri Hamzah menilai tindakan Jokowi adalah hal biasa dan tidak perlu didramatisir serta dikagumi.

“Jadi tidak perlu ada dramatisasi karena ini biasa-biasa saja," kata Fahri, Selasa (30/1/2018)

Jadi, masih enggan membawa bawa agama dalam politik? [MO]

Posting Komentar