Oleh; Ummu Nadzifah

Mediaoposisi.com- Pemerintah Suriah kembali melancarkan serangan ke Ghouta Timur. Alasan pemerintah dalam serangan ini adalah ‘memerangi terorisme’. Mereka  mengklaim ‘para teroris’ di Ghouta Timur menggunakan warga sipil sebagai tameng. Maka tidak heran jika korban dari warga sipil pun berjatuhan akibat serangan ini.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), jumlah korban tewas dalam serangan mencapai 520 jiwa (24/2). Sedangkan warga sipil yang terluka mencapai lebih dari 2500 orang. Data tersebut juga mengungkap, diantara korban tewas 127 anak-anak  dan 75 perempuan. (Republika.co.id)

Berdasarkan AFP, jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah karena bom juga menyasar  berbagai bangunan pelayanan kesehatan termasuk 13 fasilitas milik aktivis kemanusiaan Dokter Lintas Batas (Medecins Sans Frontieres).  Sementara pasokan makanan, air dan obat-obatan kian menipis akibat pengepungan rezim terhadap Ghouta Timur.

Bermula pada tahun 2011 sesudah apa yang disebut musim semi arab, serangkaian unjuk rasa anti pemerintah terjadi di berbagai Negara di Timur Tengah tidak terkecuali di Suriah.

Rezim menanggapi aksi-aksi ini dengan brutal dan penuh kekerasan. Sementara para pengunjuk rasa (pemberontak) menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi pemerintah adalah dengan mempersenjatai diri dan menggulingkan rezim. Kondisi ini berkembang menjadi perang saudara yang berkelanjutan.

Dukungan  Iran dan Rusia di pihak rezim Assad serta  Amerika Serikat dan negara –negara Arab dipihak pemberontak semakin memperkeruh persoalan ini.

Meski  Dewan keamanan PBB  telah menyetujui proposal gencatan senjata, akan tetapi aksi penyerangan belum berhenti. Bahkan mereka bersikukuh tidak akan mengendurkan serangan terhadap kelompok yang mereka sebut para teroris.
Runtuhnya kekhilafahan Islam menjadikan kaum muslimin terpecah menjadi lebih dari 50 negara. Kaum muslimin terbuai dengan kecintaan kepada Negaranya masing-masing dan melupakan penderitaan saudaranya di belahan Negara lain.

Mereka tidak memperdulikan jeritan saudaranya di Negara lain dengan alasan beda Negara. Inilah misi utama nasionalisme yaitu memecah kekuatan Islam. Padahal Islam memerintahkan kaum muslimin untuk tidak terpecah, Allah berfirma dalam  Qur’an Surat Ali Imran ayat 103 yang artinya: “Berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai.”

Tidak cukup memecah kaum muslimin dalam sekat kenegaraan, mereka juga memecah kaum muslimin dengan pelebelan teroris, radikal, fundamental dan lain-lain.

Narasi-narasi ditiupkan ke benak kaum muslimin untuk mencurigai kelompok-kelompok yang mereka sebut teroris, radikal, fundamental dan lain-lain yang notabene mereka juga muslim.

Perang Suriah adalah bukti nyata perang saudara yang tak kunjung usai. Siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dalam peristiwa ini?

Dalam hal ini kita bisa belajar dari peristiwa peperangan suku Aus dan Khazraj. Penyair suruhan Syas berhasil mempengaruhi jiwa sekumpulan kaum Anshor dari kalangan Aus dan Khazraj.

Syair jahiliyah telah berhasil mengarahkan mereka pada perasaan kebangsaan dan kepahlawanan. Mereka tenggelam dalam ego kesukuan dan melupakan bahwa mereka adalah sesama muslim.

Dalam situasi kritis ini Rasulullah datang bersama pasukan kaum muslimin untuk melerai mereka. Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai kaum muslimin, apakah karena seruan jahiliyah ini (kalian hendak berperang) padahal aku ada ditengah-tengah kalian. Setelah Allah memberikan hidayah Islam kepada  kalian. Dan dengan Islam itu Allah muliakan kalian dan dengan Islam Allah putuskan urusan kalian pada masa jahiliyah. Dan dengan Islam itu Allah selamatkan kalian dari kekufuran dan dengan Islam itu Allah pertautkan hati-hati kalian. Maka kaum Anshor segera menyadari bahwa perpecahan mereka adalah dari syaithan dan tipuan kaum kafir, sehingga mereka menangis dan berpelukan satu sama lain. Lalu mereka berpaling kepada Rasulullah SAW dengan senantiasa siap mendengar dan taat…” (Sirah Ibnu Hisyam juz 1/555).

Siapakah yang mampu perpertautkan hati kaum muslimin yang telah terpecah? Siapakah yang mampu menghapus sekat nasionalisme? Siapkah yang akan mampu mengusir kafir penjajah yang senantiasa intervensi di setiap urusan kaum muslimin, dimana kehadiran mereka alih-alih menyelesaikan masalah, mereka justru memperuncing perpecahan diantara kaum muslimin.

Dialah Sang Khalifah (pemimpin kaum muslimin) yang akan menyerukan persatuan diantara kaum muslimin dalam satu ikatan berdasarkan aqidah Islamiyah.

Dialah yang akan menghapus sekat-sekat nation state menjadi satu kekuatan adidaya yang ditakuti oleh bangsa-bangsa lain.

Diapun akan menumpas segala bentuk intervensi asing dan melindungi kaum muslimin dari segala ancaman Negara kafir. Sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim, “Sungguh seorang imam (Khalifah) itu adalah perisai yang dibelakangnya orang-orang berperang dan kepada Dia orang-orang berlindung.[MO]

Posting Komentar