Oleh: Ulfiatul Khomariah
(Mahasiswi FIB UNEJ, Freelance Writer, Pemerhati Sosial dan Politik)

Mediaoposisi.com- Baru-baru ini masyarakat kembali digemparkan oleh berita “Ayam Kampus” di beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia. Sejak beberapa waktu lalu, sejumlah daerah yang ada di Indonesia telah berusaha menutup lokalisasi yang ada di daerahnya masing-masing. Tujuannya adalah untuk menghilangkan aktivitas prostitusi yang menjadi penyakit di negeri ini. Namun sayangnya, sampai saat ini geliat prostitusi masih terus ada dan terus menyebarkan virusnya hingga menerobos kaum terdidik/terpelajar di kampus.

Mayoritas sudah memahami bahwa negara Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia. Namun ironisnya, kebesaran itu berbanding terbalik dengan rekor prestasi moralnya. Sejak lama, di dunia pelajar dikenal istilah yang nampaknya bagus tapi sesungguhnya sangat menyedihkan. Istilah “Ayam Kampus”, sebuah cap untuk wanita panggilan yang duduk di bangku perkuliahan, dan “Ayam Abu-Abu” cap untuk siswa yang masih duduk di bangku SMA. Secara tidak langsung istilah itu menggambarkan fenomena memprihatinkan di balik dunia pelajar dan Mahasiswa.

Sebagaimana yang terjadi kepada salah satu Mahasiswi yang masih menggelar status kuliah semester empat di salah satu kampus swasta yang ada di Semarang. Sebut saja namanya Kenanga (samaran), ia menjadi salah satu partner merengguk birahi. Selain menimba ilmu, ia juga melayani jasa melepas syahwat para lelaki berhidung belang. Tentu dengan imbalan sejumlah rupiah yang nominalnya telah disepakati. Bahkan sudah lebih dari setahun Kenanga menjalani profesi ganda, yakni menjadi Mahasiswi sekaligus praktik plus-plus berbayar. (TribunJatim.com 05/02/2018).

Jika melihat sebelumnya, kasus seperti ini sebenarnya kerap kali terjadi. Baik di kota-kota besar hingga ke kota-kota kecil lainnya. Baik yang terekspos media ataupun yang tidak. Dan sayangnya, urusan moral semacam ini belum menjadi perhatian serius bagi sejumlah pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan dan orangtua.

Jika kita terulusi lebih mendalam, ternyata biang kerok dari semua ini tidak lepas dari yang namanya sistem ekonomi kapitalisme, sistem pendidikan yang sekuler, serta sistem sosial yang liberalis (menganut kebebasan). Ini semua berasal dari sistem yang bobrok yang juga melahirkan generasi yang bobrok.

Kehidupan masyarakat yang konsumtif dan serba hedonis adalah akibat dari penerapan kapitalisme yang lahir dari demokrasi. Kehidupan masyarakat yang konsumtif dan hedonis membutuhkan biaya tinggi untuk tetap bisa eksis. Apalagi seorang mahasiswi yang hidup jauh dari keluarga dan memiliki keterbatasan ekonomi, maka menjual diri atau menjadi “Ayam Kampus” menjadi salah satu pilihan untuk menopang kebutuhan hidupnya.

Sedangkan sistem pendidikan sekuler yang dianut di negeri ini telah berhasil disuntikkan oleh barat ke dalam tubuh kaum muslim. Tegaknya sistem kehidupan  sekuler adalah pangkal masalah dari berbagai krisis amoral generasi. Sekulerisme oleh Muhammad Qutb (1986) dalam bukunya Ancaman Sekulerisme diartikan sebagai iqamatu al hayati 'ala ghayri asasin mina al dini, yakni dibangunnya struktur kehidupan diatas landasan selain agama (Islam). 

Apakah berbagai kerusakan dan kebobrokan yang ditimbulkan oleh sistem tersebut tidak membuat kita sadar? Apakah kita baru tersadar setelah generasi hancur dan kehilangan masa depan? Jika itu yang terjadi, maka sungguh penyesalan yang sangat terlambat! Wallahu a’lam bish-shawwab. [MO]

Posting Komentar