Umat Islam




Oleh Don Zakiyamani



Mediaoposisi.com- Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.02:249)

Dalam ayat tersebut Allah Azza Wa Jalla memberi kita pelajaran sejarah. Sebuah realitas masa lalu yang akan terus terjadi bila kita tidak berbenah diri. Sebuah gambaran bagaimana minoritas dapat mengalahkan mayoritas dalam segala hal. Historis kalahnya mayoritas atas minoritas bukan menyuruh mayoritas harus menjajah minoritas, akan tetapi ayat diatas merupakan cerminan bagi umat Islam di Indonesia hari ini. 

Dalam sabdanya Nabi Muhammad pernah pula memberi peringatan kepada umat Islam. Bahwa umat Islam akan menjadi makanan yang diperebutkan, umat Islam seperti buih dilautan dan sebabnya karena cinta dunia dan takut mati (HR Abu Dawud 3745)

Kita ketahui bersama, dalam momen politik disetiap levelnya, umat Islam memang diperebutkan. Suara umat Islam sangat diharapkan walaupun oleh partai sekuler dan sosialis. Suara umat Islam sangat diharapkan memilih kepala daerah hingga kepala negara yang bahkan tidak pernah shalat jama'ah maupun yang kafir. Ajang pilkada malah lebih konyol lagi, ulama menjadi rebutan para kontestan namun dicampak setelah kemenangan diraih.

Dalam hadist itu juga disebutkan umat Islam seperti buih dilautan, ya umat Islam di Indonesia memang demikian adanya. Belum selesai satu isu datang isu lain, belum reda ombak yang satu datang ombak lain. Umat Islam terus terombang ambing oleh isu, Jerussalem belum kelar, umat Islam disibukkan dengan LGBT dan isu-isu lainnya. Akibatnya tak satupun persoalan diselesaikan, akibatnya musuh-musuh Islam tak pernah gentar dengan umat Islam.

Pernyataan Nabi soal buih dilautan kini telah terjadi, umat Islam dipandang sebelah mata. Mana ada buih yang mampu mengalahkan ombak, mana ada buih yang ditakuti maupun disegani. Lihatlah bagaimana demonstrasi diseluruh dunia menentang pernyataan Donald Trumph, umat Islam diseluruh dunia mengecam perpindahan kedutaan Amerika Serikat. Gentar dan takutkah Amerika Serikat? Mereka tidak takut sedikitpun, bagi mereka umat Islam hanya buih dilautan.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, negeri dengan mayoritas pemeluk Islam. Sewajarnya negeri ini menjadi pemimpin dunia, menjadi negara maju yang menjadi teladan semua negara-negara didunia. Namun fakta malah berkata sebaliknya, buih dilautan terus diombang ambingkan gelombang kehidupan. Umat Islam seperti tiada berguna dan tiada arti di negeri mereka sendiri. Bukannya menjadi pengambil kebijakan, umat Islam malah selalu menjadi korban kebijakan. Ada apa sebenarnya? Ternyata dalam persoalan ini Allah Azza Wa Jalla telah memberi solusi.

Tanpa disadari umat Islam, Allah Azza Wa Jalla telah memberi solusi, bahkan jauh sebelum masalah muncul di Indonesia. Solusi yang wajib ditegakkan bukan sekedar dijalankan apalagi beban. Solusi tersebut ialah memenuhi panggilanNya, panggilan yang kita dengar 5 kali setiap harinya. Panggilan menegakkan shalat tersebut kemudian diberi isyarat kemenangan. Menegakkan shalat terutama dengan mengisi shaf-shaf di mesjid adalah jalan menuju kemenangan. Sayangnya panggilan menuju kemenangan tersebut masih dianggap sepele. Mesjid-mesjid masih kosong saat subuh hingga isya, perkara shalat masih dianggap ritual ibadah biasa saja sehingga tak banyak yang menegakkan shalat.




Begitu banyak teori sosial dan ekonomi serta politik yang dipaparkan para ahli terkait Indonesia. Begitu banyak pula solusi yang diberikan, pergantian rezim dan sistem terus diwacanakan serta dilaksanakan. Namun bukannya kemenangan yang diraih malah kemunduran yang didapat. Umat Islam harus kembali kepada Al-Qur'an dan Al-Hadist (Sunnah Nabi), agar selamat dunia dan akhirat. Pada akhirnya umat Islam akan meraih kemenangan, dan menegakkan shalat adalah jalannya. Mari memenuhi panggilan kemenangan yang dikumandangkan muadzin lima waktu setiap harinya. Dengan menegakkan shalat umat Islam umumnya dan umat Islam Indonesia khususnya bukan buih dilautan.

Menegakkan shalat bukanlah menjalankan shalat semata akan tetapi tercermin dalam setiap ucapan dan tindakan kita. Seorang muslim yang menegakkan shalat akan selalu mengisi shaf di mesjid dan tercermin pula dalam ucapan dan tindakannya diluar shalat. Kisah Shalahuddin Al-Ayubi dalam perang salib merupakan contoh historis yang patut diteladani. Meski kalah secara kuantitas namun pasukan Islam menang dalam kualitas.

Malam sebelum perang terjadi, Shalahuddin menyamar dan mengunjungi tenda-tenda pasukannya. Tenda pertama beliau dapati seorang muslim sedang shalat tahajjud, tenda berikutnya beliau dapati sedang membaca dan mengkaji Al-Qur’an. Tenda berikutnya beliau dapati pasukannya sedang bersalawat, malam itu Shalahuddin penuh keyakinan bahwa esok pasukannya akan meraih kemenangan. Keyakinan beliau dapati atas dasar aktifitas yang dilakukan pasukannya. Mereka muslim yang menegakkan shalat, bukan hanya shalat wajib berjama’ah, mereka juga menjaga shalat mereka dengan amalan tambahan.

Jika umat Islam kembali mengisi shaf-shaf di mesjid dan menegakkan shalat maka benarlah janji Allah Azza Wa Jalla. Umat Islam, terutama di Indonesia akan meraih kemenangan, baik dalam bidang ekonomi maupun politik. Muslim yang menegakkan shalat tidak akan memberi makan dan minum anak-istrinya dari hasil curang dan korupsi. Muslim yang menegakkan shalat akan membumikan ekonomi Islam, menjauhi riba dan selalu berbagi serta mensucikan hartanya dengan zakat, infaq dan sedeqah.

Muslim yang menegakkan shalat hanya takut pada Allah Azza Wa Jalla, tidak takut pada pimpinan parpol apalagi pada politisi yang korup. Muslim yang menegakkan shalat tidak akan mau disuap oleh uang, beras, sarung, maupun sembako dalam memilih pemimpin daerah maupun presiden. Bila muslim di Indonesia benar-benar menegakkan shalat maka 2019 akan menjadi milik umat Islam dan kemenangan akan diraih bangsa Indonesia.


Posting Komentar