MAHALNYA HARGA IDEALISME PARPOL ISLAM
Oleh : Nurus Sa’adah (anggota komunitas revowriter)

Mediaoposisi.com| “PKS Akhirnya Pilih Gus Ipul”. Demikian bunyi headline Jawapos (10/1). Koalisi Gerindra, PAN dan PKS di pilgub Jatim 2018 akhirnya benar-benar bubar setelah PKS resmi mendeklarasikan dukungannya pada Gus Ipul. Keputusan ini terbilang cukup mengagetkan, karena dua partai yang seringkali berseberangan, PDIP dan PKS berkoalisi di Pilgub Jatim. Sebagaimana yang diketahui PDIP adalah salah salah satu partai yang berulang kali menyakiti hati umat  dengan menjadi pendukung penista agama dan berada di garda terdepan dalam pengesahan UU Ormas yang dijadikan rezim sebagai alat pemukul bagi ormas/aktivis kritis.

Runtuhnya idealisme dalam suasana pesta demokrasi bukanlah hal yang baru. Sudah berkali-kali masyarakat dipertontonkan dengan sikap kompromistis partai untuk meraih tujuannya. Gelombang sekularisasi yang dahsyat membuat partai-partai politik yang menisbatkan dirinya sebagai partai Islam seolah tak punya pilihan. Alih-alih mempertahankan identitasnya sebagai partai pengusung ideologi Islam, malah kian menjauhinya. Bahkan ‘kerisihan’ mereka akan islam semakin menjadi-jadi, awalnya ingin memperjuangkan islam malah dengan ikhlas menjadikan demokrasi sekuler sebagai tiang penyangga alternatif pengganti islam ketika mereka mulai ragu akan islam sebagai satu-satunya penyangga kehidupan. Bahkan, partai-partai politik Islam ini dengan rela hati berkoalisi dengan partai-partai sekular yang dulu dianggap sebagai rivalnya. Bahkan setelah calon presiden/wakil presiden terpilih, mereka menjadi pendukung dan pelindung pemerintahan. Sebagai imbalannya, partai-partai politik Islam mendapatkan kedudukan/jabatan di pemerintahan dan kompensasi lainnya.

Idealisme memang menjadi sangat mahal dan menjadi barang langka di sistem Sekuler saat ini. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan ini telah mengabaikan syara sebagai satu-satunya pijakan seorang muslim dalam beraktifitas yang harusnya dibawa di setiap tempat setiap waktu. Akibatnya idealisme Islam menjadi satu hal yang dipertaruhkan. Ketika sikap pragmatis/realistis lahir, akhirnya jika melihat fakta rusak yang tidak sesuai dengan islam, bukan fakta nya yang diubah agar sesuai dengan islam, namun Islam lah yang harus mencocokkan diri dengan fakta tersebut.  Jika realita nya duduk di kursi kekuasaan membutuhkan merapat pada koalisi partai besar, ya mau bagaimana lagi. Perkara saling berkompromi kebijakan antara partai Islam dan sekuler itu urusan nanti. Pada akhirnya, Islam hanya menjadi sematan, tidak mencerminkan tujuan dan goal perjuangan.

Jika ditelisik lebih dalam, hal-hal yang menyebabkan sikap pragmatis parpol islam adalah:

Pertama: terjebak dalam logika berpikir demokrasi, yakni meraup suara sebanyak-banyaknya agar mampu meraih tampuk kekuasaan. Keterjebakan ini telah mendorong organisasi dan partai Islam mentransformasikan dirinya menjadi partai terbuka (partai sekular) agar bisa menarik konstituen sebanyak-banyaknya.

Kedua: termakan oleh isu “syariah tidak laku”. Isu “syariah tidak laku dijual” yang dihembuskan musuh-musuh Islam ternyata cukup efektif untuk mengubah orientasi dan taktik perjuangan partai-partai Islam. Akibatnya, tidak ada satu pun organisasi dan partai Islam yang menyerukan seruan agung dan mulia ini. Akhirnya, tidak bisa dibedakan lagi mana partai Islam dan mana partai non-Islam, kecuali sekadar label belaka.

Sesungguhnya sebagai seorang muslim dan bagian dari anggota masyarakat, sudah sepatutnya kita bertanya, apalagi yang diharapkan dari sekulerisme yang telah memporakporandakan negeri ini? Berbagai persoalan datang silih berganti tak kunjung berhenti, mulai dari korupsi, lebarnya kesenjangan sosial, meningkatnya angka kemiskinan, menggunungnya bunga utang, ganasnya predator seksual, menjamurnya virus elgebete yang menghancurkan generasi, mahalnya harga kebutuhan pokok, kesehatan , pendidikan, langkanya rasa aman, privatisasi sumber daya alam, dll. Jika kapitalisme sekuler telah gagal membentuk peradaban dunia yang sejahtera dan beradab, kemana lagi harapan perubahan akan dilabuhkan?

Tentu bukan kepada sosialisme komunis, karena ia pun telah terbukti gagal. Satu-satunya harapan hanyalah pada Islam, karena ia bukan sekedar agama ritual namun juga aturan hidup. Islam hadir melahirkan rahmatan lil ‘alamin, bukan rahmatan lil muslimin, rahmat bagi seluruh alam, bukan rahmat untuk kaum muslimin saja. Sungguh wajar jika dunia dan khususnya negeri ini menaruh harapan pada Islam, karena dengan spirit Islam lah negeri ini bisa merdeka dari penjajahan Jepang, Inggris dan Belanda beratus-ratus tahun lamanya, dan karena spirit Islam pula lah negeri ini merdeka atas berkat rahmat Allah SWT.

Maka Islam kaffah adalah satu-satunya yang layak menjadi pijakan perjuangan umat, terlebih parpol islam agar benar-benar mampu mewujudkan perubahan dan kebangkitan hakiki bagi negeri. Idealisme Islam harus kembali pada jiwa kaum muslimin, khususnya parpol yang menyemat Islam sebagai identitasnya. Aqidah islam harus tertancap kuat, hingga menghapuskan pola pikir pragmatis dan kompromistis terhadap fakta rusak. Kemudian mengerahkan segenap daya upaya untuk merubah fakta rusak agar sesuai dengan syariat.

Umat Islam saat ini sudah muak dengan basa-basi pencitraan para politisi yang mengemis suara namun dibayar derita pada akhirnya. Jangan sampai rakyat gigit jari untuk yang ke sekian kalinya. Menaruh harapan perubahan namun jauh dari kenyataan bagai pungguk merindukan bulan. Karena permasalahan sesungguhnya bukan pada bergantinya rezim, namun juga sistem yang menjadi pijakan kebijakan.

Sudah saatnya parpol Islam hadir menampilkan wajah politisi muslim hakiki, yang memiliki fikroh (ide) dan thoriqoh (metode) sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah, mendidik umat dengan aqidah dan syariah, mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia, dan melakukan fungsi muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa), mengungkap makar negara-negara kafir imperialis terhadap Dunia Islam serta membongkar persekongkolan para penguasa dengan negara kafir imperialis dalam memerangi Islam dan kaum Muslim, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, insyaa Allah parpol Islam hakiki tidak hanya meraup kemenangan di hadapan manusia karena mampu membimbing umat kepada jalan hidup yang benar dan mewujudkan kebangkitan hakiki dan mulia, namun juga meraup kemenangan di hadapan Allah SWT.


Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali-Imran : 104) [MO]

Posting Komentar