Politik yang Menggelitik dan Mencekik
Oleh: Novita Fauziyah

Mediaoposisi.com| Tahun 2018 menjadi pembuktian bagi para aktor panggung perpolitikan di Indonesia lewat pilkada serentak. Bahkan suasana menjelang perhelatan tersebut sudah mulai terasa di tahun sebelumnya. Berbagai kejutan terus bermunculan. Isu dan bola panas menggelinding siap menghadang lawan, tak peduli meski dulu kawan. Yang ada hanya kepentingan. Dari mulai mahar politik sampai black campaign.

Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat untuk pilkada 2018 sudah ada beberapa kasus mahar politik yang muncul ke publik, seperti pilkada Jawa Barat, Jawa Timur, Cirebon (www.kompas.com). Selain itu kejutan yang muncul di panggung pilkada tahun ini yakni adanya koalisi partai di beberapa wilayah yang pro terhadap UU Ormas dan yang kontra. Ya begitulah, jika kepentingan sudah menjadi tujuan. Apapun bisa dilakukan.

Publik juga tentu ingat fenomena sandal jepit dan kaos oblong yang sangat ramai diperbincangkan. Seolah mengingatkan kembali citra yang dulu pernah melekat di benak masyarakat. Tak lama setelah itu publik ramai membincangkan pernyataan hoax yang membangun. Pernyataan yang katanya hanya mengetes reaksi masyarakat. Benar-benar menggelitik dengan peristiwa akhir-akhir ini. 

Rakyat Tercekik
Kondisi lain di tengah memanasnya suhu perpolitikan dan hal yang sempat membuat menggelitik, rupanya ada sesuatu yang justru terkadang tak mendapat perhatian mendalam. Rakyat yang katanya sebagai sumber kedaulatan seolah suaranya seperti tak berarti saat benturan kepentingan di depan mata. 
Sejak akhir tahun lalu, rakyat merasakan “makin tercekik”. Dari mulai tarif dasal listrik, LPG melon, bawang merah anjlog, telur meroket dan yang terbaru adalah pembukaan keran impor beras di saat menjelang musim panen raya.  Ada apa? adakah udang di balik beras?. Kebijakan ini menyita perhatian besar bagi masyarakat tak terkecuali bagi petani di berbagai daerah yang menjerit.

Rapor merah terus tercatat di berbagai bidang termasuk ekonomi. Harga kebutuhan pokok yang naik, sementara daya beli masyarakat makin turun. Rekor pertumbuhan ekonomi yang katanya diprediksikan akan meroket faktanya kini makin terpuruk. Menurut data dari Bank Indonesia, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Agustus 2017 tercatat USD 350,5 miliar atau tumbuh 4,7%. Sementara posisi ULN sektor publik tercatat USD 174,9 miliar atau tumbuh 9,5%. Belum lagi cerut marut di bidang yang lain. Di bidang sosial kemasyarakatan, pasca putusan MK terhadap penolakan perluasan pasal zina dan LGBT masyarakat makin dibuat menangis melihat fakta LGBT yang makin marak di berbagai wilayah. Tantangan dalam mendidik generasi makin naik. 

Harapan Semu
Berbagai kondisi yang makin terpuruk membuktikan bahwa ada yang kurang beres di negeri ini. Ganti kepemimpinan tetapi faktanya kondisi tak berubah menjadi lebih baik. Di tengah carut marut ini justru masyarakat dihadapkan kembali pada sosok-sosok pilihan yang katanya akan mewakili suara rakyat. Janji-janji diumbar mesra untuk mengambil hati masyarakat. Tetapi apakah benarkah demikian? Apakah fakta sebelumnya belum cukup untuk membuktikan bahwa itu semua hanya harapan semu?

Kini saatnya masyarakat menyadari kegagalan dalam berbagai lini kehidupan. Semua akibat sekulerisme kapitalisme yang mencengkram kuat kehidupan negeri ini. Kehidupan yang diatur berdasarkan akal dan hawa nafsu manusia yang justru menimbulkan kerusakan. Mari kita renungkan kembali kedudukan kita sebagai seorang hamba yang memang hanya taat kepada aturanNya. Saatnya berubah menjadi menjadi lebih baik dengan mengambil aturan dari yang Maha Baik , aturan dari Allah SWT. [MO]

Posting Komentar